Senin, 19 Desember 2011

Renungan Natal : INKARNASI ALLAH

oleh : Denny Teguh Sutandio
Nats : Yohanes 1:1-5, 9-14

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya…. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”



Pada renungan menjelang Natal kali ini, kita akan membahas tema serial tentang Inkarnasi sebanyak tiga kali. Pada bagian pertama ini, kita akan merenungkan pendahuluan tentang keharusan mutlak Inkarnasi. Pada bagian kedua, kita akan membahas kaitan Inkarnasi dengan datangnya Sumber Terang. Pada bagian terakhir, kita akan membahas mengenai Semangat Inkarnasi Vs Semangat Zaman.

Pendahuluan Injil Yohanes
Injil Yohanes adalah Injil terakhir yang ditulis kira-kira pada tahun 90 Masehi. Handbook to the Bible (2002) menafsirkan bahwa Injil ini ditulis di kemudian hari mengingat para pembaca pada waktu itu dianggap telah mengetahui fakta-fakta mengenai kehidupan Tuhan Yesus. Injil ini ditulis oleh Yohanes, mungkin Yohanes putra Zebedeus, saudara Yakobus, dan rekan kerja Petrus dan Andreas. Yohanes menuliskan suratnya dengan gaya tafsiran terhadap banyak pengajaran dan mukjizat Tuhan Yesus. Fokus Injil Yohanes berbicara tentang Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah. Dan di dalam Injil ini juga terkandung banyak pengajaran Tuhan Yesus dengan metode pengajaran yang berbeda di Yerusalem. Tujuan pokok dari penulisan Injil ini adalah memimpin pembaca kepada iman (Yoh. 20:30-31). (hlm 600)






Yesus Adalah (Firman) Allah
Mengutip perkataan Pdt. Sutjipto Subeno, Yohanes memulai Injilnya bukan dengan memaparkan fakta historis tentang kelahiran Tuhan Yesus seperti ketiga Injil lainnya (Matius, Markus dan Lukas), tetapi ia memulai Injilnya dari kacamata kekekalan Allah. Di pasal 1 ayat 1, dikatakan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Di dalam bahasa Yunani, pernyataan “Pada mulanya” di dalam Yohanes 1:1 adalah archē berarti the first/beginning (pertama kalinya/permulaan). Dengan demikian, sebelum dunia dijadikan, sudah (dan terus berlangsung ; menggunakan bentuk kata kerja imperfect/progressive) ada Firman. Kata Firman dalam bahasa Yunaninya logos dan memakai bentuk kata benda (noun), maskulin, singular/tunggal, dan nominative (nominatif/pokok kalimat bagi suatu kata ganti, misalnya I, he, she, who). Berarti, Firman ini bukanlah Firman yang tak berpribadi seperti konsep Yunani kuno tentang logos, tetapi Firman ini adalah Firman yang berpribadi. Firman itu dikatakan bersama-sama (American Standard Version, English Standard Version, Geneva Bible, International Standard Version, King James Version dan New International Version sama-sama menerjemahkannya with/dengan) Allah. Kata “bersama” dalam bahasa Yunani pros bisa berarti toward, near to, etc (dekat dengan). Berarti, Firman Allah itu berada dekat/bersama dengan Allah itu sendiri. Tetapi Firman ini tidak hanya bersama dengan Allah, tetapi Firman itu sendiri adalah Allah. Dalam struktur kata Yunani, kata Firman dan Allah sama-sama menggunakan struktur kata : noun, masculine, singular, nominative. Di sini, berarti Firman itu tidak lain adalah Allah sendiri. Siapakah Firman itu ? Firman itu adalah Yesus yang tentu adalah Allah Pribadi Kedua itu sendiri.


Dilanjutkan dengan ayat 2, “Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.” Kembali, kata “bersama-sama” dipakai untuk menunjukkan adanya kedekatan/kebersamaan sang Firman/Yesus/Anak Allah dengan Allah Bapa. Karena kebersamaan-Nya dengan Bapa, Kristus juga berperan di dalam Penciptaan. Hal ini ditunjukkan oleh Yohanes di ayat 3, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Pdt. Sutjipto Subeno membagi dua macam penciptaan yang dilakukan oleh/melalui Kristus di dalam ayat ini. Beliau mengatakan bahwa penciptaan pertama adalah penciptaan alam semesta beserta isinya. Dengan kata lain, Kristus itu Pencipta dari segala yang ada dan semua ciptaan (manusia) harus menyerupai gambar Allah yang tidak kelihatan di dalam Pribadi Kristus. Rasul Paulus di dalam Kolose 1:15-16 mengungkapkan hal ini lebih jelas, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Penciptaan model kedua yang dipaparkan oleh Pdt. Sutjipto Subeno adalah penciptaan tahap kedua. Artinya Kristus juga mencipta sesuatu dari sesuatu yang telah diciptakan. Dengan kata lain, Kristus menciptakan turunan dari ciptaan-ciptaan-Nya. Ini membuktikan adanya pemeliharaan Allah atas dunia ciptaan, sekaligus mengajar orang Kristen untuk tidak mempercayai filsafat deisme (baik secara langsung maupun tidak langsung) yang mengajarkan bahwa setelah menciptakan, Allah membiarkan ciptaan-Nya berjalan menurut hukum alam sendiri.


Bukan hanya sebagai Pencipta, Yohanes 1:4 mengatakan bahwa di dalam Firman Allah itu (Kristus) ada Hidup. Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) mengartikan “hidup” di sini dengan “hidup (kekal)”. (hlm. 475) Di sini sangat jelas terlihat bahwa Kristus bukan hanya menciptakan segala sesuatu dan turunannya, tetapi di dalam-Nya ada hidup (kekal). Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa Firman/Kristus ini adalah Pribadi. Jika Firman ini bukan Pribadi, masa mungkin di dalam-Nya ada hidup ? Kembali, hidup yang berada di dalam Firman itu menjadi terang bagi manusia-manusia. Artinya, hidup itu bukan hanya milik Sang Firman saja, tetapi Firman itu memberikan hidup itu kepada manusia, sehingga manusia memiliki kehidupan. Oleh karena itu, manusia sejati adalah manusia yang memiliki hidup yang dikaitkan dengan Terang Firman itu sendiri. Itulah sukacitanya seorang anak Tuhan di dalam Kristus, di mana hidup mereka yang fana ini dikaitkan dengan Sumber Kehidupan di dalam Kristus yang kekal, sehingga hidup mereka adalah hidup yang berharga dan bermakna.


Sang Firman yang adalah Pencipta dan Hidup itu sendiri bukan hanya berada di dalam Kekekalan, tetapi juga mengunjungi dunia kesementaraan ini. Hal ini dinyatakan oleh Yohanes 1 ayat 14, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Ayat ini merupakan kunci kita mengerti konsep tentang Inkarnasi. Inkarnasi berarti Allah menjadi manusia tanpa meninggalkan natur keIlahiannya. Ketika Allah menjadi manusia, di saat yang sama Sang Kekal mengunjungi dunia kesementaraan untuk menebus manusia pilihan-Nya yang sementara ini agar mereka yang sementara dapat disempurnakan dan masuk ke dalam kekekalan Allah di Surga. Tetapi banyak orang dunia sulit mengerti konsep tentang Inkarnasi. Apa saja yang mereka pikirkan dan bagaimana solusinya ?




Problematika Inkarnasi dan Solusinya
Bagi orang dunia, konsep Inkarnasi adalah konsep yang ‘tidak masuk akal’, karena beberapa alasan :
Pertama, Allah yang menjadi manusia. Bagi orang dunia, Allah itu Kekal, nun jauh di sana, tak terjangkau oleh ciptaan, Mahakudus, Mahaadil, dll, sedangkan manusia itu sementara, najis, berdosa, terbatas, dll. Bagaimana mungkin Allah yang kekal mampu menjadi manusia ? Itulah yang menjadi problematika filsafat Yunani yang mengajarkan being dan becoming. Filsuf Plato mengajarkan being, artinya segala sesuatu itu berada di dunia ide yang tidak berubah, sehingga tidak heran dia membedakan antara hal-hal ideal dengan hal-hal nyata, di mana hal-hal yang nyata adalah bayang-bayang dari dunia ide. Lalu, konsep ini mempengaruhi Parmenides dan akhirnya dikembangkan oleh filsuf Immanuel Kant dengan pembedaan tajam antara dunia fenomena (nyata) dan dunia nomena (ide). Sedangkan filsuf Aristoteles mengajarkan becoming, segala sesuatu berubah, sehingga ajaran ini menyatukan antara form (ide) dan matter (benda). Ajaran ini nantinya mempengaruhi Heraclitus dan akhirnya dikembangkan di dalam filsafat Abad Pertengahan (Skolastisisme), khususnya juga Gereja Katolik Roma di dalam Sakramen Perjamuan Kudusnya. (Stephen Tong, Reformasi dan Teologi Reformed, 1991, p. 65) Dari kedua arus filsafat Yunani, kita mendapatkan gambaran bahwa masing-masing filsafat Yunani menekankan hal yang tidak seimbang : Plato terlalu menekankan being, sedangkan Aristoteles terlalu menekankan becoming. Bagaimana dengan agama ? Agama-agama dunia juga tidak mengerti hal ini. Ada agama yang mengajarkan bahwa “Allah” itu nun jauh di sana (transenden), sehingga kalau beribadah, semua pengikutnya harus membunyikan pengeras suara supaya “Allah”nya mendengar. Agama lain terlalu menekankan imanensi “Allah”, sehingga semua manusia adalah “allah” (ide Panteisme). Semua filsafat Yunani dan agama tidak mampu menjawab problematika being dan becoming ini. Lalu, bagaimana solusinya ? TIDAK ada jalan lain, problematika being dan becoming hanya bisa dipecahkan dan ditemukan solusinya di dalam keKristenan di dalam wahyu khusus Allah.
Theologia Reformed memiliki inti doktrin yaitu kedaulatan Allah. Saya pernah membagi tujuh pengertian kedaulatan Allah, di mana salah satunya Inkarnasi adalah bentuk kedaulatan Allah. Artinya, Allah yang Berdaulat adalah Allah yang Berdaulat membatasi diri-Nya yang kekal untuk menjadi manusia yang terbatas. Jika Allah tidak bisa menjadi manusia, masih layakkah Allah disebut Allah ? Di sini, kegagalan konsep sebuah agama (antroposentris) yang mati-matian mengatakan Yesus itu hanya manusia/nabi saja dan bukan Allah. Di dalam Inkarnasi Kristus, problematika being (tidak berubah) dan becoming (berubah) dapat dipecahkan. Di dalam Inkarnasi Kristus, Kekekalan bertemu dengan kesementaraan, sehingga kesementaraan memiliki makna hidup di dalam perspektif Kekekalan. Sehingga kalau Kristus tidak pernah menjadi manusia di dalam Inkarnasi, bagaimana jadinya hidup manusia yang sementara ini ? Hidup yang tidak berada di dalam perspektif kekekalan Kristus adalah hidup yang sia-sia dan tanpa pengharapan.


Kedua, mengapa Allah harus menjadi manusia ? Seorang rekan yang beragama lain di sebuah milis Yahoo bertanya mengapa Allah harus menjadi manusia, bukankah Allah cukup mengajar manusia untuk tidak berdosa lagi ? Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan mudah, karena esensi pertanyaan ini sedang menekankan superioritas manusia yang tanpa dosa. Dengan mengatakan bahwa Allah cukup mengajar manusia untuk tidak berdosa lagi, orang ini hendak mengajarkan bahwa manusia itu cukup “baik”, sehingga manusia cukup hanya diajar Allah tentang kebenaran. Konsep ini mirip dengan konsep seorang filsuf yang mengajarkan teori tabula rasa : manusia lahir seperti kertas putih (tanpa dosa), sehingga kalau dia berdosa, itu karena pengaruh lingkungan sekitar. Benarkah konsep ini ? Jika konsep ini benar, pertanyaannya adalah mengapa dari kecil tanpa diajar oleh orangtua, seorang anak kecil bisa berdusta ? Apakah karena pengaruh lingkungan ? Dari mana seorang anak kecil bisa dipengaruhi lingkungan, kalau dia masih kecil dan tidak mengerti apa-apa ? Inilah kegagalan teori tabula rasa. Manusia lahir TIDAK seperti kertas putih (tanpa dosa), tetapi manusia lahir dengan dosa asal (original sin). Dosa asal mengakibatkan manusia menjadi hamba dosa. Bapa Gereja Augustinus mengatakan bahwa pada saat manusia berdosa, ia dalam kondisi : tidak bisa tidak berdosa (non-posse non-peccare). Artinya, dosa menimbulkan manusia terikat olehnya dan diperbudak olehnya, sehingga tidak bisa tidak, manusia hanya mengabdi kepada dosa, iblis dan maut sebagai “tuan”nya. Lalu, bagaimana melepaskan dosa manusia ini ? Dengan menumpuk amal baik ? Sekali lagi, mengutip perkataan Pdt. Sutjipto Subeno, orang yang berpikir bahwa dengan berbuat baik, manusia bisa dibenarkan/diselamatkan, orang itu di titik pertama sudah tidak baik, mengapa ? Karena seorang filsuf Yunani kuno pernah mengajarkan tentang sommum bonum, yaitu kebaikan itu dilakukan demi kebaikan itu sendiri. Artinya, motivasi dan tujuan kebaikan itu hanya untuk kebaikan. Sedangkan orang yang berpikir bahwa dengan berbuat baik, ia bisa selamat, ia sedang berpikir bahwa ia berbuat baik agar supaya diselamatkan. Bagaimana kenyataannya jika ia tidak selamat? Pasti, ia tidak mau lagi berbuat baik, karena percuma/sia-sia. Adalah suatu kekonyolan dari cara berpikir manusia : manusia yang berdosa lalu mencari penyelesaiannya dengan cara manusia (yang berdosa). Inilah kegagalan agama antroposentris yang menekankan amal baik. Perbuatan baik PASTI tidak sanggup menyelesaikan masalah dosa, lalu apa yang dilakukan manusia ? Beberapa manusia ada yang mencoba menutupi dosa-dosanya. Caranya ? Mudah sekali, ikutilah tren psikologi dengan balutan spiritualitas Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) di abad postmodern ini yang mengajarkan bahwa semua adalah “allah”, maka dosa manusia “pasti” bisa “ditutupi/diselesaikan” dengan training-training pengembangan diri (human potential development). Tetapi benarkah demikian ? Apakah dosa bisa diselesaikan dengan tidak mengakui adanya dosa ? TIDAK. Justru, ketika dosa semakin ditutupi dengan tidak ada pengakuan, maka dosa itu semakin besar dan banyak. Mengapa ? Karena dosa berarti pemberontakan terhadap Allah, lalu kalau dosa itu tidak diakui, maka pemberontakan terhadap Allah juga tidak diakui, akibatnya dia makin memberontak terhadap Allah. Ambil contoh, apakah warna hitam ditutupi dengan kertas berwarna putih, maka warna hitam pasti tidak kelihatan ? Secara sesaat, mungkin warna hitam itu tidak kelihatan, tetapi ketika kertas putih itu ditarik, maka warna hitam itu jelas terlihat. Jadi, percuma saja dosa ditutupi, lama-kelamaan pasti terlihat. Selain berbuat baik, dan tidak mengakui adanya dosa, manusia semakin pesimis akhirnya hidupnya dibiarkan seliar mungkin. Tidak heran, manusia di zaman postmodern semakin hidup hedonis dan materialis, tanpa menghiraukan arti hidupnya. Itu adalah kompensasi dari kebingungan hidup di zaman postmodern ini. Akibatnya, dunia yang kita tinggali menjadi rusak (misalnya, polusi udara semakin meningkat, ozon semakin lama semakin bolong, dll) akibat ulah mereka yang hidup sembarangan. Sungguh mengasihankan. Lalu, bagaimana solusi terhadap masalah dosa? Bisakah diselesaikan dengan cara manusia ? TIDAK. Dosa manusia harus diselesaikan dengan cara di luar diri manusia yang tentunya tidak berdosa. Cara siapakah itu? Cara Allah! Bagaimana Allah mengatasi masalah dosa manusia, padahal Allah itu Mahakudus, sedangkan manusia itu berdosa ? Apakah Allah cukup mengajari manusia tentang kebenaran ? TIDAK. Allah dengan kebijaksanaan-Nya yang sangat tinggi melampaui rasio manusia yang terbatas dan berdosa memutuskan untuk menebus dosa-dosa manusia dengan mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menjadi manusia. Kristus adalah 100% Allah dan 100% manusia. Doktrin dwi-natur Kristus ini banyak diserang oleh orang-orang dunia bahkan beberapa orang “Kristen” sendiri (misalnya, kaum Unitarian). Mereka berkata bahwa ini tidak masuk akal. Benar, ini tidak masuk akal kita yang terbatas dan berdosa, tetapi sangat masuk akal bagi Allah yang kekal dan Mahakudus. Mengapa Kristus harus berdua natur ini ? Mengapa tidak cukup satu natur ? Mari kita memikirkannya. Kristus bernatur Allah, karena hanya Allah yang sanggup dan mampu menebus dosa manusia. Tetapi bagaimana cara Allah menebus dosa manusia, jika Ia sendiri tidak menjelma menjadi manusia ? Oleh sebab itu, Kristus harus bernatur manusia, karena Allah tidak bisa mati, sedangkan manusia bisa mati. Dengan dwi-natur Kristus, Ia bisa mati sekaligus menebus dosa manusia. Di sinilah, problematika being dan becoming terpecahkan. Being menunjuk pada Pribadi Allah yang tidak berubah (kekal) dan becoming menunjuk pada pribadi manusia yang selalu berubah (sementara). Kedua hal ini ada di dalam Kristus, di mana dwi natur Kristus, menurut Pengakuan Iman Chalcedon, tidak terbagi, tidak tercampur, tidak terpisah.


Puji Tuhan, Kristus lahir di dunia ini, kelahiran-Nya bukan seperti kelahiran orang biasa (atau orang “suci”), tetapi kelahiran-Nya sangat khusus, karena kelahiran-Nya adalah Inkarnasi (=Allah menjadi manusia) yang dari kekekalan menembus ke dalam kesementaraan. Biarlah Natal tahun ini, bukan sebagai perayaan religius yang tanpa arti, perayaan rutinitas, atau perayaan sekuler tanpa makna Natal sesungguhnya, tetapi Natal tahun ini adalah Natal Inkarnasional, yaitu kita mengingat kelahiran Kristus sebagai Inkarnasi yang menebus dosa manusia dan membawa kedamaian sejati bagi manusia pilihan-Nya. Ketika Allah mau menjadi manusia demi kita yang najis, berdosa, bobrok, rusak total, dll, ingatlah, itu semua terjadi karena kasih dan anugerah-Nya serta keadilan-Nya yang Mahakudus sehingga setiap umat pilihan-Nya yang percaya beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Christmas is Incarnation ! Merry Christmas... Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Soli Deo Gloria.


Semangat Inkarnasi Vs Semangat Zaman
Mungkin bagi orang Kristen, kata “inkarnasi” bukan kata yang asing. Kita sudah mendengar kata ini beratus kali pada hari Natal atau pada momen ketika kita mempelajari Kristologi (doktrin Kristus), tetapi seberapa dalamkah kita mengerti inkarnasi dan semangat inkarnasi ini ? Apakah kita bisa mengerti dan mengimplikasikan semangat inkarnasi ini di dalam kondisi zaman postmodern yang juga menyuarakan semangat dunia berdosanya ? Biarlah melalui perenungan singkat ini, kita akan dipimpin oleh Roh Kudus untuk menikmati berkat Tuhan melalui kebenaran Firman-Nya tentang semangat inkarnasi yang harus kita wujudnyatakan di dalam kondisi zaman postmodern.

Ada beberapa prinsip Inkarnasi yang dikontraskan dengan prinsip zaman :
Pertama, Inkarnasi berarti Allah menjadi manusia, sedangkan postmodern (yang ditunggangi oleh Gerakan Zaman Baru) mengajarkan manusia menjadi seperti “allah”. Di bagian pertama, kita melihat bahwa semangat Inkarnasi bukanlah konsep murahan, tetapi prinsip/konsep dan semangat yang agung luar biasa, yaitu Allah yang Mahakudus, Mahakuasa, Berdaulat, Kekal, Mahaadil, Mahakasih, dll rela menjadi manusia (tanpa meninggalkan atribut Ilahinya). Mengapa Allah menjadi manusia ? Ia melakukannya karena Ia begitu mengasihi kita (Yohanes 3:16). Kasih Allah memungkinkan Ia mengutus Kristus untuk menebus dosa-dosa umat pilihan-Nya yang berdosa. Dengan tepat sekali, hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam salah satu khotbahnya di Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) pernah menuturkan bahwa di dalam Penciptaan, manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, lalu di dalam Penebusan/Inkarnasi, Allah menjadi/menjelma di dalam gambar manusia (Yoh. 1:14). Semangat inkarnasi ini jelas sangat bertolak belakang dengan semangat dosa yang ada di dalam zaman postmodern ini. Dunia kita sejak zaman Pencerahan (Inggris : Enlightenment ; Jerman : Aufklaerung), romantisisme, sampai abad postmodernisme, menawarkan beragam ide yang berfokus pada manusia. Pencerahan berfokus kepada rasio manusia. Lalu, hal ini menjumpai kegagalan dan diganti oleh romantisisme dengan pencetus pertamanya bernama Friedrich D. E. Schleiermacher yang mengajarkan bahwa agama itu adalah feeling absolute dependency (perasaan kebergantungan mutlak). Romantisisme akhirnya mengarah kepada postmodern sekarang ini yang berfokus pada perasaan manusia, sehingga kebenaran bersifat relatif. Bukan hanya itu saja, zaman postmodern juga ditunggangi oleh spiritualitas Gerakan Zaman Baru (New Age Movement). Pdt. Dr. Stephen Tong menyebutkan bahwa postmodern adalah filsafatnya, dan Gerakan Zaman Baru adalah macam spiritualitas yang sedang mengancam keKristenan. Gerakan Zaman Baru adalah suatu spiritualitas yang merupakan gabungan dari spiritualitas Timur, Buddhisme, Pantheisme, Hinduisme, mistisisme, Orientalisme, dll yang mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah “allah”. Ir. Herlianto, M.Th. dalam bukunya Humanisme dan Gerakan Zaman Baru (1990) menyebut Gerakan Zaman Baru (GZB) sebagai model Humanisme Baru atau Humanisme Kosmis (hlm. 31). Beliau menjelaskan bahwa kalau humanisme lama dan humanisme sekuler sebagai dua model humanisme yang menekankan superioritas rasio manusia, maka humanisme baru ini menekankan “pengalaman kemanusiaan yang bersifat mistis dan kosmis, ...” (hlm. 31) Bagi para penganut GZB, manusia memiliki suatu potensi dan energi yang dahsyat yang bisa dikembangkan mencapai keilahiannya yang penuh. Di sini, kita melihat TIDAK adanya pembedaan kualitatif antara Allah sebagai Pencipta dan manusia sebagai ciptaan. Bagi para penganut GZB, manusia identik dengan “Allah”, sehingga tidak heran, berbagai training motivasi yang membangkitkan potensi diri yang “ilahi” ini digemari oleh banyak orang di abad postmodern ini. Sebenarnya, ide dasar dari GZB bukanlah ide yang baru. Pengkhotbah 1:9 mengatakan, “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” Seperti kata Pengkhotbah bahwa tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari, maka spiritualitas GZB bukanlah hal baru. Ide dasar dari spiritualitas GZB sudah ditemukan di dalam realita dosa manusia pertama (Adam dan Hawa). Dosa manusia pertama sebenarnya bukan terletak ketika mereka makan buah pengetahuan yang baik dan jahat, tetapi pada ketidaktaatan mereka kepada perintah Allah. Sebelum menciptakan Hawa, Allah berfirman kepada Adam bahwa semua pohon dalam taman Eden boleh dimakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, tidak boleh dimakan oleh Adam, karena pada hari Adam memakannya, ia pasti mati (Kejadian 2:16-17). Perintah Allah sudah sangat jelas dan gamblang. Tetapi apa yang dilakukan Adam dan Hawa ? Mereka tidak taat kepada perintah-Nya. Apa yang mengakibatkan ketidaktaatan tersebut? Ketidaktaatan tersebut diakibatkan oleh diterimanya ide iblis yang mengatakan, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 3:4-5) Dengan kata lain, ketidaktaatan mereka disebabkan oleh iming-iming iblis tentang bagaimana manusia bisa menjadi seperti Allah, dan iming-iming itu akhirnya diikuti oleh manusia. Di dalam benaknya, manusia pertama berpikir adalah sungguh “indah”nya ketika mereka ingin menjadi seperti Allah, tahu mana yang baik dan yang jahat, dan akhirnya mereka tidak lagi membutuhkan tuntunan dan firman Allah. Jadi, keinginan manusia menjadi seperti Allah yang mengakibatkan mereka tidak taat dan ketidaktaatan itu melahirkan dosa. Itulah Gerakan Zaman Baru. Para penganut GZB tidak ingin tunduk kepada otoritas Allah dan Kebenaran, sebaliknya mereka malahan memberontak dan mereka berpikir bahwa mereka juga adalah “allah”. Tetapi herannya, ketika mereka berpikir bahwa mereka semua adalah “allah”, mereka tidak pernah berpikir bahwa jika benar bahwa semua adalah “allah”, bukankah tidak ada standar kebenaran dan hal ini bisa mengakibatkan terjadinya pertengkaran ? Kalau tidak ada standar kebenaran, bagaimana mereka bisa sampai kepada kesimpulan Gerakan Zaman Barunya ? Bukankah untuk sampai kepada kesimpulan bahwa semua manusia adalah “allah” perlu suatu standar kebenaran yang harus diverifikasi sebelumnya ? Di sinilah letak kegagalan spiritualitas GZB. Bagaimana dengan kita ? GZB banyak bermunculan di dunia postmodern ini, bahkan beberapa sudah meracuni keKristenan. Apa yang harus kita lakukan ? Tidak ada jalan lain, kita sebagai manusia ciptaan harus menyadari natur kita yang dicipta, terbatas, dan berdosa (created, limited and polluted—meminjam istilah dari Pdt. Dr. Stephen Tong). Bukan hanya itu saja, meminjam pengajaran John Calvin, kita dapat mengenal dan mengerti natur kita sebagai ciptaan ketika kita mengenal dan mengerti Allah sebagai Pencipta. Ketika kita mengerti hal ini, kita sadar betapa kita berdosa di hadapan Allah, dan tidak ada jalan lain untuk melepaskan dan menebus kita dari dosa, kecuali melalui inkarnasi Kristus.

Kedua, di dalam Inkarnasi ada hidup dan terang manusia, sedangkan di dalam zaman dunia berdosa hanya ada kematian dan kegelapan. Karena Allah menjadi manusia di dalam Pribadi Kristus, maka hidup manusia memiliki makna sejati dan terang. Mengapa ? Karena hidup manusia sebagai ciptaan memiliki makna sejati ketika hidup itu berkait dengan Sang Sumber Kehidupan (Yoh. 14:6). Dengan kata lain, hidup manusia sejati yang terbatas harus berkait dengan Kekekalan Sejati. Di sini lah segala problematika antara kekekalan dan keterbatasan dapat diatasi. Semua filsafat dan agama dunia tak mampu menyelesaikan kaitan erat antara kekekalan dan keterbatasan, tetapi puji Tuhan, Allah menyatakan diri-Nya secara nyata (tidak tertulis) hanya di dalam Kristus di mana di dalam Dia yang Kekal sajalah ada hidup dan terang bagi manusia yang terbatas. Dia inilah yang akan memimpin langkah hidup kita menuju makna hidup yang sejati melalui proses pengudusan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga umat pilihan-Nya akan bertumbuh makin lama makin sempurna seperti Kakak Sulung mereka yaitu Tuhan Yesus Kristus (Roma 8:29). Sehingga di dalam proses pengudusan ini, kita makin lama makin menemukan terang yang ada di dalam Kristus. Dengan ditemukannya terang itu, kita tidak lagi berada di dalam kegelapan dunia dan kematian (Yohanes 1:5, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”). Berbeda dari makna Inkarnasi ini, di dalam zaman postmodern (dan abad-abad sebelumnya) kita tidak melihat adanya secercah harapan, terang dan kehidupan. Sejak jatuhnya manusia ke dalam dosa, hubungan antara manusia dengan Allah, manusia dengan diri, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alam menjadi terputus. Manusia tidak lagi mencintai Allah dan firman-Nya, tetapi makin lama makin mencintai diri dan materi. Hal ini makin terlihat jelas di dalam abad-abad Pencerahan yang menitikberatkan kebenaran pada superioritas rasio manusia dan abad Postmodern yang menitikberatkan pada relativitas kebenaran. Manusia semakin lama semakin hidup terlepas dari Allah, bahkan sengaja ingin melepaskan diri dari Allah. Tetapi akibatnya ? Apakah mereka menemukan kehidupan dan terang di dalam hidupnya ? Tidak. Mungkin, mereka sesaat menemukan “kebahagiaan” (kesenangan), tetapi itu tidak bernilai kekal. Justru semakin hidup mereka terlepas dari Allah, mereka semakin tidak menemukan arti hidup dan terang di dalam hidupnya, apalagi sukacita sejati. Tidak heran, di dalam zaman kita ini, tingkat bunuh diri bukan makin menurun, tetapi makin naik, ditambah meningkatnya tingkat perceraian, aborsi, free-sex, perilaku homoseksual, transeksual (banci), dll. Semuanya itu membuktikan bahwa hidup manusia yang terlepas dari standar kebenaran Allah menemukan kebingungan, kematian dan kegelapan. Meskipun mereka belum mati final, mereka sudah mencicipi kematian di dunia ini, karena keberdosaan mereka. Bukan hanya itu saja, hidup mereka pun akan menemui kegelapan demi kegelapan, sehingga akhirnya keputusasaan menimpa mereka. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita juga menemui keputusasaan di dalam hidup ? Jika ya, saya menantang Anda untuk bertobat, kembalilah kepada Kristus sebagai Sumber Hidup dan Terang manusia yang akan memberikan kepada kita makna hidup sejati dan terang yang ada di dalam hidup kita, sehingga makin lama hidup kita akan menemukan damai dan sukacita sejati meskipun harus menghadapi berbagai penganiayaan, masalah dan penindasan. Maukah Anda sekarang menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda ?

Ketiga, di dalam Inkarnasi ada semangat kerendahan hati, sedangkan di dalam dunia berdosa hanya ada semangat tinggi hati. Ketika Allah mau menjelma menjadi manusia dan mengenakan tubuh manusia (meskipun tidak meninggalkan atribut Ilahinya), itu membuktikan bahwa Ia sangat rendah hati. Kerendahan hati-Nya juga ditunjukkan dengan lahirnya bayi Kristus di kandang binatang. Di dalam pemikiran umumnya, seorang raja yang agung pasti lahir di istana yang mewah. Tetapi bayi Kristus yang adalah Raja di atas segala raja, bahkan Allah Pribadi Kedua itu tidak dilahirkan di istana yang mewah, tetapi di kandang binatang yang hina. Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam Natal Akbar 2007 di Surabaya (13 Desember 2007) memberikan judul khotbahnya, “Juruselamat Dalam Palungan”. Judul ini sangat tepat mengartikan bahwa Kristus yang adalah Raja yang paling agung, Allah itu sendiri bersedia dan rela lahir di kandang binatang yang hina, bau, dan kotor itu. Status-Nya sebagai Raja di atas segala raja tidak mau ditonjolkan, tetapi ditutupi, mengapa ? Apakah Ia munafik ? TIDAK. Justru itu membuktikan bahwa Dia sangat rendah hati. Dia tidak minta dilahirkan di hotel berbintang, istana yang megah, dilayani oleh para pelayan, dll. Dia malahan lahir di kandang binatang, hidup melayani sesuai dengan tugas dari Bapa, bahkan mati disalib, dikubur di dalam kuburan yang dipinjam dari Yusuf dari Arimatea, serta bangkit dari antara orang mati. Semua kehidupan-Nya menunjukkan bahwa Ia benar-benar Anak Allah yang Mahatinggi yang harus dipuji, bukan karena fenomena-fenomena yang membuktikan hal itu, tetapi esensi yang tersembunyi di balik fenomena-fenomena yang kelihatan lemah, hina, dll. Sesuai dengan prinsip kerendahan hati ini, sebagai orang Kristen sejati, kita dituntut untuk hidup rendah hati seperti Kristus juga adalah Pribadi yang rendah hati (Matius 11:29). Bagaimana kita bisa hidup rendah hati ? Rendah hati berarti tidak menonjolkan diri. Rendah hati adalah sikap ingin menyenangkan hati Tuhan dan tidak menuruti keinginan diri yang berdosa. Bagaimana dengan dunia kita ? Dunia kita berbeda total dengan prinsip Inkarnasi. Kalau Inkarnasi mengajarkan dan menuntut kerendahan hati bagi umat pilihan-Nya, maka konsep dunia mengajarkan dan menuntut adanya pemuasan diri (sombong/tinggi hati). Artinya, dunia kita terus mendengungkan konsep bahwa manusia itu hebat, maka mereka harus mengaktualisasi diri (prinsip Abraham Maslow), supaya mereka makin dikenal. Prinsip ini diadopsi oleh mayoritas filsafat dan agama di dunia. Mereka ingin dirinya dikenal, tampak religius, dll. Bahkan di dalam keKristenan, konsep ini pun ada. Beberapa hamba Tuhan dari gereja kontemporer minta diinapkan di hotel berbintang, minta dibayar dengan gaji besar, dll. Kalau tidak, “hamba Tuhan” ini tidak mau berkhotbah (melayani) di gereja yang mengundangnya. Bandingkan perilaku-perilaku ini dengan prinsip Inkarnasi Kristus yang tidak minta dilayani, tetapi melayani. Prinsip ini seharusnya menyadarkan kita bahwa sebagai umat pilihan-Nya di dalam Kristus, kita tidak boleh sombong, tetapi kita harus rendah hati, mintalah agar kiranya Tuhan memurnikan hati dan motivasi kita di hadapan-Nya, sehingga semakin lama kita semakin rendah hati, bersedia dikoreksi dan bertumbuh sesuai pertumbuhan yang diinginkan Tuhan (Efesus 4:13). Sikap rendah hati hanya bisa didapat ketika hati dan motivasi kita terlebih dahulu dimurnikan oleh Tuhan melalui Roh Kudus. Bersiapkah kita untuk dimurnikan Tuhan ?

Keempat, di dalam Inkarnasi ada semangat pengorbanan, sedangkan di dalam dunia berdosa hanya ada semangat mencari untung. Prinsip Inkarnasi terakhir adalah prinsip pengorbanan. Di dalam kerendahan hati-Nya, Kristus memiliki semangat pengorbanan. Pengorbanan berarti ada semangat/hasrat ingin menyenangkan orang lain dengan mengorbankan apapun yang kita miliki. Prinsipnya adalah kita mau menderita, rugi, dll demi sesuatu/seseorang (yang berharga/bernilai). Itulah yang dilakukan Kristus. Di dalam kerendahan hati dan ketaatan-Nya menjalankan kehendak Bapa, Ia mengorbankan hidup-Nya. Dari lahir, Ia harus mengorbankan tubuh mungil-Nya untuk diletakkan di dalam palungan di kandang binatang. Di dalam masa hidup-Nya, Ia banyak difitnah oleh orang lain bahkan oleh para pemimpin agama pada waktu itu (ahli Taurat). Ketika memberitahu tentang penyaliban-Nya, Ia sempat tidak dimengerti oleh Petrus yang “menasehati”-Nya agar Dia tidak usah disalib (Matius 16:22). Salah satu “murid”-Nya, Yudas Iskariot mengkhianati-Nya dengan menjual Yesus dengan tiga puluh keping perak (Matius 26:15) dan akhirnya mati gantung diri (Matius 27:3-5). Pengorbanan-Nya yang terbesar ditunjukkan ketika Ia harus menyerahkan diri-Nya untuk disalib di Golgota. Ketika kita melihat banyaknya pengalaman pahit yang harus dialami-Nya, kita harus menyadari bahwa itu semua dilakukan-Nya untuk mengasihi dan menebus umat pilihan-Nya yang berdosa. Kasih-Nya kepada umat pilihan-Nya sangat besar, sehingga Ia rela membayar harga sebesar apapun untuk menunaikan tugas dari Bapa-Nya untuk menebus kaum pilihan-Nya. Seperti Kristus yang rela berkorban bagi kita, kita pun dituntut untuk hidup rela menyangkal diri. Hidup berkorban identik dengan hidup menyangkal diri. Jangan pernah berkorban demi sesuatu yang fana/tidak kekal. Tetapi berkorbanlah demi sesuatu yang bernilai kekal. Berkorban untuk sesuatu yang kekal itulah hidup yang menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus (Matius 16:24). Pdt. Dr. Stephen Tong mengartikan hidup menyangkal diri sebagai hidup yang sinkron dengan kehendak Tuhan, yaitu mencintai apa yang dicintai oleh Tuhan dan membenci apa yang dibenci oleh Tuhan. Sebagaimana Kristus telah melakukan hal tersebut bagi kita, kita pun dituntut untuk hidup meneladani Kristus. Hidup menyangkal diri adalah hidup yang tidak menghiraukan hidup mati, untung rugi sendiri, tetapi rela menyerahkan nyawa kita demi Kristus. Sebelum dijamah Tuhan, Paulus (Si Kecil) yang dulu bernama Saulus (Si Besar) ingin menganiaya jemaat Kristus. Ia menuruti ambisi dirinya yang berdosa. Tetapi puji Tuhan, setelah ia dijamah oleh Kristus sendiri dalam perjalanan menuju ke Damsyik, ia dipulihkan. Dulu ia berambisi untuk membunuh jemaat Kristus, sekarang ia “berambisi” dan berapi-api melayani Tuhan dengan memberitakan Injil Kristus meskipun harus mengalami penderitaan dari para ahli Taurat, orang-orang lain bahkan mengalami karamnya kapal, dan berbagai rintangan lainnya. Ia melakukan semuanya hanya demi Kristus. Di dalam Kisah Para Rasul 20:24, ia berkata, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Di dalam Filipi 1:21, Paulus berani mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Hal yang sama juga terdapat di dalam Filipi 3:7-8, di mana Paulus juga mengatakan, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,” Mengapa Paulus bisa mengatakan hal-hal yang agung tersebut ? Karena ia telah ditempa oleh Tuhan untuk menjadi rendah hati dan siap berkorban apapun demi Kristus. Bandingkan hal ini dengan semangat zaman kita yang tidak mau mengorbankan diri, tetapi gemar mengorbankan orang lain demi kesenangan diri (win-win solution). Zaman kita sungguh menakutkan dan mengerikan. Manusia tidak segan-segan memanfaatkan orang lain demi kesenangannya sendiri. Bahkan yang lebih mengerikan, anak tidak segan-segan membunuh orangtuanya sendiri hanya karena permintaannya (yaitu minta dibelikan sepeda motor atau HP) tidak dipenuhi oleh orangtua. Saudara tidak segan-segan menghasut saudara lainnya hanya supaya bisa mengeruk keuntungan saudara lainnya. Sehingga Amsal 18:24 sampai berkata, “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.” Di sini kita melihat parahnya dunia berdosa yang makin lama makin rusak. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita ikut-ikutan rusak atau kita dipanggil menjadi duta Kristus untuk siap berkorban bagi Kristus dengan memberitakan Injil ? Di tengah arus dunia postmodern yang makin tidak menentu dan tidak berpengharapan ini, biarlah semangat Inkarnasi yaitu semangat berkorban mencerahkan dan mendorong hati dan pikiran serta tindakan kita untuk memberitakan Injil dan rela membayar harga demi Injil tersebut. Ketika kita rela mengorbankan apapun demi Kristus, percayalah, jerih payah kita tidak akan pernah sia-sia, mengapa ? Karena Kristus sendiri bersabda, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Matius 5:10-12).


Di tengah arus dunia berdosa yang semakin gelap, tak menentu, tak berarah, tak bermakna, bahkan putus asa ini, kepada siapakah kita meletakkan dasar hidup kita ? Kepada diri sendiri atau harta atau orang lain yang hebat/baik, dll ? Ataukah kita dengan kerendahan hati mengaku bahwa kita yang terbatas harus mendasarkan hidup hanya kepada Allah, Sang Pencipta dan Sumber Kehidupan, sehingga hidup kita menjadi bermakna ? Biarlah perenungan di momen Natal ini menjadi perenungan dan komitmen hidup dan hati kita di hadapan-Nya bahwa di dalam kehidupan kita sebagai anak-anak-Nya di dalam Kristus, kita hanya mau menTuhankan dan meRajakan Kristus di dalam kehidupan kita, sehingga nama-Nya sajalah yang dipermuliakan sampai selama-lamanya. Maukah kita berkomitmen demikian ? Ingatlah : ada pengharapan sejati di dalam Kristus di hari Natal. Selamat Natal. Kiranya Tuhan Yesus memberkati. Soli Deo Gloria. Solus Christus. Amin.