Jumat, 08 Juli 2011

Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono


Beberapa Penemuan Arkeologis
Penggalian arkeologi  tanggal 1-11 April 1980 telah menemukan sebuah makam di daerah Talpiot, Yerusalem. Para arkeolog yang menemukan makam Talpiot tersebut adalah: Amos Kloner, Yosef Gath, Eliot Braun dan Shimon Gibson yang bekerja di bawah pengawasan Otoritas Kepurbakalaan Israel. Dalam makam Talpiot tersebut mereka menemukan 10 osuarium, yaitu peti/tempat untuk menyimpan tulang dan kerangka jenasah yang terbuat dari tanah gamping. Kemudian pada tanggal 14 Juni 2000 ditemukan makam yang disebut dengan “Makam Kain Kafan” (the Shroud Tomb) di Lembah Hinom, di wilayah Hakal Dama. Dari hasil penyelidikan yang menggunakan Carbon-14 di Accelerator Mass Spectometry Laboratory (Laboratorium Akselerator Spektrometri Massal) di Universitas Arizona, Texas, USA tanggal 9 Agustus dinyatakan bahwa kain kafan dari Hakal Dama berasal dari paruh pertama abad pertama Masehi. Dalam makam Hakal Dama tersebut ditemukan ratusan keping osuarium. Namun hanya sebanyak 20 osuarium saja yang berhasil direstorasi dan 3 osuarium di antaranya memuat inskripsi nama “Maria” (dalam bahasa Aram), sedangkan yang lain mungkin terbaca nama “Salome”. Kemudian tanggal 21 Oktober 2002 Hershel Shanks, editor jurnal Biblical Archaelogy Review mengumumkan di Washington, D.C. bahwa sebuah osuarium baru juga telah ditemukan dengan inskripsi nama “Yakobus anak Yusuf saudara dari Yesus”. Itu sebabnya kemudian disebut sebagai “Osuarium Yakobus”. Osuarium tersebut diperoleh dari seorang kolektor barang antic bernama Oded Golan. Dengan penemuan-penemuan arkeologis tersebut  kemudian terbit beberapa tulisan dan film yang menggemparkan. Misalnya tulisan dari James D. Tabor, “The Jesus Dynasty: The Hidden History of Jesus, His Royal Family and the Birth of Christianity”, kemudian tulisan dari Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino yang berjudul: “The Jesus Family Tomb: the Discovery, the Investigation, and the Evidence that Could Change History”. Juga sebuah film yang disutradarai oleh James Cameron yang pernah meraih sukses besar ketika menjadi sutradara film Titanic, ditayangkan dalam Discovery Channel di Kanada tanggal 4 Maret 2007 yaitu film yang berjudul: “The Lost Tomb of Jesus”.


Inskripsi Osuarium di Makam Talpiot
Sebagaimana diketahui bahwa makam di Talpiot ditemukan dalam suatu penggalian arkeologis sekitar awal bulan April 1980. Ketika ditayangkan pada hari Minggu Paskah tahun 1996 temuan makam di Talpiot sebenarnya belum mendapat perhatian publik karena hanya muncul sekilas saja. Baru pada tahun 2006, James D. Tabor mengangkat kembali hasil temuan arkeologis tersebut dalam bukunya yang berjudul: “The Jesus Dynasty”. Lalu “Discovery Channel” pada tanggal 4 Maret 2007 menayangkan film dokumenter dengan judul “The Lost Tomb of Jesus” di berbagai negara seperti: Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Israel dan Eropa. Segera dunia menjadi heboh. Apalagi dalam tayangan film dokumenter tersebut menyatakan bahwa di antara 9 osuarium di Makam Talpiot tersebut terdapat 6  osuarium dengan inskripsi nama-nama yang tertulis dalam Alkitab, yaitu:
a. “Yeshua bar Yehosef” dari bahasa Aram yang artinya: “Yesus anak Yusuf”
b. “Miriam”, ditulis dalam bahasa Aram, yang artinya: “Maria”
c. “Mariamene e Mara”,  sebagai nama Yunani untuk “Maria Magdalena” yang dikenal sebagai “Tuan”
d. “Yoses”, nama kecil dari Yusuf dari bahasa Yunani untuk menunjuk nama saudara Yesus
e. “Matya” dalam bahasa Ibrani yag menunjuk kepada nama “Matius”
f. “Yehuda bar Yeshua” dari bahasa Aram yang berarti: “Judah, anak Yesus”
Perhatian khusus makin menjadi-jadi terhadap Makam Talpiot, karena kemudian ditemukan pula osuarium yang diduga osuarium “Yakobus”. Dengan ditemukan osuarium  “Yakobus” yang diduga hilang, yaitu diperoleh dari seorang kolektor barang antik yaitu Oded Golan, maka osuarium di Makam Talpiot yang terdapat 9 buah osuarium kini bertambah menjadi 10 buah osuarium. Bila hipotesis ini bisa diterima, maka dalam makam Talpiot terdapat tambahan satu osuarium dengan inskripsi nama “Yakobus, anak Yusuf saudara Yesus”.  Penambahan osuarium Yakobus tersebut makin memperkuat dugaan (hipotesa) bahwa makam Talpiot merupakan makam dari keluarga Yesus. Sebab terkumpulnya nama-nama inskripsi itu yang kemungkinan menunjuk kepada “Yesus dan keluargaNya” di satu “cluster” merupakan kejadian yang sangat langka. Biasanya yang terjadi nama-nama seperti “Yesus”, “Maria”, “Yusuf”, “Simon”, “Yudas”, “Matius” ditemukan dalam berbagai osuarium di tempat yang saling terpisah.  Apalagi tahun 2005, Carney Matheson dan timnya telah memeriksa hasil endapan jenasah di Laboratorium Paleo DNA di Universitas Lakehead, Ontario dari osuarium “Yesus, anak Yusuf” dan  “Mariamene e Mara”. Hasil pemeriksaan mitokondria DNA menyatakan bahwa di antara 2 residu manusia tersebut ternyata tidak ditemukan hubungan persaudaraan maternal. Sehingga dalam film “The Lost Tomb of Jesus” disimpulkan bahwa “Yesus” dan “Mariamene e Mara” (yang diduga adalah Maria Magdalena) bukan saudara kandung, tetapi mereka mempunyai hubungan sebagai “suami-isteri”.

Tinjauan Kritis
Pada waktu merebaknya novel “Da Vinci Code” yang ditulis oleh Dan Brown  banyak orang Kristen menjadi panik dan terguncang “imannya”. Tetapi sebenarnya mematahkan buku “Da Vinci Code” relatif mudah sebab si penulis dengan tegas menyatakan bukunya tersebut hanyalah suatu karya fiksi. Kini dengan beberapa temuan yang disebut sebagai temuan arkeologis, khususnya temuan 9 osuarium di makam Talpiot dan osuarium Yakobus  tentunya tidak bisa lagi dianggap sebagai karya fiksi. Jika temuan 9 osuarium di Makam Talpiot dan osuarium Yakobus bukan karya fiksi, tetapi sebagai suatu fakta apakah ini berarti bahwa kesaksian Alkitab khususnya tentang Yesus, keluarga dan kebangkitanNya sekedar suatu omong-kosong belaka? Dalam hal ini kita selaku umat Kristen tidak boleh kuatir terhadap penemuan-penemuan arkeologis atau semacamnya. Bahkan kita selaku umat Kristen harus mendorong dengan tulus agar ilmu pengetahuan makin berkembang dan mampu menganalisa berbagai hasil temuan arkeologis sehingga kita dapat mengetahui bagaimana peristiwa atau kejadian sejarah di masa lampau secara tepat dan komprehensif. Namun yang sangat kita sesalkan adalah penemuan dengan payung ilmu “arkeologis” yang masih bersifat hipotetis dan spekulatif tersebut telah disimpulkan secara pasti sebagai suatu bukti bahwa 9 osuarium di makam Talpiot dan osuarium Yakobus sebagai penemuan arkeologi sisa-sisa jenasah Yesus dengan keluargaNya.
Menurut Craig Evans dalam bukunya yang berjudul “Jesus and the Ossuaries” menyatakan bahwa di dalam Makam Talpiot sebenarnya ditemukan tulang-belulang dari sekitar 35  orang yang berbeda. Kurang lebih separuh dari jumlah itu ditemukan dalam keenam osuarium yang memiliki inskripsi nama-nama seperti: “Yesus anak Yusuf”, “Maria, Mariamene e Mara”, “Yoses”, “Matius” dan “Yudas anak Yesus”. Jadi dalam keenam osuarium dengan inskripsi nama-nama “Alkitab” tersebut terdapat  sekitar 17 tulang belulang jenasah orang yang berbeda! Sehingga temuan dalam endapan organik dari berbagai jenasah yang telah diteliti dengan pengujian DNA tidak secara otomatis dan pasti menunjuk kepada nama yang tertulis dalam osuarium tersebut. Misalnya osuarium yang tertulis dengan inskripsi nama “Yeshua bar Yehosef” dari bahasa Aram yang artinya: “Yesus anak Yusuf” belum tentu hasil pengujian DNA menunjuk kepada residu asli dari nama tersebut. Demikian pula osuarium yang tertulis dengan inskripsi nama: “Mariamene e Mara”,  sebagai nama Yunani untuk “Maria Magdalena” yang dikenal sebagai “Tuan” (“master”) tidak berarti pasti menunjuk kepada DNA tokoh Maria Magdalena. Hasil DNA tersebut menjadi bersifat serba hipotetis, karena endapan jenasah yang diteliti dengan mitokondria DNA itu mungkin berasal dari tulang jenasah yang lain.
Dari sembilan osuarium di makam Talpiot tersebut hanya 6 buah osuarium yang memiliki inskripsi nama-nama. Keenam osuarium di makam Talpiot ternyata menggunakan inskripsi nama dari berbagai bahasa, yaitu bahasa Aram, Ibrani dan Yunani. Ini menunjukkan bahwa para jenasah yang dimasukkan dalam 6 buah osuarium tersebut berasal dari berbagai periode waktu yang berbeda. Mereka tidak dikubur dalam satu periode waktu misalnya sekitar tahun 30-100 M. Misalnya mengapa inskripsi nama “Miriam” dengan bahasa Aram, sedang inskripsi nama “Mariamene e Mara” dalam bahasa Yunani.
Sebagaimana diketahui, Amos Kloner adalah salah seorang arkeolog yang ikut menemukan makam Talpiot. Namun dia segera memberi bantahan sehubungan dengan pernyataan bahwa osuarium Yakobus berasal dari Makam Talpiot. Sebab dari penggalian di Makam Talpiot   awal bulan April tahun 1980 dia sama sekali tidak menemukan osuarium yang kesepuluh dengan pahatan nama, yang kemudian diklaim sebagai osuarium Yakobus. Artinya memang benar bahwa di Makam Talpiot semula terdapat 10 buah osuarium, tetapi yang kesepuluh dan yang hilang itu sama sekali tidak memiliki pahatan nama, apalagi dengan inskripsi nama “Yakobus anak Yusuf saudara dari Yesus”. Demikian pula Joe Zias selaku mantan kepala museum dari Museum Rockerfeller telah menerima dan membuat katalog dari 10 osuarium yang telah ditemukan dalam penggalian arkeologi di Makam Talpiot. Tetapi dia menolak anggapan bahwa osuarium kesepuluh tersebut memiliki pahatan nama. Dengan kata lain, osuarium kesepuluh yang hilang itu tanpa inskripsi nama sama sekali. Bahkan menurut kesaksian Oded Golan si “pemilik” osuarium Yakobus menyatakan bahwa sebenarnya dia memperoleh osuarium tersebut dari daerah Silwan, dan bukan dari daerah Talpiot.  Dalam kasus ini kita perlu memperhatikan pernyataan seorang tokoh gereja yang hidup pada tahun 204-309 yaitu Eusebius dari Kaisarea. Eusebius pernah  melaporkan bahwa makam Yakobus terletak di dekat tempat dia wafat dibunuh sebagai seorang martir. Jadi menurut Eusebius, rasul Yakobus wafat di dekat bukit Bait Allah di lembah Kidron, yaitu di sekitar tempat makam Absalom. Padahal daerah Talpiot bukan berasal dari lembah Kidron.
Pertimbangan yang lain untuk menolak anggapan bahwa osuarium Yakobus berasal dari Makam Talpiot adalah karena ternyata ukuran osuarium Yakobus berbeda dengan 9 osuarium di makam Talpiot. Sebab osuarium Yakobus mempunyai ukuran: panjang  50 cm, lebar 30 cm dan tinggi 25, 5 cm. Sedang 9 osuarium yang ditemukan di Makam Talpiot memiliki ukuran: panjang 60 cm, lebar 26 cm dan tinggi 30 cm.
Hasil analisis mitokondria DNA terhadap endapan jenasah yang diambil dari osuarium dengan inskripsi nama “Yesus anak Yusuf” dan “Mariamene e Mara” sebenarnya hanya menyatakan bahwa DNA dari endapan manusia di osuarium dengan inskpripsi nama “Yesus anak Yusuf” tidak mempunyai hubungan darah maternal (garis darah dari satu ibu)  dengan “Mariamene e Mara”. Tetapi dari hasil tes DNA tersebut,  si pembuat film “The Lost Tomb of Jesus”yaitu James Cameron dan Simcha Jacobovi menyatakan bahwa “Yesus” dan “Mariamene e Mara” yang disebutnya sebagai “Maria Magdalena” mempunyai hubungan sebagai sebagai suami-isteri.  Padahal para ahli penguji DNA hanya menyatakan bahwa hasil tes DNA membuktikan bahwa mereka “berdua”  terbukti tidak mempunyai ibu yang sama. Ini berarti hubungan antara “Yesus anak Yusuf” dengan “Mariamene e Mara” sebenarnya bisa  memiliki hubungan sebagai saudara sepupu, saudara tiri atau beberapa kemungkinan lain yang mana mereka jelas tidak  satu darah dan tidak seibu sebagai hasil dari suatu hubungan perkawinan. Jadi kesimpulan yang menyatakan bahwa “Yesus anak Yusuf” dengan “Mariamene e Mara” sebagai suami-isteri bersifat hipotesis dan spekulatif belaka. Itu sebabnya Amos Kloner memberi tanggapan terhadap pembuatan film “The Lost Tomb of Jesus” sebagai: “It makes a great story for a TV film, but it’s completely impossible. It’s nonsense”.
  Selain itu Amos Kloner menyatakan bahwa keluarga Yesus dari Nazaret dikenal luas sebagai keluarga yang miskin, sehingga tidaklah mungkin Dia bersama keluargaNya dapat membeli tanah di kota Yerusalem. Pada waktu Yesus hidup, Dia dikenal sebagai anak tukang kayu dari Nazaret. Itu sebabnya Yesus yang disaksikan oleh Alkitab lebih dikenal dengan nama “Yesus dari Nazaret” (Luk. 18:37), bukan “Yesus dari Yerusalem”. Mat. 2:23 berkata: “Setibanya di sana, iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal ini terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret”. Seorang peneliti Timur Tengah dan anthropologi Kitab Suci, yaitu Joe Zias memberi tanggapan sebagai berikut: "It has nothing whatsoever to do with Jesus, he was known as Jesus of Nazareth, not Jesus of Jerusalem, and if the family was wealthy enough to afford a tomb, which they probably weren't, it would have been in Nazareth, not here in Jerusalem”. Karena tuduhan dan fitnahan akhirnya Yesus wafat dengan cara yang hina yaitu dengan mati disalibkan seperti hukuman kepada seorang pemberontak atau penjahat. Sehingga para murid dan orang-orang yang mengikutiNya menjadi tercerai-berai. Jadi tidaklah benar hipotesis yang menyatakan bahwa Yesus dan anggota keluargaNya kemudian memperoleh pemberian sebuah makam dari para penganutNya, sehingga Yesus dan anggota keluargaNya kemudian dapat dimakamkan di Talpiot Yerusalem. Setidaknya sampai kini tidak ada dokumen sejarah yang menyatakan bahwa pernah ada seorang penganut atau pengikut Yesus memberikan suatu makam khusus bagi Yesus dan keluarganya di Yerusalem; kecuali yang dicatat dalam Alkitab yaitu seorang bernama Yusuf dari Arimatea (Mat. 27:57-61). Terhadap orang-orang yang terlalu dini menyimpulkan bahwa Makam Talpiot sebagai makam Yesus dan keluargaNya, mereka perlu merenungkan makna perkataan Yesus, yaitu: “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Luk. 9:58). Asbury Theological Seminary menyatakan: “The ancestral home of Joseph was Bethlehem, and his adult home was Nazareth. The family was still in Nazareth after he [Joseph] was apparently dead and gone. Why in the world would he be buried (alone at this point) in Jerusalem?”
Di bagian depan ambang pintu di makam Talpiot terdapat gambar “Chevron” yaitu gambar dalam bentuk bulatan dan di bawahnya terdapat gambar “lingkaran”. Kedua simbol ini sama sekali tidak dikenal dalam kehidupan kekristenan awal. Sehingga gambar “Chevron” dan “lingkaran” di makam Talpiot tidak memberi identifikasi yang pasti sebagai makam dari Yesus dan keluargaNya. Sebab simbol yang dikenal oleh kekristenan awal adalah gambar ikan (yaitu dari nama “ixthus” yang artinya: “Yesus Kristus adalah Anak Allah, Juru-selamat dunia”), lambang kayu salib, dan burung merpati.  Bentuk gambar “chevron” dan “lingkaran” merupakan pola yang terlihat pada suatu lukisan di permukaan gerbang Nicanor di Bait Allah Yerusalem yang diperkirakan terjadi pada era pembuatan uang logam. Fungsi pintu gerbang Nicanor di Bait Allah Yerusalem dengan lambang “chevron dan lingkaran” sebenarnya untuk menandai akhir dari perjalanan ziarah.  Lihat R. Kirk Kilpatrick, Ph.D. on the Symbology of the Tomb "So-called "Lost Tomb of Jesus": Mysterious Chevron and Circle?" menyatakan: “A ‘chevron and circle’ pattern is clearly visible as a depiction of the facade of the Nicanor gate of the Temple of God in Jerusalem, as is visible on era coinage. The Nicanor gate marked the end of a pilgrimage”. Jadi dari gambaran “Chevron dan lingkaran” di makam Talpiot dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang dikubur di sana sebenarnya merupakan suatu keluarga penganut agama Yahudi yang menghayati peristiwa kematian sebagai akhir dari perjalanan ziarah. Dengan demikian 9 osuarium di makam Talpiot  sama sekali tidak menunjuk kepada  tempat sisa-sisa jenasah dari Yesus dan keluargaNya atau orang-orang Yahudi-Kristen pada awal abad pertama.
Sebagaimana diketahui bahwa di makam Talpiot terdapat osuarium dengan inskripsi nama “Yehuda bar Yeshua” dari bahasa Aram yang berarti: “Judah, anak Yesus”. Tak pelak banyak orang menyimpulkan bahwa Yesus dari Nazaret dari perkawinanNya dengan Maria Magdalena mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama “Yehuda bar Yeshua”. Dalam bukunya yang berjudul: “Yesus, Maria Magdalena, Yudas dan Makam Keluarga”di hal 5-6   Ioanes Rakhmat menyatakan: “Selain itu, harus juga dipertimbangkan adanya rujukan-rujukan kepada ‘murid yang dikasihi’ dalam Injil Yohanes, yang digambarkan ‘bersandar pada Yesus di sebelah kananNya’ pada waktu perjamuan malam (Yoh. 13:23) dan keselamatannya dicemaskan oleh para murid Yesus (Yoh. 21:20-23), dan juga rujukan dalam Injil Markus kepada ‘seorang muda’ yang berlari ‘dengan telanjang’ ketika Yesus ditangkap (Mark. 14:51-52) – apakah tidak mungkin, bahwa rujukan-rujukan tersamar ini sebetulnya mengacu kepada anak Yesus, berusia belasan tahun, yang identitas sebenarnya harus dirahasiakan mengingat Roma baru saja menumpas sebuah gerakan messianic dengan menyalibkan sang pemimpinnya, Yesus dari Nazareth, yang mengklaim diri ‘Raja orang Yahudi’?”  Pernyataan dan kesimpulan tersebut di atas bersifat sangat spekulatif dan hipotetis. Artinya rujukan pernyataan tersebut sama sekali tidak didukung oleh dokumen atau tulisan dari para rasul, bapa-bapa gereja bahkan tulisan-tulisan apokrif! Jadi sebenarnya setiap orang yang memiliki imaginasi yang “kreatif” namun serba subyektif mampu membuat kesimpulan-kesimpulan tersebut.  Misalnya James D. Tabor mengartikan “murid yang dikasihi” dalam Injil Yohanes adalah Yakobus, saudara Yesus! Tetapi apakah metodologi penafsiran dan kesimpulan yang demikian boleh mengatasnamakan sebagai suatu tulisan dan  karya ilmiah?
Dengan penemuan makam Talpiot, James Cameron, James D. Tabor, Simcha Jacobovici dan Pellegrino telah menggiring publik kepada kesimpulan bahwa jenasah Yesus dan keluargaNya telah diketemukan secara “arkeologis”. Ini berarti pokok tentang kebangkitan Yesus dari kematianNya sebagaimana yang diberitakan oleh Alkitab dipersoalkan secara mendasar. Benarkah Yesus dari Nazaret sungguh-sungguh bangkit? Jawaban mereka sangat jelas yaitu bahwa Yesus Kristus dari Nazaret sebenarnya tidak pernah bangkit secara ragawi dari kematian. Dengan demikian seluruh pandangan dasar kekristenan dengan sendirinya telah runtuh! Bukankah rasul Paulus berkata: “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (I Kor. 15:14). Lalu  diulang kembali pada ayat 17, yaitu: “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu”.
Dalam konteks ini Ioanes Rakhmat menegaskan bahwa sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi ini, maka kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Karena itu dalam bukunya mulai hal 8-16,  Ioanes Rakhmat menguraikan pandangan teologisnya yang bertolak dari I Kor. 15:35-58 tentang “Tubuh Kebangkitan”. Kesimpulannya Yesus bangkit dari kematian hanya secara metafora belaka! Pertanyaan yang muncul adalah mengapa tafsiran hanya diambil dari I Kor. 15:35-58? Padahal di I Kor. 15:1-11 rasul Paulus menyaksikan rangkaian pengalaman penampakan diri dari Yesus yang bangkit kepada beberapa pihak secara signifikan, yaitu: kepada Kefas dan kedua belas murid Yesus (ayat 5), lalu Yesus menampakkan diriNya kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus (ayat 6), kemudian Yesus yang bangkit itu juga menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul (ayat 7), dan yang paling akhir adalah rasul Paulus (ayat 8). Dengan tubuh kebangkitanNya, memang Kristus memiliki tubuh yang berbeda secara asasi dan substantif dibandingkan  ketika Dia masih hidup di dunia. Tubuh Kristus yang bangkit menjadi tubuh yang rohaniah sekaligus tetap alamiah. Pada satu pihak Kristus yang bangkit mampu menembus ruang (Luk. 24:36), tetapi juga tubuhNya yang bangkit  tetap dapat disentuh oleh para muridNya (Luk. 24:39-43). Jadi dalam kasus kebangkitan Kristus, kita tidak dapat memberi penjelasan teologis hanya dengan sekedar membedakan secara asasi makna “tubuh alamiah” (sooma psukhikon) dengan “tubuh rohaniah” (sooma pneumatikon). Sebab Kristus yang bangkit memiliki “tubuh alamiahNya” bersama dengan “tubuh rohaniahNya”. Jadi pengertian arti “historis” dalam peristiwa kebangkitan Kristus tidaklah cukup hanya diartikan apabila ada bukti keras (hard evidence) dan bukti “rasional” yang muncul dalam pola pikir kita sendiri.

Kesimpulan
Temuan makam Talpiot merupakan temuan arkeologis berbagai artefak tentang kehidupan orang Yahudi awal abad pertama Masehi. Sehingga dengan penemuan artefak-artefak tersebut kita dapat mengetahui gambaran kehidupan nyata sesuai zamannya. Sebenarnya artefak secara arkeologis dapat berfungsi sebagai suatu teks. Upaya untuk membaca dan memahami “teks” dari artefak tersebut akan memampukan kita untuk memahami “konteks” zaman ketika orang-orang dalam artefak tersebut hidup. Sehingga apabila ditemukan berbagai macam artefak yang sezaman dari berbagai tempat sebagai alat pembanding, maka makin memampukan para ahli untuk membaca “teks” dari artefak yang ada secara lebih obyektif. Apalagi kemudian temuan-temuan tersebut didukung oleh berbagai data dalam bentuk teks yang tertulis!
Tetapi kedua aspek bukti-bukti arkeologis tersebut yaitu bukti artefak dan teks tertulis ternyata masih membutuhkan metode penafsiran dan penelitian ilmiah yang tepat dan komprehensif. Sehingga tidaklah cukup dengan “bukti-bukti” yang ada seperti nama-nama yang kebetulan mirip dengan tokoh-tokoh yang tertulis dalam Alkitab dapat segera disimpulkan  bahwa makam Talpiot merupakan tempat sisa-sisa jenasah Yesus dan keluargaNya. Dalam hal ini Alkitab juga merupakan salah satu bukti teks kuno yang tertulis. Karena itu mengapa kita juga tidak percaya kepada kesaksian Alkitab? Bahkan kita imani kesaksian Allah merupakan firman Tuhan. Selaku umat percaya kita percaya kepada kesaksian Alkitab, namun juga pada saat yang sama kita secara tulus harus memberi dukungan kepada ilmu pengetahuan untuk terus berkembang dan memberikan hasil-hasil serta pembuktian secara ilmiah. Yang kita harapkan untuk menyingkap temuan makam Talpiot, Makam Kain Kafan dan Osuarium Yakobus sebenarnya bukanlah sekedar rekaan yang sifatnya sangat hipotetis dan spekulatif. Tetapi seharusnya suatu pemaparan dan penjelasan ilmiah yang tidak terbantahkan sebab didukung oleh semua dokumen dan para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Sayangnya yang mengangkat temuan  makam Talpiot dan osuarium Yakobus dengan tafsiran dan penjelasannya bukan dari para arkeolog atau ahli purbakala yang kompeten, justru penafsiran dari seorang pembuat film. Karena itu “The Newsweek Report” memberi tanggapan yang cukup tajam (lihat: http://www.msnbc.msn.com/id/17328478/site/newsweek/) yang menyatakan bahwa Simcha Jacobovici dan James Cameron tidak memiliki kredibilitas sebagai seorang ahli sejarah dan purbakala khususnya dalam penemuan sejumlah osuarium di Talpiot dan dia dituduh telah memutar-balikkan isi Alkitab. Itu sebabnya Amos Kloner sebagai salah seorang penggali dan penemu artefak di makam Talpiot berkata: “I am an archeologist, but if I were to write a book about brain surgery, you would say, 'Who is this guy?' People want signs and wonders. Projects like these make a mockery of the archeological profession."
Jika demikian kita selaku umat percaya kepada Tuhan Yesus seharusnya makin terdorong untuk memperdalam berbagai aspek tentang rahasia iman kita yang berpijak kepada kesaksian Alkitab, tetapi juga kita mau bersikap terbuka  dan kritis untuk mempelajari berbagai perkembangan ilmu pengetahuan; sehingga pengetahuan dan spiritualitas iman kita makin diperkaya dan bertumbuh dalam kebenaran serta hikmat Tuhan.