Jumat, 19 April 2013

Billy Graham: Penyesalan dan Himbauannya

By. Elsie C.
Dalam wawancara terbaru bersama Christianity Today, Billy Graham ditanya apakah ada hal yang akan ia lakukan secara berbeda, jika ia diberi kesempatan lagi. Penginjil besar zaman ini, yang sekarang sudah berusia 92 tahun berkata, "Saya akan meluangkan lebih banyak waktu bersama keluarga, lebih banyak belajar dan lebih sedikit berkhotbah."
Dalam wawancara lewat email itu, Graham berkata, "Saya tidak akan menerima begitu banyak undangan khotbah, termasuk beberapa hal yang saya lakukan selama bertahun-tahun yang sebetulnya tidak perlu saya lakukan - hal-hal seperti memimpin acara pernikahan, pemakaman dan dedikasi gedung. Setiap kali saya memberi konseling kepada orang yang terpanggil untuk menjadi penginjil, saya selalu mendorong mereka untuk berhati-hati dengan waktu mereka dan jangan merasa bahwa mereka harus melakukan semuanya."
Graham berkata dia "diherankan" dan bersyukur dengan keberhasilan global Kekristenan Injili, namun ia mengingatkan mereka yang mengikuti jejaknya untuk berhati-hati. Menurut Graham, sukses itu selalu merbahaya, dan kita perlu untuk berhati-hati dan menghindar dari menjadi korban keberhasilan kita sendiri. Apakah kita akan mempengaruhi dunia untuk Kristus, atau akankah dunia yang mempengaruhi kita?
Menurut Graham, permasalahan di zaman kita bukanlah ekonomi atau politik atau sosial, walalupun semuanya itu penting. Persoalan sentral di zaman kita bersifat moral dan spiritual, dan panggilan kita adalah untuk mendeklarasikan pengampunan, pengharapan dan kuasa transformasi Kristus kepada dunia yang tidak mengenal atau mengikuti dia. Ia mengingatkan kita, orang-orang percaya, untuk tidak pernah lupa akan hal ini.
Tentang hari tuanya, Graham berkata, "Saya tidak dapat dengan jujur berkata bahwa saya senang menjadi tua, contohnya - tidak dapat melakukan banyak hal yang sudah terbiasa saya lakukan; lebih banyak mengandalkan orang lain, dan mengalami tantangan-tantangan jasmani yang saya tahu semakin hari akan menjadi semakin parah."
Namun, nasehatnya kepada orang yang semakin tua dan tak berdaya adalah untuk menerima setiap hari sebagai suatu anugerah dari Allah dan untuk memfokuskan pada kekekalan bukan saja masa kini.
"Dunia dengan segala penderitaan, beban dan rasa sakit ini, bukanlah rumah kita yang terakhir. Jika kita mengenal Kristus, kita tahu bahwa kita mempunyai " suatu warisan yang tidak akan luput, binasa atau hilang - yang tersedia di surga bagi kita" (1 Pet.1.4). Saya tahu tidak akan lama sebelum saya ke sana, dan saya merindukan hari itu. Surga memberikan kita pengharapan, dan membuat beban di hari ini lebih mudah untuk ditanggung."
Nasehatnya kepada orang muda adalah untuk bertanggungjawab ke atas orangtua mereka yang semakin meningkat usia mereka dan "bersabar dalam menangani mereka."
Graham berkata, "Mereka mungkin tidak dapat melakukan segala sesuatu yang dapat mereka lakukan dulunya, tapi itu tidak berarti mereka sama sekali tidak berdaya atau tidak mampu. Dan bersikap pekalah pada kebutuhan-kebutuhan mereka - termasuk kebutuhan spiritual dan emosional. Ada kalanya, mereka hanya perlu mengetahui bahwa Anda ada di situ dan Anda peduli."
"Ada kalanya saya melihat anak-anak menjadi tidak sensitif dan bertindak sewenang-wenangnya dalam menangani orang tua mereka, dan itu hanya akan menimbulkan kesebalan dan perasaan tidak enak."
"Namun, di sisi lain, mungkin perlu untuk anak-anak campur tangan dan memaksa orang tua untuk menyerahkan kunci mobil atau membiarkan Anda mengurus keuangan mereka, atau mengatur untuk mereka tinggal di tempat di mana mereka mendapatkan perawatan yang lebih bagus. Mereka mungkin akan menolak, dan Anda perlu menempatkan diri Anda di dalam posisi mereka dan memahami gejolak yang akan diakibatkan oleh perubahan-perubahan ini. Tapi, mereka sangat perlu untuk menyadari bahwa Anda melakukan semua itu karena Anda mengasihi mereka dan menginginkan yang terbaik bagi mereka."
Yang terakhir, Graham juga mengungkapkan penyesalannya karena tidak menjauhkan diri dari politik. Graham dekat dengan banyak Presiden Amerika Serikat termasuk Richard Nixon, George Bush dan juga baru-baru ini Barack Obama mengunjunginya di kediamannya. Saat bertemu Obama, Graham berkata, "Saya menjauhkan diri dari politik sekarang." Dan Obama menjawab, "Saya harap saya juga bisa begitu!"
Di dalam wawancara lewat email ini, Graham mengungkapkan lagi pandangannya tentang hal ini, "Saya bersyukur untuk kesempatan-kesempatan yang Allah berikan kepada saya untuk melayani orang-orang yang berada di puncak kekuasaan; mereka juga punya kebutuhan-kebutuhan pribadi dan spiritual sama seperti setiap orang lain, dan seringkali mereka tidak punya teman bicara. Tapi memandang ke belakang, saya tahu ada kalanya saya telah melewati batas, dan hal itu tidak akan saya lakukan sekarang."