Senin, 13 Mei 2013

Menjadi Saluran Berkat



MENJADI SALURAN BERKAT

YOHANES 6:1-14


Salah satu tujuan Allah menyelamatkan kita adalah agar kita menjadi berkat bagi orang lain. Sejak awal penciptaan, Allah memberkati Adam dan Hawa serta segala isinya (Kejadian 2:1-2). Allah juga memberkati Abraham agar ia menjadi berkat bagi bangsa lainnya (Kejadian 12:2). Jadi hidup yang berarti adalah hidup yang menjadi berkat bagi orang lain. Demikian juga dengan pembacaan kita tentang kisah lima ribu orang yang dikenyangkan oleh lima roti dan dua ikan yang diberikan oleh seorang anak. Dari kisah anak ini maka kita dapat mengambil pelajaran dari anak kecil ini;

Pertama, Anak Kecil ini Bersedia Menjadi Alat Tuhan.
Ada banyak orang yang mendengar khotbah Yesus bahkan menyaksikan mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Yesus (ayat 2), tetapi mereka hanya menjadi pendengar dan penikmat saja, sedangkan yang menjadi pelaku sangat sedikit. Ketiika Yesus hendak memberi makan orang banyak, hanya satu anak yang mengerti hatinya Tuhan, dan bersedia memberi diri menjadi alat Tuhan. Sedangkan yang lain hanya memikirkan kepentingan sendiri. Dalam hal ini menurut beberapa penafsir mungkin masih ada yang mempunyai sisa dari bekal mereka, tetapi mereka enggan untuk memberi. Karena anak kecil itu mendahulukan kepentingan orang lain, maka ia bisa menjadi alat Tuhan. Mereka yang hanya memikirkan diri sendiri atau egois, tidak akan bisa menjadi alat Tuhan.


Kedua, Anak Kecil ini Memakai Kesempatan dengan Tepat.
Pada saat itu, hari menjelang malam (band. Markus 6:35), banyak orang sudah lelah dan lapar. Yesus sudah memberi kesempatan kepada para murid-Nya (ayat 6-8), tetapi mereka mengabaikan kesempatan tersebut dengan berbagai alasan. Berbeda dengan anak kecil ini, dia memanfaatkan kesempatan yang Tuhan berikan sehingga Tuhan Yesus memberkati pemberiannya yang dapat mengenyangkan banyak orang. Sering kali kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain, tetapi sering juga kita mengabaikan kesempatan dengan berbagai alasan untuk menolaknya sehingga membuat kita merasa menyesal dan tidak diberkati Tuhan. Marilah kita seperti anak kecil ini yang mau mempergunakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan sehingga kita bisa menjadi berkat buat orang lain.

Ketiga, Anak ini memberi apa yang ada padanya (band. 1 Raja-raja 17:7-24, kisah seorang janda sarfat).
Lima roti jelai dan dua ikan yang kecil dalam terjemahan NIV hanya cukup untuk keperluannya, tidak untuk orang lain. tetapi anak ini memiliki hati yang mengasihi, ia tidak mementingkan untung dan rugi dia tidak memikirkan apakah yang akan saya makan nanti apabila saya memberikan semuanya ini pada Yesus; tetapi ia menyerahkan lima roti dan dua ikan pada Yesus, lalu Tuhan memberkatinya menjadi berkat bagi 5000 orang dan masih sisa 12 bakul. Mari kita memberikan apa yang ada pada kita kepada Yesus supaya bisa menjadi berkat bagi orang lain. Apakah kita hari ini mau menjadi saluran berkat?