Rabu, 16 November 2011

KESAKSIAN ROBBY SUGARA

 Robby Sugara (58) sempat menelantarkan keluarganya selama 14 tahun. Ia kembali berkat doa yang tak putus dari anak-anaknya

Robert Kaihena yang kemudian kita kenal dengan Robby Sugara berlimpah kasih sayang dari kedua orangtuanya, Matias Kaihena dan Inem. Kendati dibesarkan di negeri Belanda, Robby tidak mengenal kehidupan bebas. ”Mereka menjaga saya seperti anak perempuan. Saya ini kurang pergaulan, tahunya hanya rumah. Nggak pernah ke mana-mana,” kenang Robby yang hidup dalam keluarga harmonis itu.

PRIA ALIM

Saat kembali ke Jakarta, 1968, Robby adalah remaja alim yang hidupnya lu-rus. Setelah menyelesaikan pendidikan di STM Poncol, tahun 1970, ia bekerja sebagai pelayan restoran di sebuah hotel berbintang. Kariernya dimulai dari bawah, sebagai tukang nge-lap piring. Pelan-pelan, kariernya menan-jak hingga menjadi manajer restoran.Tak jauh dari hotel berbintang itu, Bertha Iriani Mariana tinggal bersama keluarganya. Gadis cantik peranakan Papua dan China itu memikat hati Robby. ”Kami kenal lewat teman. Lalu pacaran, sempat putus nyambung beberapa kali. Akhirnya tahun 1974, kami menikah,” kisahnya. Setahun menikah, lahir Ella Inggrid Maria, buah cinta mereka. Tahun itu pula, Robby mulai masuk dunia film. Berawal dari film Rahasia Perawan (1975), karier peranakan Belanda-Jawa dan Ambon di dunia hiburan melesat pesat.


MASUK DUNIA FILM

 1975 hingga 1983 adalah masa kejayaan Robby. Para gadis menyanjungnya. Para ibu mengaguminya. Produser pun mencintainya. Hampir semua film yang dibintanginya laris manis. Sebutlah di antaranya dr. Karmila, Kabut Sutra Ungu, Anna Maria, Romantika Remaja, dan masih banyak lagi. Pria Brisk itu telah memikat insan di seluruh negeri. Ber-sama Roy Marten, Doris Callebout, Yati Oktavia, Yenny Rahman, ia menjadi The Big 5, ikon film nasional kala itu. Popularitas membuat hidup Robby menjadi lebih mudah. Semuanya berubah drastis. Yang dulunya hidup pas-pasan, uang di kantong hanya cukup untuk naik bis, jadi berlimpah harta. Yang sebelumnya kuper jadi gaul abis. Ia bagaikan burung yang lepas dari sangkarnya. Bebas dan lepas. Mulailah, ia mencicipi pergaulan bebas yang tak pernah dirambahnya. Disko dan pesta jadi menu hariannya. Foya-foya jadi bagian kehidupan barunya.Namun, kemakmuran itu tak berumur lama. 1983, saat perfilman nasional mulai mundur, bintang Robby pun meredup. Order main film sepi. Bahkan tak ada sama sekali. Robby kehilangan pegangan. Tabungannya menipis. Sementara, di rumah ada isteri dan ketujuh anak mereka yang bergantung penuh pada Robby.

BANGKRUT

Menghadapi kondisi krisis ini, Robby dan Etha, justru tak berjalan beriring. Pertengkaran kerap terjadi. Kondisi mereka memburuk. Perusahaan yang didirikan Robby bersama sang rekan, morat-marit. Nyaris bangkrut. Untuk ”menyelamatkan” usaha mereka, sang rekan mengambil jalan pintas. Ia memin-ta Robby mendekati seorang pengusaha perempuan yang dekat dengan penguasa, kala itu. Harapannya, perempuan itu bisa menolong usaha mereka.MINGGAT Berawal dari urusan bisnis, hubungan Robby dengan perempuan itu, sebut saja Tita, merembet ke hubungan pribadi. Robby kerap curhat masalah keluarganya pada Tita. Bagai mendapat umpan, Tita yang saat itu terpikat dengan ketampanan Robby, berusaha menjadi penolong. Akhirnya, mereka jatuh cinta. Etha tak berdaya. Ibarat perangko dengan amplopnya, mereka sudah lengket. Sulit dipisahkan.Menjalin hubungan dengan Tita, Robby bagaikan menemukan oase atas kerontang hidupnya. Meski sebenarnya, itu hanyalah oase semu. Kewajiban menghidupi isteri dan tujuh anak adalah beban berat bagi Robby. Bersama Tita, Robby melihat masa depan cerah. Tahun 1984, Robby mengambil keputusan fatal. Ia meninggalkan Etha bersama ketujuh anak mereka yang masih kecil. Si sulung Ella, berusia 11 tahun. Sementara Juan, si bungsu masih 9 bulan. ”Saya benar-benar pengecut. Saya tinggalkan keluarga, tanpa harta sepeser pun. Saya pergi menyelamatkan diri sendiri,” katanya sendu. Bersama Tita, ia menghilang dari Jakarta. Menuju ujung bumi Jawa Barat. Mereka membangun kehidupan baru di pinggir laut Selat Sunda. Benar dugaan Robby, hidupnya bersama Tita berkelimpahan. Dalam waktu singkat, bisnis yang mereka rintis berkembang cepat. ”Kami membangun tempat penginapan indah di pinggir pantai. Tempat itu sering digunakan untuk kegiatan rohani seperti retreat dan doa semalam suntuk. Itu seakan membuktikan bahwa saya di jalan yang ”benar”,” kisah pria kelahiran Malang, 20 Juli 1950 itu. Robby bagai hidup di dunia mimpi. Kekayaan begitu mudah meng-hampirinya. Bersama Tita, tiga bulan sekali Robby melancong ke Eropa. Robby melupakan keluarga.



KELUARGA MENDERITA



Sementara Robby hidup bagai raja, keluarganya hidup di ujung jurang. Sepeninggal Robby, Etha merasa seakan langit runtuh menimpanya. Betapa tidak, tak hanya ditinggalkan suami, Etha juga dikucilkan keluarga besarnya. ”Papa saya marah besar, lalu memberi pilihan berat, Bawa ketujuh anakmu biar Robby yang urus dan kamu kembali ke keluarga. Kalau tidak, keluarga besar ga mau tahu urusan kamu dan anak,”’ kisah perempuan kelahiran 27 Mei 1953 itu.Pilihan yang amat berat. Namun, Etha memilih mempertahankan anak-anaknya. ”Bagi saya, anak-anak bukanlah hanya hasil hubungan suami isteri. Mereka adalah titipan Tuhan. Saya harus menjaga betul kepercayaan Tuhan ini,” tutur Etha tegas. Jadilah, episode pedih, kehidupan Etha ber-sama anak-anaknya dimulai.Etha tak mau lama-lama berkubang dalam kesedihan. Baginya, nasib tak perlu diratapi. Masalah harus segera diha-dapi. Di depannya ada tujuh anak yang harus dihidupi. Ia segera bergerak. “Awalnya saya tidak tahu harus memulai dari mana. Karena saya adalah ibu rumah tangga lulusan SMA yang tak punya keahlian khu-sus. Tapi, saya punya punya prinsip: apa yang orang bisa pasti saya bisa,” ujar perempuan yang besar di Papua itu.Ia tanggalkan gengsi sebagai isteri mantan artis terkenal. Ia datangi teman-teman untuk menawarkan jasanya. Entah itu mengurus paspor, SIM, perpanjangan STNK, dll. Tak hanya itu, ia juga masih sempat membuat dan berjualan kue. Menjual baju dengan cara kredit pun dilakoninya. Prinsipnya, ia harus bergerak demi anak-anak. Hasil yang ia dapatkan sehari harus bisa mencukupi kebutuhan selama tiga hari.



ANAK-ANAK STRES



Pagi-pagi, pukul 06.00 ia sudah keluar rumah. Baru pulang menjelang maghrib. Anak-anak di rumah diasuh oleh pembantu yang ikut mereka tanpa dibayar. Berkat kegigihannya, anak-anak tidak pernah kekurangan makan. Namun, mereka punya tunggakan uang sekolah dan tagihan listrik selama beberapa tahun.Tak hanya masalah ekonomi, Etha pun dihadapkan pada masalah psikologis anak-anaknya. Kepergian sang ayah, menorehkan luka mendalam pada hati mereka. Etha sering dipanggil ke sekolah lantaran anak-anak sering memperlihatkan perilaku ganjil. Suatu saat, Etha diminta datang ke sekolah Cilla, anak ketiganya saat istirahat pagi. Waktu itu, usia Cilla masih 9 tahun. Di saat teman-temannya berlarian dan tertawa riang, Etha mendapati Cilla tengah bengong. Pandangannya kosong. Sementara, Ella, si sulung sering kejang jika kangen dengan ayahnya. “Anak saya yang pertama hingga keempat yang saat itu berusia 7 tahun sudah terkena imbas dari kehancuran rumah tangga kami,” tutur Etha pedih.

Melihat anak-anak menderita, etha pun mengambil keputusan. di hadapan mereka, etha berjanji, “tidak ada bapak kedua di rumah ini. kecuali Bapak robby yang kita tunggu pulang.” rupanya, kata-kata itu menguatkan anak-anak. Mereka masih punya harapan, suatu saat akan bertemu dengan sang papa.



Anak-anak Cinta Tuhan



Sebagai manusia biasa, Etha sadar. Ia tak mungkin mampu mengatasi problem psikologis yang dihadapi anak-anaknya seorang diri. Apalagi Etha melihat kenyataan di sekelilingnya. Anak-anak dari keluarga broken home kehidupannya juga hancur kecanduan narkoba dan seks bebas. Ia tak mau anak-anaknya akan mengalami hal yang sama. Maka, ia membawa anak-anak dekat dengan Tuhan. Jadilah ketujuh anak Etha, akrab dengan kehidupan gereja sejak mereka kecil. “Saya tidak mau anak saya lepas dari tangan Tuhan. Ngeri rasanya,” katanya begidik. Keputusan itu memang tepat. Anak-anaknya bertumbuh dalam rohani. Suatu kali, si sulung meminjam satu kamar di rumah mereka. Awalnya, Etha tak tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana. Hingga suatu hari, ia mencoba mengintip dari jendela. Ia melihat tiga anaknya sedang memasang lilin di lantai. Setelah itu mereka bergabung dengan empat saudaranya yang lain, duduk bersila di lantai. Diterangi oleh sinar lilin (karena nunggak bayar selama dua tahun, listrik dicabut), mereka bergandengan tangan dan melantunkan pujian dan penyembahan pada Tuhan. Ketujuh anak itu bersatu hati, berdoa pada Tuhan. Sebelum mereka meminta sesuatu pada Tuhan, mereka berdoa, “Tuhan kami mengampuni papa kami, karena dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Tuhan kami juga mengampuni perempuan yang mengambil papa kami, beri suami lain supaya papa kami bisa pulang.” Tubuh Etha bergetar. Ada rasa haru bercampur syukur dan bahagia. Ia bangga melihat anak-anaknya tumbuh dalam Tuhan.



SEMPAT TERGODA



Kendati sudah bekerja keras membanting tulang, kondisi ekonomi keluarga mereka tak kunjung membaik. Kebutuhan makin meningkat,sementara uang makin susah didapat. Etha mulai putar otak. Ia ingin mendapatkan uang dengan cara mudah. Mungkinkah? Ah, ia melihat dirinya di cermin. Di sana ada sosok perempuan muda yang punya daya tarik kuat. Kendati dari rahimnya sudah lahir tujuh anak, perempuan itu tetap cantik dan menarik. “Jika lu butuh uang, telpon gue. Gue akan carikan lu kerjaan,” terngiang kembali ucapan sang teman beberapa waktu lalu. Etha tahu persis pekerjaan yang dimaksud sang teman. Rasanya, tak sudi ia menjalaninya. Tapi, ia harus berhadapan dengan kenyataan. Ia butuh uang untuk menghidupi anakanaknya. Etha melangkah ke telepon umum. Tangannya memutar sejumlah nomor. “Aku butuh pekerjaan, tolong carikan aku bos ya,” katanya gemetar. Etha sadar, ia tengah menjerumuskan dirinya sendiri. Namun, tak ada pilihan lain. Malam itu, Etha gelisah. Batinnya berperang. Sebagian melarang ia melakukan itu. “Kau ini tak punya harga diri!”. Sebagian lain, mendukungnya. “Ayolah, ini kesempatan bagus. Anak-anakmu butuh uang.” Pagi datang. Saat hendak bangun, ia mendapati kasur penuh dengan darah. Etha mengalami pendarahan hebat. Suatu hal langka yang tak pernah dialami sebelumnya. “Kalau pun saya menstruasi biasa gak gitu-gitu amat,” kenangnya. Ia lalu menelpon temannya, menceritakan kejadian itu. “Ah, lu stres aja kali,” begitu komentar sang teman. Maka, janji hari itu pun batal. Sebulan kemudian Etha kembali meminta pekerjaan pada sang teman. Namun, kejadian itu terulang kembali. Lagi-lagi Etha mengalami pendarahan. Bagi Etha, kejadian itu adalah sebuah teguran keras dari Tuhan. “Sejak itu, saya tidak berani melakukan itu. Jangankan melakukan. Bicara saja, saya udah takut,” ungkapnya. Jadilah, Etha kembali mencari uang dengan cara yang diperkenankan Tuhan.



DOA TAK KUNJUNG PUTUS



Hari berlalu. Ketujuh anak Robby tumbuh menjadi gadis dan perjaka. Mereka mewarisi keelokan fisik dari orang tuanya. Kerinduan pada sang ayah, tak kunjung pudar. Mereka masih setia, setiap hari berdoa pada Tuhan, mengharap sang papa kembali. Setahun, dua tahun, doa mereka seakan tak terjawab. Pada tahun kelima, salah seorang anaknya berkata, “Aduh Ma, ampun deh udah lima tahun gak balik juga.” Mereka mulai bosan. Tak kunjung mendapat jawaban dari Tuhan. Pada tahun kesembilan, enam dari tujuh anaknya “menyerah”. Mereka memperbolehkan Etha menikah lagi. Namun, Cilla, anak ketiganya melarang. “Jangan Ma. Mama tidak boleh menikah lagi. Jika mama kawin, papa gak bisa balik lagi. Masih ada aku yang duduk di kaki Tuhan. Tuhan pasti jawab doaku. Mama sabar ya,” ujar Cilla menguatkan sang mama.



PERTEMUAN MENGHARUKAN



Pada tahun kesepuluh, 1994, Ella si sulung berhasil menemukan “tempat perlarian” sang ayah. Ia lalu mengajak keenam adiknya ke ujung barat Pulau Jawa untuk bertemu Robby. Robby berdiri mematung. Di depannya ada tujuh anaknya yang kini tumbuh menjadi remaja. Cantik dan ganteng. Si sulung Ella (21) dan si bontot, Juan (11). Perasaan bersalah segera mendera Robby. “Adakah mereka marah, dendam dan benci padaku?”batin Robby penasaran. Namun, ah, lihatlah mata mereka. Mereka menatap Robby, ayah yang telah menelantarkan mereka selama 10 tahun, penuh kasih. Tak satupun keluar makian dari mulut mereka. Hanya satu permintaan mereka, “Papi pulang.” Pertemuan singkat itu menorehkan kerinduan mendalam pada hati Robby. Ia ingin kembali. Kerinduan yang mendalam itu akhirnya menjadi doanya. Ia sering menghabiskan malam di pinggir laut. Pikirannya selalu melayang ke keluarganya.



KEMBALI KE KELUARGA



Gelagat ini tercium oleh pasangan selingkuhannya. Ia tak rela Robby kembali ke keluarga. Maka, ia pun berusaha meneror Robby. “Saya mendengar ancaman, dia akan membuat saya cacat supaya tidak dapat kembali ke dunia film. Kalau sampai saya tinggalin dia maka saya akan diadukan ke polisi, dsb. Namun, semua itu sebenarnya malah meringankan langkah saya untuk segera meninggalkan dia,” kisah Robby pada Bahana di suatu pagi di Yogyakarta. Kerinduan Robby sudah tak tertahankan. Tahun ke-14, Januari 1998, ia menelpon Etha, berjanji akan kembali ke keluarga. Pada hari yang dijanjikan, ketujuh anaknya berkumpul di ruang tamu. Sambil menunggu Robby, mereka terus melantunkan pujian dan penyembahan pada Tuhan. Tepat jam 2 pagi, terdengar ketukan di pintu. Robby akhirnya pulang. Sama seperti saat meninggalkan keluarganya, Robby pun kembali ke keluarga dalam kondisi nol. Hanya ada uang Rp 60 ribu di dompetnya, dua celana jeans dan beberapa t-shirt. Semua kemewahan yang direguknya ditinggalkan begitu saja. Robby Sugara, si Big Five itu jadi pengangguran.



KELUARGA DIPULIHKAN



Untuk bertahan hidup, Robby sempat menjadi supir dan membantu Roy Marten mengurus cafe. Pada April 1998, Tuhan memberinya kesempatan untuk kembali ke sinetron. Di dalam keterbatasan itulah, justru keluarga Robby dipulihkan. Cinta kasih antara Robby dan Etha yang terkubur selama 14 tahun, Tuhan pulihkan. Kini, mereka bahkan seperti pengantin baru lagi. Belajar dari ketaatan anakanaknya, Robby kini men jadi pelayan Tuhan. Tahun 2005, ia tinggalkan dunia sinetron dan melayani Tuhan sepenuh waktu. Robby-Etha, pelayanan keliling Indonesia, bahkan luar negeri untuk menyaksikan kasih Tuhan dalam kehidupan mereka. Itulah kedahsyatan kasih Tuhan. Ia bisa mengubah sebuah kehancuran menjadi kemuliaan