Selasa, 28 Juni 2011

Sonya Lawalata: Pengakuan Seorang Mantan Lesbian


"Saya adalah seorang lesbian yang menyayangi sesama jenis. Kita sampai melakukan hubungan seperti suami isteri, masing-masing bisa merasakan kenikmatan. Tidak apa-apa kita sesama jenis saling menyayangi," ujar Sonya mengawali kesaksiannya.

Awal perkenalannya dengan dunia lesbian ketika Sonya bekerja di sebuah restoran. Entah apa yang menjadi awal permasalahannya, seorang teman Sonya mengatakan sebuah perkataan kasar kepadanya. Kemarahan kontan memenuhi hati Sonya dan tanpa terkendali Sonya malah menghancurkan barang-barang yang ada di restoran tempatnya bekerja. Sonya pun ditahan atas kasus pengrusakan.
Sonya harus hidup di balik jeruji selama tujuh bulan. Selama Sonya berada di dalam penjara, tak ada seorang pun yang datang untuk menjenguknya. Dan di dalam penjara itu, ada seorang teman sesama tahanan wanita yang memperhatikan Sonya dan akhirnya perasaan ‘cinta' itu pun tumbuh di antara mereka.

Percintaan sesama jenis pun dilakoni oleh Sonya. Hal yang tabu menjadi layak untuk dilakukannya. Bagi Sonya, perasaan ‘cinta' yang menyimpang itu sama saja halnya dengan mencintai seorang pria, karena pada dasarnya setiap orang memiliki jantung dan hati yang sama.

 "Kita saling menyayangi. Saya mencintai dia dan dia mencintai saya. Kita merasakan perasaan aneh, tapi perasaan itu benar-benar sangat menghibur saya. Terkadang kekecewaan yang saya rasakan hilang karena tergantikan oleh perhatian dan kasih sayangnya kepada saya," ujar Sonya.

Jalinan cinta terlarang Sonya semakin mengabaikan hal-hal yang tabu. Bahkan Sonya nekat bercinta di antara para tahanan.


"Satu sel bareng-bareng, kami tidur bersama. Di dalam satu sel itu ada enam sampai delapan orang. Dan di dalam situ banyak yang sudah ada partnernya masing-masing. Ada yang senang sama si ini, tapi ada juga yang tidak punya pasangan sama sekali. Tapi mereka juga melihat kita biasa saja, tidak melarang. Kami tidak lagi merasa canggung, pelukan pun di situ. Bahkan kita sampai melakukan seperti suami isteri, masing-masing bisa merasakan kenikmatan. Itu yang saya heran. Saya tidak pusing dengan siapa yang mau mengatakan, atau dengan siapa yang mau melihat, tapi saya lakukan itu. Sebab saya merasa saya mendapat kesenangan, yaitu kasih sayang dan perhatian," kisah Sonya akan masa lalunya yang kelam.


Sonya pun bebas setelah tujuh bulan. Namun jiwanya terpenjara pada sebuah penyimpangan orientasi seksual.


"Gaya penampilan saya sudah berubah. Rambut saya potong pendek, tidak mau pakai rok, hanya mau memakai celana. Saya juga tidak mau memakai lipstik lagi, bedak-bedak tidak ada, dan saya menjadi seperti laki-laki. Kalau ketemu dengan anak-anak sekolah, kadang-kadang mereka bilang, ‘Bang, bang, permisi bang...' Waktu pertama kali dipanggil seperti itu, saya merasa canggung juga, tapi lama-kelamaan saya menganggap kalau memang saya seperti seorang laki-laki. Mau dipanggil pak, mas, atau abang yah tidak apa-apa," kisah Sonya.


Pergeseran identitas Sonya semakin jauh. Pertemuan dengan teman-teman lama pun semakin mengaburkan jati dirinya sebagai seorang wanita. Teman-teman lamanya ternyata menghadapi masalah yang sama dengan dirinya, yaitu mencintai sesama jenis. Dalam waktu singkat, Sonya menemukan pasangan barunya dan kembali terlibat dalam hubungan yang terlarang.


"Akhirnya kita bisa berteman. Selama tujuh tahun saya kumpul sejenis dengannya. Seperti suami isteri, kami tinggal serumah," ujar Sonya.


Namun di luar dugaan Sonya, tujuh tahun menjalin percintaan dengan sesama jenis harus berakhir dengan perpisahan. Pasangan sesama jenis Sonya memilih untuk meninggalkan Sonya dan pergi dengan seorang pria. Melihat wanita yang disayanginya dengan pria lain, Sonya teringat akan pernikahannya yang kelam. Sonya menikah dengan seorang pria yang ternyata sudah memiliki isteri, tapi kebenaran itu diketahuinya kemudian setelah mereka menikah. Sakit hati dirasakan Sonya dengan sangat dalam.


Dalam kepahitan yang tak terlampiaskan, Sonya minum dan mengambil pisau ataupun garpu yang ada di depannya dan Sonya mulai menyayat tubuhnya sendiri. Yang ada dalam diri Sonya hanyalah ia tidak mau lagi bersuami. Kebiasaan untuk menyakiti dirinya sendiri sering dilakukan olehnya. Setiap kali Sonya teringat akan kelakuan suaminya, ia akan langsung menyayat perut dan tangannya dengan pisau atau pun garpu sampai berdarah.


"Dendam itu masih ada membara dalam hati saya. Sejak kecil saya sudah ditinggalkan papa saya. Dan sampai saya menikah, ternyata begitu juga, ditinggalkan oleh suami. Di situ timbul rasa benci saya terhadap laki-laki, bahwa mereka ini tidak bertanggungjawab. Saya potong kulit saya dan kulit itu mulai terbelah, keluar darah. Dan ketika melihat darah itu, seperti ada kelepasan dan perasaan lega. Sambil menyayat kulit ini, saya hanya berkata, ‘Nih, tidak apa-apa nih, karena kalian semua yang menyakiti saya jadinya saya menyakiti diriku sendiri'. Yang tadinya perasaan hati ini begitu berapi-api karena marah, langsung hilang begitu melihat darah dan badan yang sudah tersayat-sayat. Tidak ada penyesalan, biar saja saya seperti ini. Mendingan saya hancur sekalian," ucap Sonya.


Jiwanya hancur dan setiap sayatan di tubuhnya seakan bercerita betapa dalam derita yang dialaminya.


"Pada suatu malam saat saya mau tidur, saya sayat-sayat badan saya, dan saya pikir saya tidak mau menikam diri saya secara langsung, jadi besok pagi saya pasti sudah ada di alam lain. Karena memang perut saya sudah penuh dengan sayatan, dan saya tidur. Tapi subuh-subuh ketika saya bangun, saya masih ada di tempat tidur dan saya masih hidup. Saya lihat darah dari luka-luka sayatan itu sudah berhenti," kisah Sonya.


Lolos dari kematian membuat niat Sonya surut untuk berpesta pora. Saat Sonya sedang minum-minum dengan teman-temannya di sebuah pub, mereka masih ingin bersenang-senang dan akhirnya pindah ke diskotik yang lain. Mereka hanya berpesan kepada Sonya bahwa pulangnya nanti mereka akan kembali untuk menjemput Sonya. Tapi sampai pub-nya mau tutup, teman-teman Sonya tetap belum muncul. Tagihan minuman sudah diserahkan kepada Sonya. Dianggap mabuk dan mangkir untuk membayar, Sonya langsung diangkat dan dipukuli oleh tiga orang bodyguard. Sonya diinjak, kepalanya dipukuli dan belakangnya dipukul sampai akhirnya Sonya jatuh dan tidak bisa bangun lagi.


Keadaan Sonya sangat parah dan ia bersiap untuk meregang nyawa. Namun sekali lagi, sang maut enggan menjemput Sonya. Saat Sonya terbangun di pagi hari dengan dinginnya embun di wajahnya, tiba-tiba dalam pikirannya terlintas bahwa dirinya memiliki Tuhan Yesus. Dalam kesakitannya, Sonya berteriak, "Tuhan Yesus, tolong saya."


Dengan sisa tenaga yang ada, Sonya berusaha bangkit dan menghubungi saudaranya. Di rumah itu, Sonya berangsur sembuh. Dan peristiwa yang tak terduga pun terjadi. Saat Sonya tengah tertidur lelap, tiba-tiba petir menyambar dengan sangat keras. Petir yang terus-menerus menyambar membuat Sonya ketakutan. Dalam bayangannya, ia merasa Tuhan murka atas hidupnya karena segala kesalahan yang telah ia lakukan selama ini. Kejadian malam itu begitu menghantui Sonya sampai keesokan harinya keponakannya datang menemuinya. Sonya diajak untuk pergi ke gereja.


"Dia bilang seperti ini, ‘Kita masih muda-muda sudah bertobat, tante sudah tua kok belum mau sadar?' Dengan gaya cowok saya pun pergi ke gereja. Setelah saya dengar Firman Tuhan, larangan-larangan yang Tuhan berikan, disinggung juga soal lesbian, homo, saya betul-betul merasa bersalah. Saya merasakan jamahan Tuhan. Sewaktu saya mengangkat tangan, seperti dingin terus mengalir ke sekujur tubuh saya. Badan saya gemetar. Saat itu saya meminta ampun atas segala kesalahan saya. Semua dosa yang telah saya lakukan ini, saya percaya Tuhan sanggup melepaskan saya dari keterikatan ini. Bukan luka ini yang diminta sembuh, tapi karena jiwa saya, Tuhan ubah jiwa saya. Tiba-tiba karena gaya saya masih seperti laki-laki, ada pelayan yang berkata, ‘Pak pak, pindah Pak. Di sini tempat ibu-ibu'. Saya lagi khusyuk nih berdoa, saya putar badan saya dan saya bilang, ‘Saya ibu, Pak.'"


Perkataan Sonya itu adalah pengakuan yang membuatnya tersadar bahwa dirinya adalah seorang wanita.


"Saya akhirnya meninggalkan pasangan lesbian saya itu. Saya mulai pakai rok, mulai memakai baju perempuan, mulai merasa tidak enak kalau tidak memakai baju dalam, mulai memakai lipstik. Di saat saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan, Tuhan memulihkan saya dan saya sudah mengampuni mereka yang telah menyakiti saya. Saya sudah mengampuni orangtua saya karena mereka meninggalkan saya waktu saya masih kecil, saya mengampuni juga suami saya. Saya tidak dapat balas kasih Tuhan kepada saya sebab tadinya saya yang sudah di lumpur, tapi Tuhan mengangkat saya. Tuhan bilang dosa saya sudah Dia buang ke tubir laut yang paling dalam. Apa yang saya harus balas kepada Tuhan, yaitu saya harus kembali mengasihi Tuhan dengan segenap hati saya," ujar Sonya dengan tangisan penyesalan.


"Tuhan Yesus itu adalah Tuhan dan Juru Selamat saya," ucap Sonya menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan dalam acara 19 Mei 2010 Solusi Life di O'Channel).Sumber Kesaksian: Sonya Lawalata