Selasa, 23 April 2013

Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?

Firman yang paling mengerikan di dalam Alkitab dapat ditemukan di Matius 7:21 ketika Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."
Bukankah kita sering diberitahu bahwa kita cukup mengaku dan mempercayai Yesus sebagai Tuhan untuk diselamatkan? Bukankah kita juga sering diberitahu bahwa keselamatan itu perkara gampang, cukup dengan percaya, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan perbuatan kita? Bukankah orang Kristen sering dibombadir dengan konsep bahwa perbuatan baik apapun yang kita lakukan tidak akan membawa kita kepada Kerajaan Surga? Tahukah Anda bahwa berdasarkan ajaran Yesus di atas, semua itu merupakan kebohongan?
Ajaran Yesus dengan tegas mengatakan bahwa sekalipun kita mempercayai Dia sebagai "Tuhan", itu sendiri tidak akan menyelamatkan kita. Singkat kata, pengakuan iman kita tidak akan menyelamatkan kita, sekalipun kita mempercayainya dengan segenap hati, dan dengan setia melafalkannya di gereja setiap minggu. Hanya satu jenis orang saja yang akan ditemukan dalam Kerajaan Surga pada hari itu, yaitu mereka yang melakukan kehendak Bapa di surga. Dengan kata lain, bukan saja apa atau siapa yang kita percayai, tetapi jauh lebih penting, adalah apa yang kita LAKUKAN yang akan menyelamatkan kita.
Hal ini diungkapkan dengan baik sekali dalam kesaksian pertobatan Paulus ketika dia menanyakan dua pertanyaan yang paling penting dalam hidup ini, "Siapakah Engkau, Tuhan? (Kis. 22:8)" dan berikutnya, "Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? (Kis. 22:10)" Tidak ada pertanyaan yang lebih penting dari kedua pertanyaan ini dalam hidup ini. Pertanyaan pertama akan membawa kita ke pintu yang terbuka; dan pertanyaan kedua akan menuntun kita di sepanjang jalan menuju hidup.
Pertanyaan kedua adalah pertanyaan yang harus dipanjatkan kepada Tuhan setiap pagi, "Tuhan, apakah yang harus kuperbuat hari ini?"
Jalan menuju hidup ialah jalan melakukan kehendak Bapa di surga. Ini diungkapkan dengan jelas oleh Yohanes di 1Yoh. 2:17, "tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya", dan Ibrani 10:36, "Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." Dan dari ayat 39, janji itu merujuk kepada hidup.
Berdasarkan ajaran Yesus, apapun doktrin atau pengajaran tentang "iman" yang samasekali mengabaikan perbuatan (melakukan kehendak Bapa) dapat dipastikan sebagai ajaran palsu. Apapun doktrin tentang iman yang tidak mengaitkan keselamatan dan melakukan kehendak Allah merupakan suatu penyalahtafsiran. Seluruh ajaran Perjanjian Baru menegaskan dengan sebulat suara bahwa iman yang menyelamatkan ialah iman yang membawa kita untuk melakukan kehendak Bapa di surga.