Kamis, 19 September 2013

Jangan Salahkan (Ilmu) Pengetahuan

Jangan Salahkan (Ilmu) Pengetahuan.jpg
Pdt. Bigman Sirait
Follow @bigmansirait
“Takut dan hormat akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan,
tetapi orang-orang bodoh benci akan kebijaksanaan dan didikan.” (Amsal 1:7)
ILMU dan iman merupakan entitas yang terkesan berlawanan. Meskipun sejatinya tidaklah demikian. Tapi karena klaim banyak pembicara dan tidak sedikit para pengkhotbah, dugaan miring itu bergulir menjadi semacam “kebenaran”, meski sebenarnya tidaklah tepat. Ada hal menarik yang dapat ditarik dari Amsal 1:1-7 ini. Berbanding terbalik dengan banyak para pengkhotbah tadi, penulis Amsal justru menunjukkan sesuatu yang berlainan sama sekali. Pengetahuan dilihatnya bukan sebagai sesuatu yang haram, dan karenanya patut disingkirkan, atau setidaknya diletakkan jauh-jauh dari iman. Menarik, penulis Amsal justru menstimulus, merangsang orang justru untuk memiliki pengetahuan. Pengetahuan bagi pengamsal bukan barang haram, sebaliknya, justru sebuah keharusan. Tak sedikitpun penulis Amsal coba mengonfrontasikan pengetahuan dengan iman. Sebuah tindakan yang justru berbeda sama sekali dengan banyak komentator kitab suci (baca pengkhotbah) yang kerap mengonfrontasikan iman dengan pengetahuan. Seolah-olah iman tidak memerlukan pengetahuan, begitu pula sebaliknya.
Benar, pengetahuan memang tidak boleh mengantikan iman, tapi bukan berarti mengonfrontasikan keduanya adalah tindakan yang benar. Sebab kesejatian sebuah pengetahuan tidak ada, dan tidak akan salah, jika dibangun di atas dasar yang benar, yakni iman yang benar kepada Allah. Tidak dapat dipungkiri jika ada satu atau dua orang Ateis yang membuat teori pengetahuan bahwa Allah tidak ada. Namun dengan demikian tidak berarti orang boleh menjadikannya sebagai pembenaran untuk menyalahkan secara keseluruhan atau menggeneralisir bahwa pengetahuan itu tidak benar atau haram. Karena Alkitab tidak menyebutkan bahwa pengetahuan itu salah/haram. Alkitab justru mengatakan kepada kita, bahwa pengetahuan itu penting, asalkan diawali, dan didasari pada: “Takut dan hormat akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang-orang bodoh benci akan kebijaksanaan dan didikan”.
Dengan demikan orang seyogyanya tidak serampangan dalam menyikapi pengetahuan. Perlu kebijaksanaan, perlu utuh, perlu tepat menyikapi sesuai dengan yang seharusnya. Sehingga orang tidak terjebak dalam pemikiran yang salah kaprah dalam menyikapi apa itu pengetahuan.


Berasal dari Allah
Pengetahuan sesungguhnya berasal dari Allah. Itulah fakta pertama yang tak terbantahkan. Tidak ada hal apapun di seluruh jagad raya ini yang tidak berasal dari Dia. Segalanya itu tersebab oleh Dia. Allah yang menciptakan alam semesta, dan Allah juga yang menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Dia. Yang olehnya manusia memiliki “konsekuensi”, memiliki kemiripan dari kesegambarannya dengan Allah itu. Satunya diantaranya adalah kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk berpengetahuan. Jikalau manusia tidak dapat berpikir, mana mungkin Allah memberikan ketetapan-ketetapan kepadanya, karena toh percuma, sia-sia saja, manusia tentu tidak akan mengerti apa itu maksud dari ketetapan itu. Justru karena manusia dianggap mampu dan mengerti, maka diberikanlah ketetapan-ketetapan, sehingga dapat dicerna sebagai sebuah pengetahuan.
Jikalau manusia tidak berpengetahuan, maka dikasih tahu pun tidak akan tahu. Sebaliknya, karena manusia berpengetahuan, diberi tahu, maka dia akan mampu dan dapat mencerna dengan otaknya. Pengetahuan berasal dari Tuhan. Tuhan yang memberikan pengetahuan.
Pengetahuan juga merupakan bukti keunggulan manusia dari hewan. Friedrich Schleiermacher, seorang filsuf dari Jerman pernah mengatakan: ”Manusia adalah binatang berrasio!” Kalimat ini tentu perlu diperhatikan, dicermati, dan dengan hati-hati disimak. Sebab, sebenarnya hal ini bukanlah satu-satunya keunggulan, tapi hanya salah satunya. Keunggulan yang paling tinggi sesungguhnya, adalah diciptakan serupa dan segambar dengan Allah.
Sebagai manusia yang berpengetahuan, manusia berbeda dengan binatang. Ini menjadi satu keunggulan pada diri manusia. Kalau kemudian pengetahuan dipakai melawan Tuhan, an-sich bukan kesalahan pengetahuannya, tapi manusianya. Seperti juga fungsi pisau, dapat dipakai untuk memotong daging, tapi pada sisi lain juga dapat diselewengkan, digunakan untuk membunuh. Jika ada orang yang terbunuh oleh alat pisau, maka bukan pisau itu yang jahat, tapi orangnya.
Bagaimana nilai manusia menjadi tinggi, menjadi luar biasa, itu yang penting dipikirkan. Dan pengetahuan pula yang sesunggunya memanusiakan manusia. Pengetahuan membuat manusia dapat membuat aturan hukum, karena itu ada undang-undang, ada peraturan yang bisa dibuat. Ini menjadikan manusia hidup dalam satu tata-tertib yang dibangun dalam kehidupan bersama. Manusia bukanlah manusia jika hidup tanpa ada aturan, yang merupkan produk pengetahuan. Karena itu pengetahuan harus dihargai dan ditempatkan pada tempat yang setepat-tepatnya. Melihat hanya dari fenomena pengetahuan, pastilah akan bermuara pada kebahayaan. Dan Alkitab tidak membicarakan hal itu. Alkitab justru membicarakan pengetahuan sejati, pengetahuan yang terikat kepada sumber segala pengetahuan, yaitu sang pencipta, Allh itu sendiri.

Kegunaan Pengetahuan
Pengetahuan membuat orang mengerti kebesaran Allah. Semakin tinggi orang belajar, entah itu tentang tata surya, tentang alam dan jagad raya, seharusnya orang semakin tahu, betapa besar Allahnya. Bentangan yang hebat dari alam semesta, guliran jagad raya ini menjadi pemikiran-pemikiran penting luar biasa, menunjukkan teramat akbar Dia. Adalah bijak jika orang kemudian belajar sebanyak-banyaknya tentang apa itu pengetahuan, tetapi ada dalam kerangka mengerti kebesaran Tuhan. Itulah pengetahuan yang tunduk pada kebenaran sejati. Maka tahulah kita betapa besarnya Allah.
Dengan pengetahuan, manusia juga dapat mengerti kehendak Allah, apa yang Allah mau untuk kita lakukan dalam hidup ini. Ada banyak jenis ilmu pengetahuan: ilmu sosial yang mencoba mengerti bagaimana orang bermasyarakat, bagaimana berhubungan satu dengan yang lain; ilmu psikologi orang belajar pikiran-pikiran orang, namun mengerti hal itu bukan untuk meniadakan atau menguasai orang lain, sebaliknya mengerti bagaimana hidup bersama. Bagaimana membangun hubungan-hubungan. Bukankah hal ini merupakan bentuk kegunaan pengetahuan yang mengemuka dan dapat dinikmati?
Dengan pengetahuan orang dapat mengerti kebesaran Allah, mengerti kehendak Allah, dan mampu mengelola alam semesta yang Tuhan berikan ini. Sehingga bukan saja mengerti kebesaran Tuhan dari alam semesta, tapi juga tahu bagaimana mengelolanya. Kita kemudian tahu keseimbangan yang dibutuhkan. Bagaimana pengunaan air yang bertanggungjawab, bagaimana memakai minyak bumi yang ada supaya tidak menjadi terperosok dalam eksplorasi berlebihan.
Karena itu didiklah anak kita supaya mereka berpengetahuan. Ajar mereka dalam kerangka dan terang yang benar. Jangan sampai mereka menghianati pengetahuan. Ahli hukum paling pintar main hukum. Ahli ekonomi bisa memutarbalikkan fakta ekonomi yang ada untuk mencari keuntungan diri sendiri. Dengan demikian orang hendaknya tidak menafikan betapa penting peran pengetahuan. Tidak ada yang salah di pengetahuan, tapi yang salah adalah orang yang tidak mampu menggunakannya dengan tepat. Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Maka pengetahuan yang sehat adalah pengetahuan yang memuliakan nama Tuhan.