Rabu, 28 Desember 2011

Pertobatan Lahir Baru Vs Pertobatan Agama

Yohanes 3 : 3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."
II Korintus 5 : 17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Matius 16 : 12 Ketika itu barulah mereka mengerti bahwa bukan maksud-Nya supaya mereka waspada terhadap ragi roti, melainkan terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki.

Lukas 9 : 23 Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.

Bagi kebanyakan orang di dunia ini istilah kata pertobatan bukanlah hal yang asing. Apakah mereka mengerti tentang makna pertobatan? Jawabnya belum tentu saudara! Apakah definisi pertobatan menurut anda? Umumnya orang memaknai pertobatan adalah sesuatu yang berhubungan dengan moral /karakter / kelakuan atau tindak tanduk seseorang. Sebab itu bila kita melihat seseorang melakukan kejahatan maka kita menganjurkan orang itu untuk bertobat. Lalu bagaimana caranya orang untuk bertobat? Apa sarananya?

Biasanya sarana orang untuk bertobat adalah agama. Agama dijadikan rujukan utama bagi manusia untuk bertobat. Semua agama mengajarkan hal yang sama, agar manusia mau bertobat dari kelakuannya yang jahat. Inilah yang disebut dengan Pertobatan Agama. Makna pertobatan semacam inilah yang diadopsi oleh umumnya manusia di dunia ini. Setiap penganut agama apapun agamanya merasa berbahagia bila seluruh anggota keluarganya rajin beribadah menurut agamanya masing masing, sebaliknya setiap penganut agama akan merasa kecewa dan sedih bila ada anggota keluarganya tidak lagi beribadah di gedung tempat ibadah agama mereka, misalnya ada anggota keluarganya yang tidak beragama/kafir atau ada anggota keluarganya yang pindah dari agama yang dianutnya sejak semula. Dan dengan penuh keyakinan mereka menghakimi anggota keluarganya itu dengan mengatakan bahwa ia telah sesat dan perlu bertobat kembali pada agamanya yang semula.

Inilah realitas yang terjadi di masyarakat kita, dan ini terjadi bukan saja di Negara kita tetapi sudah terjadi dimana-mana. Agama sudah di kultuskan layaknya seperti Tuhan. Para pemimpin agama dengan berbagai sebutan seolah-olah Nabi yang mewakili Tuhan di muka bumi ini. Padahal setelah kedatangan Tuhan Yesus, Allah tidak mengirim lagi seorang Nabi di dunia ini. Tuhan Yesus menggenapi atau menyelesaikan apa yang belum sempurna dari tugas para nabi yang di utus Allah sebelumnya. Kedatangan Tuhan Yesus tidak lagi memilih seorang Nabi, tapi Ia memulainya dengan mencari para murid. Dan para murid inilah yang kemudian menjadi pelanjut misi Injil KeselamatanNya.


Agama tidak bisa menyelamatkan manusia dari dosa. Agama / torat adalah laksana cermin yang hanya dapat memperlihatkan kepada manusia bahwa manusia telah berdosa. Dan Agama/ Torat hanya memperlihatkan bahwa akibat dosa manusia sudah mengalami kematian kekal terpisah dari Allah sebagai sumber hidupnya. Jadi Agama bukanlah Juruselamat yang dapat menyelamatkan manusia. Sebab itu sangatlah keliru bila ada orang yang mengklaim dirinya sudah selamat dengan menganut suatu agama tertentu. Bahkan pemimpin agama apapun tidak punya otoritas atas keselamatan manusia bahkan untuk dirinya sendiri yang telah berdosa. Rasul Paulus dalam suratnya yang tertulis di Alkitab mengatakan bahwa semua orang telah berdosa dan tak ada seorangpun yang benar. Sebab itu Allah mengutus Sang Kebenaran di dalam Tuhan Yesus Kristus yang telah datang melalui Jalan Kebenaran, bukan melalui jalan agama atau jalan jalan lainnya. Sebab itu perjumpaan dengan Sang Kebenaran itu merupakan satu satunya jalan keselamatan bagi manusia. Tapi bagaimana caranya manusia bisa bertemu dengan Juruselamat atau Sang Kebenaran itu? Apakah dengan menganut suatu agama tertentu?

Untuk menjawabnya, marilah kita meneliti kembali latar belakang tentang kedatangan Tuhan Yesus ribuan tahun lalu. Kedatangan Tuhan Yesus dimulai dengan seruan pertobatan dari Yohanes Pembaptis. Pada zaman Yohanes Pembaptis sudah ada Bait Allah ( Gereja ) yang dipimpin oleh para Imam/Imam Besar/ kaum parisi/ saduki / ahli kitab, yang sudah dibangun sejak zaman Raja Salomo. Oleh sebab itu pada waktu mereka menemui Yohanes Pembaptis, dengan keras Yohanes Pembaptis mengatakan dengan 2 seruan yaitu pertama Ia menyerukan : " Bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat " dan hasilkanlah buah buah pertobatan. Seruan kedua : " Hai Ular beludak jangan harap kalian telah bebas dari hukuman Allah…….dst".

Dengan demikian jelaslah di sini bahwa Yohanes Pembaptis bukan memberitakan agama tertentu dan Yohanes Pembaptis tidak menggunakan sarana gedung Bait Allah yang dipimpin oleh pemimpin agama waktu itu, tetapi Ia memilih tempat terbuka di sungai Yordan. Yohanes menyampaikan berita pertobatan Injil Keselamatan, yang bukan dapat diperoleh dari jalan agama. Secara tersiratpun Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa baptisan air yang dilakukannya tidaklah menyelamatkan dengan mengatakan bahwa kalian akan dibaptis oleh RohKudus yang merujuk pada berita kedatangan Sang Juruselamat, Tuhan Yesus Kristus. Dan apa yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis dikonfirmasi ulang pada saat kedatangan Yesus dan direalisasikan setelah kenaikan Tuhan Yesus ke Surga.

Banyak orang, khususnya di kalangan orang orang Kristen pada masa kini yang masih memiliki pemikiran bahwa pada waktu seseorang dinyatakan sebagai pemeluk agama Kristen, lalu mengikuti ritual baptisan air maka orang itu serta merta meyakini bahwa dirinya sudah lahir baru. Dan ini diperkuat oleh ajaran para imam/rohaniwan masa kini yang memberi jaminan bahwa mereka telah selamat dan sudah lahir baru. Sungguh sungguh memperihatinkan! Melalui renungan ini saya tergerak untuk memberikan pemahaman yang utuh tentang makna lahir baru. Lahir Baru bukanlah suatu dogma agama yang membutuhkan pengdoktrinan dengan cara cara katekesasi seperti yang dibiasakan banyak gereja dewasa ini. Lahir Baru adalah bentuk pertobatan yang disyaratkan oleh Tuhan Yesus sendiri untuk menjadi pengikutnya (muridnya). Kalau begitu apa artinya Pertobatan Lahir Baru ? Seperti telah diuraikan dalam uraian sebelumnya tentang pertobatan agama, dimana yang jadi rujukan adalah agama. Apa itu pertobatan Agama? Di samping pengdoktrinan (katekesasi) dari agama yang bersangkutan, pertobatan agama juga mengacu pada perubahan karakter/ moral, misalnya orang jahat harus berubah menjadi baik. Apakah Pertobatan Lahir Baru sama seperti itu? Sama sekali bukan saudara! Lalu apa arti pertobatan lahir baru yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus?

Kepada Nikodemus Tuhan Yesus berkata : Bila seseorang tidak dilahirkan kembali maka ia tidak bisa melihat kerajaan Allah. Dan kepada para murid/pengikutNya Tuhan Yesus mensyaratkan untuk mengikut Yesus, haruslah menyangkal diri dan memikul salibnya, lalu baru mereka layak mengikut Yesus. Di sini ada kata layak berarti orang yang tidak mentaati syarat ini berarti ia tidak layak, tidak perduli apapun profesi anda, baik pendeta, majelis gereja atau siapa saja harus melalui syarat ini. Oleh sebab itu pada penjelasannya tentang akhir zaman, Tuhan berkata kepada orang orang yang mengabaikan syarat ini dengan berkata : Aku tidak kenal engkau hai pembuat kejahatan! Padahal mereka mengatakan bahwa aku berdoa demi namaMu, aku berkhotbah demi namamu ….dst. kami bukanlah penjahat, seperti pembunuh, pelacur dlsb. Dengan kata lain mereka ingin mengatakan bahwa kami adalah penganut agama Kristen dan mengenal namaMu, tapi Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan : "Aku tidak Kenal Engkau, hai pembuat kejahatan!

Pertobatan Lahir baru bukanlah sekedar perubahan karakter/moral saja. Tetapi Pertobatan Lahir Baru adalah dimulai dengan perubahan keadaan. Dirubah dari keadaan lama menjadi keadaan baru. Dan hal ini dicontohkan sendiri oleh kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini. Tuhan Yesus yang adalah rupa/ keadaan Allah mau merendahkan diri menjadi maha hina dengan melepaskan/mengosongkan diri menjadi manusia yang maha hina, sebagai gambaran pengakuan keadaan orang berdosa meskipun Tuhan Yesus tidak pernah berdosa. Sehingga orang yang mau mengakui keadaan berdosanya, itulah yang mendapat belas kasihan Allah, sama seperti belas kasihan Allah ketika melihat putra tunggalNya yang mengambil rupa keadaan seorang berdosa yakni dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Oleh sebab itu Yesus di tinggikan dan dimuliakan karena ketaatan terhadap Allah BapaNya. Menjadi Serupa dengan Yesus, berarti ikut sama dalam penderitaan dan kematiannya dan setelah itu ikut pula dalam kebangkitan dan kemuliaanNya.

Mencermati keadaan zaman ini sungguhlah memperihatinkan karena orang tidak lagi memperdulikan akan keselamatan surgawi, karena mereka mengira pertobatan agama yang mereka miliki sudah menjamin keselamatan mereka. Sebab itu mereka sangat fanatik atau patuh pada para pemimpin agama sebagai orang yang mereka kagumi, padahal mereka terkecoh, karena sang pemimpin agama tidak punya otoritas apa apa untuk menjamin keselamatan orang lain bahkan untuk menjamin dirinya saja tidak punya otoritas apa apa. Mengapa orang lebih terbuai dengan ajaran para pemimpin agama ketimbang mengikuti perintah pertobatan lahir baru? Karena pemimpin agama lebih aspiratif dan bisa kompromi menuruti selera manusia, sedangkan ajaran Tuhan Yesus sangat kaku, apa adanya tidak bisa kompromi. Sejarah mencatat Tuhan Yesus ditinggalkan orang banyak dan dikucilkan seorang diri, karena kekonsistenan dalam mentaati tugas yang diperintahkan BapaNya. Inilah bukti penyangkalan diri yang telah dilalui oleh Yesus. Sebagai pengikutnya kitapun diperintahkan untuk serupa baik dalam keadaan maupun dalam ketaatanNya. Selaku hamba Kristus saya berharap dengan uraian ini anda sudah bisa membedakan mana yang Pertobatan Agama dan mana yang pertobatan Lahir Baru seperti yang disyaratkan oleh Tuhan Yesus untuk menjadi murid/pengikutnya.

Mengapa manusia perlu lahir baru untuk memperoleh keselamatan surgawi? Jawaban atas pertanyaan ini sangatlah urgent untuk diketahui semua manusia di dunia ini. Karena sangatlah minim penjelasan mengenai hal ini bahkan nyaris tidak ada yang mau memberitakannya. Melalui tulisan ini selaku hamba Kristus saya berkesempatan untuk menjelaskannya. Seperti kita ketahui bahwa manusia pertama yang bernama Adam diciptakan sesuai dengan gambar Allah dan dihembuskan oleh nafas Allah/ Roh Allah sendiri, sebab itu disebut manusia Allah pertama ( Adam I ). Tetapi setelah Adam berdosa , maka gambar Allah telah rusak. Dan Roh Allah yang Maha Kudus tidak lagi berdiam di dalam diri manusia pertama ( Adam I). Dan setelah manusia berdosa, maka keturunannya bukan lagi lahir dari benih Allah. Tetapi dilahirkan dari perpaduan antara benih laki laki dan benih perempuan. Keturunan manusia lahir dari benih dosa termasuk kita umat manusia yang hidup pada masa kini yang mengakibatkan kematian kekal di neraka.

Dalam kitab Injil Tuhan Yesus berkata dengan analogi tanaman. Ia mengatakan : Benih yang jahat akan menghasilkan benih yang jahat pula. Benih dosa akan menghasilkan benih dosa pula. Benih dosa yang ada di dalam diri manusia harus diganti oleh benih Allah yang baru. Dan untuk itu telah dinubuatkan ribuan tahun lalu sebelum kedatangan benih Allah yang baru di dalam wujud Tuhan Yesus Kristus. Dalam kitab Ibrani dikatakan bahwa Yesus adalah benih Allah yang baru atau disebut manusia Allah yang baru ( Adam ke II ). Sebagaimana benih tanaman, maka benih yang baru haruslah di tanam di tanah mengalami proses kematian. Dan hal itu telah digenapi oleh Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus adalah gambar Allah yang baru atau manusia Allah yang baru ( Adam ke II ). Ia tidak dilahirkan oleh benih laki laki, tetapi dilahirkan oleh benih Roh kudus, sama halnya dengan gambar Allah yang pertama ( Adam I ), bedanya gambar Allah/ benih Allah yang baru tidak pernah berbuat dosa. Alkitab menyatakan : Karena dosa ketidak taatan manusia lama (Adam I ), maka kita keturunan manusia lama mewarisi dosa yang sama dan hukuman kekal api neraka. Sebaliknya karena ketaatan manusia baru ( Adam II ), maka bagi manusia yang mau mati dari manusia lamanya dan bersatu dengan benih Allah yang baru, melalui kelahiran baru akan diselamatkan mewarisi hidup kekal. Amin