Senin, 06 Mei 2013

Mengapa Allah mengizinkan rasa sakit? ( By Rick Warren )

 
Saya yakin bahwa ada satu pertanyaan yang jauh lebih sering diajukan dibandingkan dengan pertanyaan lainnya, terutama jika Anda melayani orang-orang yang sedang dilanda masalah, pertanyaan itu adalah, "Mengapa Allah mengijzinkan rasa sakit?" Saya tidak bisa lagi menghitung sudah berapa kali saya ditanyai masalah yang satu ini.
Jadi, jika Anda menghadapi pertanyaan ini, berikut adalah empat jawaban yang bisa Anda berikan kepada orang-orang itu.
1. Allah memberikan kita kehendak bebas
Di dalam kitab Kejadian kita melihat bahwa kita ini diciptakan menurut gambar Allah. Namun seperti apa jelasnya? Allah memberi kita pilihan. Kita bebas untuk memilih apakah akan melakukan hal yang baik atau yang buruk, untuk menerima atau menolak Allah. Mengapa Allah memberi kita pilihan ini? Karena Dia tidak ingin memiliki kumpulan boneka. Dia tidak harus melakukan hal itu. Dia bisa saja memaksa kita untuk menyembah, melayani dan mengasihi Dia. Namun Dia ingin agar kita mengasihi Dia dengan sukarela. Anda tidak bisa mengatakan bahwa Anda mengasihi seseorang kecuali jika Anda memiliki kesempatan untuk tidak mengasihi dia.
Kehendak bebas ini bukan hanya menjadi suatu anugerah. Kadang kala, kehendak bebas itu menjadi suatu beban. Kadang-kadang, kita membuat pilihan yang bodoh. Pilihan-pilihan itu menimbulkan segala macam akibat yang menyakitkan dalam hidup kita. Saya bisa saja memilih untuk mencoba obat bius. Kalau saya sampai ketagihan, maka itu adalah kesalahan saya sendiri. Saya bisa saja memilih untuk berperilaku seks bebas. Kalau saya terkena penyakit, maka itu kesalahan saya. Allah tidak ingin kita mengalami segala kepedihan ini, akan tetapi Dia akan membiarkan kita menghadapi semua akibat dari pilihan-pilihan kita.
Bukan hanya kita saja yang memiliki kehendak bebas, orang lain juga memilikinya. Kadang kala kita terluka akibat pilihan yang buruk oleh orang lain. Kita semua pernah disakiti oleh orang lain selama hidup ini. Mungkin Anda pernah membatin, "Mengapa Allah tidak mencegahnya?" Dia bisa saja mencegahnya. Cukup dengan merampas kehendak bebas orang yang bersangkutan. Akan tetapi, di sinilah letak dilemanya. Dalam rangka melakukan hal itu, Dia juga harus merampas kehendak bebas Anda.
2. Allah memakai rasa sakit itu untuk mendapatkan perhatian kita
Kepedihan atau rasa sakit adalah suatu lampu isyarat. Lampu isyarat yang memberitahu kita tentang adanya sesuatu hal yang salah. Bukan rasa sakit itu yang menjadi masalahnya. Itu hanya suatu gejala saja. Rasa sakit itu adalah semacam pengeras suara yang dipakai Allah. Seperti pepatah yang pernah Anda dengar, "Allah berbisik kepada kita di saat kita menikmati kesenangan, namun Dia berteriak kepada kita melalui kepedihan kita." Amsal 20:30 berbunyi, "Bilur-bilur yang berdarah membersihkan kejahatan, dan pukulan membersihkan lubuk hati." Kadang-kadang dibutuhkan situasi yang menyakitkan untuk membuat kita mengubah jalan kita.
Beberapa tahun yang lalu saya memiliki sepasang sepatu yang sangat saya sukai. Sepatu itu terbuat dari kulit rusa dan benar-benar terasa halus dan nyaman. Sepasang sepatu yang sangat hebat! Namun, tak lama kemudian, alasnya bolong. Akan tetapi bagian atasnya masih terlihat bagus. Saya tetap saja memakainya. Saya hanya perlu memastikan bahwa saat saya duduk di atas panggung, kaki saya tetap menjejak di lantai. Saya tidak berminat untuk membeli sepatu baru, sampai turun hujan selama tujuh hari berturut-turut, dan saya harus memakai sepatu yang basah itu selama tujuh hari berturut-turut. Kaki saya yang basah itu akhirnya mendorong saya untuk berubah! Paulus berkat kepada kita di dalam 2 Korintus 7:9, "Namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat." Kadang-kadang dibutuhkan rasa sakit untuk membuat kita melakukan apa yang Tuhan mau kita lakukan.
Ingatkah Anda akan kisah Yunus? Yunus berniat pergi ke satu tujuan dan Allah berkata, "Aku ingin agar kamu pergi ke arah yang lain." Lalu Allah memberi tumpangan kepada Yunus dalam bentuk yang sangat khas di laut tengah - dalam perut ikan paus! Dan, di dasar lautan itu, Yunus berkata, "Saat aku kehilangan harapanku, sekali lagi kuarahkan pikiranku kepada Tuhan." Allah memakai kepedihan untuk mendapatkan perhatian kita.

3. Allah memakai rasa sakit untuk mengajari kita agar bergantung kepada-Nya
Anda tidak menyadari bahwa Allah adalah tempat Anda bergantung, sampai akhirnya Anda hanya bisa berharap kepada-Nya. Paulus menyebutkan hal ini di dalam 2 Korintus 1:8-10, "Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati.
Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi."
Jika Anda belum pernah berhadapan dengan masalah, maka Anda tidak akan tahu apakah Allah bisa mengatasinya. Allah membiarkan kepedihan terjadi untuk mengajari Anda agar bergantung kepada-Nya. Alkitab berkata di dalam Mazmur 119:71, "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." Sebenarnya, kita ini hanya bisa belajar dari kepedihan. Belajar bergantung kepada Allah adalah salah satu di antaranya.
4. Allah membiarkan terjadi kepedihan untuk membuka jalan bagi kita melayani orang lain
Kepedihan mempersiapkan Anda buat pelayanan. Paulus berkata di dalam 2 Korintus 1:4, "Yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah." Setiap orang membutuhkan pemulihan dari suatu masalah. Tak ada orang yang sempurna. Siapa yang bisa menolong orang yang kecanduan alkohol melebihi kemampuan orang yang pernah mengalami kecanduan alkohol itu? Siapa yang bisa menolong orang yang mengalami pelecehan melebihi kemampuan orang yang pernah mengalami pelecehan itu? Allah ingin memakai dan mendaur ulang kepedihan di dalam hidup kita untuk bisa menolong orang lain, akan tetapi kita harus jujur dan terbuka akan hal itu.
Allah melakukan hal itu kepada Kay dan saya. Tiga tahun pertama masa pernikahan kami benar-benar sangat buruk. Saya bisa memahami perasaan orang yang berkata bahwa dia sangat menderita dan ingin bercerai. Saya mengerti hal itu karena saya pernah mengalaminya. Namun berkat pertolongan seorang pembimbing Kristen, Kay dan saya mengatasi semua persoalan itu dan sekarang menikmati suasana pernikahan yang luar biasa. Beberapa tahun yang lalu, saya menyampaikan satu seri khotbh ibadah Minggu pagi mengenai pernikahan, di mana saya membahas tentang berbagai persoalan dalam pernikahan yang telah kami atasi. Seri khotbah itu mencapai 12 rangkaian khotbah, namun sebenarnya masih bisa mencapai sekitar 50. Allah memakai kepedihan Anda untuk bisa menolong orang lain.
Bayangkanlah seperti apa armada pelayanan yang bisa Anda latih di tengah jemaat Anda jika Anda menolong orang-orang itu memakai kepedihan di masa lalu mereka sebagai kesempatan untuk melayani. Allah tidak pernah menyia-nyiakan kepedihan!