Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2015

Sangkakal telah berbunyi yang keberapa?



Pertama kali menerima kabar bahwa waktu Akhir Zaman sudah berjalan hingga di Sangkakala ke-5 saya cukup bingung, dan begitu ada kabar bahwa telah dikonfirmasi oleh Ev. Yusak Tjipto, kebingungan saya berubah menjadi kaget bahwa ternyata waktu memang sudah demikian singkat. Padahal saya sendiri meyakini bahwa sisa waktu yang ada tidak lebih dari akhir tahun 2015 nanti.

Kekagetan saya berubah menjadi kewaspadaan, ketika seorang pendeta menyampaikan pesan firman dan menceritakan ulang tentang seorang anak Tuhan di Singapura yang mendengar bunyi sangkakala sebanyak lima kali itu. Bukan hanya itu, pendeta tersebut juga menceritakan bahwa ada banyak anak Tuhan yang mendapatkan mimpi dan penglihatan tentang rapture namun tidak satupun yang menerima mimpi atau penglihatan tersebut ikut terangkat, semuanya tertinggal.

Selagi serius tenggelam memikirkan semuanya itu, tiba-tiba Roh Kudus berbicara, "Menurut kamu, mengapa baru sekarang Tuhan beritahu kepada anak-anak-Nya? Mengapa setelah lima sangkakala?" Bukankah itu sebuah pemikiran yang menarik? Mengapa tidak tiap sangkakala bunyi sejak yang pertama, Tuhan beritahu kepada kita semua? Mengapa baru diberitahu setelah sudah jalan lima dan tinggal dua lagi? Pertanyaan kedua, adakah kesempatan dengan sisa waktu yang begitu singkat ini?

Selasa, 23 Desember 2014

Natal, Musim untuk Berbuat Baik?

 
Sepanjang tahun kita begitu sibuk dengan kehidupan kita dan tanpa disadari kita sudah tiba di penghujung tahun 2014. Bagi yang religius bulan Desember seringkali membuat kita berhenti sejenak dan memikir kembali tentang persoalan-persoalan yang sesungguhnya penting dalam kehidupan kita. Utamanya, di hari-hari menjelang Natal, di gereja, di website atau kartu-kartu Natal yang kita terima mengingatkan kita untuk mengasihi, memberi dan menjadi saluran berkat kepada sesama.
Mengasihi, memberi dan memberkati sesama manusia memang merupakan hal yang mulia dan terpuji. Yang memberi, merasa puas dan senang karena telah menjadi saluran berkat, apa tah lagi, jika yang menerima menunjukkan rasa terima kasih dan menghargai pemberian kita.
Setiap orang Kristen bahkan anak-anak sekolah Minggu pasti mengetahui kisah orang Samaria yang baik hati. Orang Samaria yang baik hati ini merupakan contoh unggul untuk kita teladani. Membaca perumpamaan itu di dalam Injil membuat kita begitu kagum dengan orang Samaria itu dan menginspirasi kita untuk berbuat hal yang sama. Tetapi sayangnya, tidak diberitahukan kepada kita apakah orang Yahudi yang dibantunya menghargai apa yang dilakukan oleh orang Samaria itu.
Terkadang saya berpikir, apakah mungkin korban kejahatan yang dibantu orang Samaria itu tergolong umat Yahudi fanatik yang sama sekali tidak mau berhubungan dengan orang Samaria. Jika memang ia tergolong orang yang demikian, apakah ia akan berterima kasih atau, malah ia akan merasa marah karena telah "dicemari" oleh orang Samaria itu. Bisa saja ia bereaksi keras dan merasa jengkel dengan orang Samaria itu karena telah membuatnya najis! Nah, jikalau perbuatan baik kita menuai kemarahan orang lain, apakah kita masih akan berbuat baik?

Minggu, 30 November 2014

Kejujuran Tidak Pernah Merugikan

Seorang pengusaha Kristen sukses mau mencari seseorang yang dapat dipercayai untuk mengambil alih bisnisnya karena usianya yang semakin tua. Ia memutuskan untuk tidak menyerahkan perusahaannya kepada anak-anaknya maupun para direktur di perusahaan. Ia mau melakukan sesuatu yang berbeda.
Ia memanggil semua eksekutif muda di perusahaannya dan berkata, "Sudah tiba waktunya untuk saya mengundurkan diri dan memilih seorang pengganti dari antara kalian.". Para eksekutif muda itu terkejut tapi bos mereka melanjutkan. "Saya akan memberikan setiap dari Anda satu benih hari ini - benih yang sangat spesial. Saya mau Anda menanam benih ini, menyiramnya dan datang kembali kepada saya satu tahun dari hari ini dengan membawa tumbuhan yang bertumbuh dari benih yang akan saya berikan ini. Saya akan menilai tumbuhan yang Anda bawakan, dan dari itu saya akan memilih orang yang akan menggantikan saya."
Salah seorang dari bawahannya, Jim juga termasuk yang diberikan benih dan sama seperti yang lainnya, ia pulang dan dengan penuh semangat memberitahu istrinya seluruh kisah itu. Istrinya membantunya mencari pot, tanah dan pupuk dan Jim menanam benih itu. Setiap hari tanpa gagal, ia akan menyiramnya dan memerhatikan apakah benih itu sudah bertumbuh.

Setelah sekitar tiga minggu, teman-temannya yang lain mulai bercerita tentang benih-benih mereka yang sudah bertunas dan semakin membesar. Jim terus mengecek benihnya tetapi sama sekali tidak ada perubahan. Tiga minggu, empat minggu, lima minggu berlalu, tetapi masih saja tidak terjadi apa-apa. Setiap hari, teman-teman yang lain berbicara tentang perkembangan tanaman mereka, tetapi Jim tidak mempunyai sesuatu untuk dibicarakan. Ia merasa seperti seorang pecundang.
Enam bulan sudah berlalu dan masih tidak ada tanda-tanda kehidupan di pot. Jim tahu ia telah membunuh benih itu. Semua yang lain sudah mempunyai pohon dan tumbuh-tumbuhan yang besar, tetapi ia tidak mempunyai apa-apa. Jim tidak berkata apa-apa kepada teman-temannya. Tetapi ia tetap setia menyiram dan memberi pupuk kepada benih itu. Ia begitu menginginkan benih itu untuk bertumbuh.
Akhirnya satu tahun sudah berlalu dan semua eksekutif perusahaan itu membawa tanaman mereka untuk diperlihatkan kepada bos mereka. Jim memberitahu istrinya bahwa ia tidak akan membawa potnya yang sama sekali tidak ada tanda kehidupan. Tetapi istrinya memintanya untuk bersikap jujur tentang apa yang telah terjadi. Jim tahu hari itu akan menjadi detik-detik yang paling memalukan dalam hidupnya, namun di sisi lain ia juga tahu bahwa apa yang dikatakan istrinya itu benar. Ia membawa potnya yang kosong dan masuk ke ruang rapat. Saat ia masuk ke ruangan ia begitu ditakjubkan melihat pelbagai tanaman yang dibawa oleh teman-temannya yang lain. Semuanya kelihatan begitu indah - dalam semua bentuk dan ukuran. Melihat potnya beberapa dari koleganya ketawa, dan beberapa mengasihani dia!

Minggu, 23 November 2014

Cara untuk Mengembangkan Sukacita

By. Rick Warren
Sukacita itu seperti otot. Semakin banyak Anda melatihnya, maka ia akan semakin kuat. Izinkan saya menyarankan empat jenis latihan untuk mengembangkan sukacita yang muncul dari dalam hati.
Lakukan empat hal ini untuk enam bulan ke depan dan lihatlah perbedaan yang terjadi dalam hidup Anda. Saya jamin Anda akan menjadi orang yang lebih positif dan bersukacita. Hal ini berhasil dalam kehidupan saya beberapa tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk melakukannya.
Pertama-tama, kembangkanlah sikap bersyukur. Satu Tesalonika 5.18 berkata, "Mengucap syukurlah dalam segala perkara, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus." Itulah yang dinamakan sikap mengucap syukur. Perhatikan lagi, kita tidak perlu berterima kasih untuk seluruh keadaan, tetapi di dalam seluruh keadaan.
Ahli psikologis mengatakan bahwa mengucap syukur merupakan emosi yang paling menyehatkan. Hans Seyle, bapak ilmu stres, menyatakan bahwa ungkapan syukur menimbulkan energi emosi yang lebih daripada sikap yang lain di dalam kehidupan kita. Tidakkah Anda melihat kebenarannya bahwa orang yang sangat sering mengucap syukur adalah orang yang paling berbahagia.
Saya menantang Anda untuk mencari cara untuk mengungkapkan terima kasih dalam minggu ini dan lihatlah perbedaannya. Anda bisa menulis ungkapan terima kasih terhadap seseorang atau menelepon seseorang bahwa dia begitu berarti dalam kehidupan Anda. Dan, jangan lupa mengucap syukur kepada Tuhan. Pemazmur berkata, "Tuhan adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya" (Mazmur 28.7). Jika Anda bukan orang yang bersukacita, mulailah dengan pujian kepada Tuhan dan perhatikan perubahan sikap Anda.
Kedua, galilah sukacita batiniah dengan cara memberi. Yesus mengajarkan kepada kita, "Adalah lebih berbahagia memberi dari menerima" (Kisah Para Rasul 20.35). Orang berkata bahwa ketika waktu untuk memberi tiba, banyak orang tidak melakukan apa-apa. Apa yang dikatakan Alkitab? "Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2 Korintus 9.7). Mengapa? Karena mungkin kita menyerupai Allah ketika kita memberi, dan Dia tidak memberi dengan bersungut-sungut.
Lagipula, pemberian kita menentukan berapa banyak yang Tuhan dapat lakukan dalam kehidupan kita. Ketika kita memberi dengan sukacita kepada-Nya, kita membuka diri kita untuk menerima dengan cuma-cuma daripada-Nya. Maleakhi 3.10 berkata, "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai bekelimpahan." Ini adalah tantangan surgawi!
Cara ketiga mengembangkan sukacita batiniah adalah melalui pelayanan: berilah hidup Anda untuk menolong orang lain. Yesus berkata bahwa kita harus kehilangan nyawa kita untuk menyelamatkannya (Markus 8.35). Dalam Kitab Efesus, Paulus mengingatkan kita, "Dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan' (Efesus 6.7). Mereka yang paling berbahagia biasanya terlalu sibuk melayani dan membantu orang lain.
Sukacita timbul ketika kita tidak berfokus pada diri sendiri. Ada banyak tempat pelayanan di gereja Anda yang sedang menanti orang-orang seperti Anda. Tanyakanlah kepada gembala atau ketua sekolah Minggu Anda apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu mereka. Hal itu akan membuat hari-hari Anda lebih berarti lagi.
Latihan terakhir untuk mengembangkan sukacita batiniah adalah dengan menjadi saksi Kristus bagi orang lain. Yesus berkata akan ada sukacita di surga ketika seseorang menerima Kristus (Lukas 15.10). Sukacita terbesar saya adalah ketika saya memberi hidup saya bagi Yesus Kristus; sukacita yang kedua adalah memperkenalkan-Nya kepada orang lain. Bayangkan situasi di surga: Seseorang yang pernah Anda injili datang dan berkata, "Saya berterima kasih kepadamu karena perhatian dan waktu yang engkau sediakan bagiku. Aku ada di sini karena engkau peduli dan telah menceritakan Yesus kepadaku." Saya beri tahu, itulah saat yang penuh dengan sukacita. Bahkan, itulah puncak sukacita di atas permukaan bumi ini karena Anda telah membantu kelahiran anak yang baru ke dalam keluarga Allah.

Sabtu, 15 November 2014

Yesus dan Agama Lain

By Philip Yancey
Sesekali saya diundang ke pertemuan-pertemuan yang tidak biasa sebagai hasil dari tulisan-tulisan saya. Salah satu yang paling tak terlupakan mengambil tempat di New Orleans, atas undangan M. Scott Peck, seorang psikiater dan penulis buku-buku seperti The Road Less Traveled dan People of Lie. Peck memiliki teori bahwa proses pembangunan komunitas harus mendahului upaya penyelesaian konflik, dan ia mengumpulkan tiga puluh orang yang sangat bebeda untuk menguji teori tersebut.
Peck mempertemukan sepuluh orang Yahudi, sepuluh orang Kristen, dan sepuluh Muslim, sebuah miniatur dunia yang mungkin mewakili konflik yang paling berkepanjangan dalam peradaban Barat. Isu utama yang membayangi kami adalah, "Bisakah orang-orang dengan pernyataan kebenaran yang secara fundamental berbeda hidup bersama tanpa saling membunuh?"
Kami berkumpul di pusat retreat Katolik pada akhir pekan menjelang Mardi Gras. Selama tiga hari kami membicarakan, yah, apa saja yang ingin kami bicarakan.
Perbedaan-perbedaan kebudayaan tertentu langsung muncul ke permukaan. Scott Peck menjalankan lokakarya pembangunan komunitasnya menurut formula yang menuntut pernyataan introspektif "saya" ("Saya merasa..." atau "Saya pikir...") dan sharing pribadi, dan kaum Yahudi menyambut hangat pendekatan ini.
"Jangan lupa, kami yang menemukan psikoterapi," canda seorang rabi. Namum partisipan Muslim hanya menunjukkan sedikit antusiasme. Seorang imam mencoba menjelaskan, "Kami memiliki keengganan kultural terhadap psikoterapi. Anda akan jarang mendengar seorang Muslim mengungkapkan masalah-masalah pribadi. Hal seperti itu memang tidak dilakukan.
Kami menyaksikan kelompok Muslim menanggapi perenungan introspeksi kelompok orang Yahudi dengan membuat lebih banyak pernyataan tegas tentang kebenaran absolut.
Terus terang lebih enak rasanya menjadi penonton; orang Kristen tidak memiliki sejarah yang terlalu harmonis dengan kedua agama ini, dan saya jauh lebih suka peran baru kami sebagai mediator daripada kelompok pembantai Yahudi atau prajurit Perang Salib di masa lalu.
Saya mempelajari kata baru di New Orleans, super-sesionisme, pemikiran bahwa yang baru mengantikan yang lama. Ini membantu saya memahami kepercayaan diri yang kuat pada kaum Muslim yang tampak jelas. Kelompok Yahudi tidak menyukai pemikiran bahwa iman Kristen menyempurnakan Yudaisme. "Saya merasa seperti obyek keingin-tahuan sejarah, seakan agama saya harus dimasukkan ke rumah jompo," kata salah seorang. "Saya merasa terganggu mendengar istilah Tuhan Perjanjian Lama atau bahkan kata Perjanjian Lama itu sendiri."
Saya harus mengakui bahwa Kekristenan memang memiliki aspek supersionis yang terang-terangan. Yesus memperkenalkan "perjanjian baru" ketika Ia mengubah Paskah Yahudi Seder menjadi apa yang dikenal orang Kristen sebagai "Perjamuan Kudus". Belakangan, rasul Paulus menyebut Hukum Perjanjian Lama sebagai "pembimbing" atau "guru" yang mengantar kita kepada Kristus.
Namun saya tidak menyadari bahwa Muslim memandang kedua agama ini dengan sikap super-sesionis. Dalam pandangan mereka, seperti Kekristenan tumbuh dari Yudaisme dan mencakup bagian-bagiannya, Islam tumbuh setelah kedua agama itu dan mencakup bagian-bagiannya. Abraham adalah nabi, Yesus adalah nabi, tetapi Muhammad adalah Nabi Besar. Perjanjian Lama memiliki tempatnya, begitu juga Perjanjian Baru, tetapi Al Qu'ran adalah "wahyu terakhir."
Mendengar kepercayaan saya dibicarakan dengan pemikiran demikian memberi saya bayangan seperti apa mungkin perasaan orang Yahudi selama dua ribu tahun.
Ironisnya, kesamaan bahasa kepedihanlah yang kelihatannya bisa menyatakan ketiga kelompok ini. Banyak partisipan Yahudi kehilangan anggota keluarganya dalam Holocaust, dan beberapa juga pernah menjadi sukarelawan dalam perang Israel melawan tetangga-tetangga Arabnya.
Di sisi Muslim, seorang wanita menceritakan kengerian yang melanda lingkungannya yang tadinya indah di Beirut, Lebanon. Seorang Muslim yang lainnya menceritakan penuturan yang membuat bergidik tentang pembantaian Deir Yassin tahun 1948, ketika anggota geng Israeli Stern membunuh 250 penduduk desanya dan melemparkan jenazah mereka ke dalam sumur. Ia, yang waktu itu berumur sepuluh tahun, cukup gesit untuk meloloskan diri.
Penderitaan kadang-kadang menjadi jurang pemisah dan kadang-kadang menjadi jembatan. Bertahun-tahun kemudian, rekan Muslim yang berhasil lolos dari prajurit di Deir Yassin itu mengalami kecelakaan mobil di Amerika Serikat. Yang berhenti untuk menolongnya adalah seorang perawat Yahudi. Wanita ini memasang torniket dengan saputangannya yang wangi, dan dengan teliti mencabuti pecahan kaca dari wajahnya. Pria Muslim ini percaya perawat itu telah menyelamatnya hidupnya.
Istri pria Muslim ini, yang adalah seorang dokter, menyambung dengan berkata ia pernah merawat seorang pasien dengan tato aneh di pergelangan tangannya. Ketika ia bertanya tentang itu, pasiennya bercerita tentang Holocaust, kejadian sejarah yang tidak pernah ia dengar di sekolahnya di negara Arab. Untuk pertama kalinya ia mengerti kepedihan orang Yahudi.

Sabtu, 08 November 2014

Rencana Sempurna dari Iblis

By. Geraldine Harris dan Kristen Maddox
Mari jangan biarkan musuh melengahkan kita...

Iblis mengadakan konvensi internasional. Pada pidato pembukaannya kepada malaikat-malaikat iblisnya, dia berkata, "Kita tidak dapat menghalangi orang-orang Kristen itu untuk pergi ke gereja. Kita tidak dapat menghalangi mereka dari membaca alkitab dan mengetahui kebenaran. Bahkan kita juga tidak dapat mengahalangi mereka dari menjalankan nilai-nilai konservatif mereka. Tetapi kita dapat melakukan suatu hal yang lain. Kita dapat menjauhkan mereka dari hubungan yang intim dan patuh kepada Allah dan Yesus Kristus. Apabila mereka memperoleh suatu hubungan dengan Tuhan, maka kekuatan kita atas mereka terpatahkan. Maka biarkan mereka pergi ke gereja. Biarkan mereka memiliki nilai-nilai yang konservatif dalam kehidupan mereka, tetapi curilah waktu mereka, agar mereka tidak dapat memperoleh pengalaman di dalam Tuhan. Ini lah yang ku ingin kau lakukan, hai para malaikat. Jauhkanlah mereka dari Tuhan dan memperoleh koneksi di dengan-Nya di sepanjang harinya!"

"Bagaimana kami dapat melakukan ini?" teriak para malaikat.
"Biarkanlah mereka sibuk dengan sesuatu yang tidak penting di dalam kehidupan ini dan ciptakan hal-hal yang menguasai pemikiran mereka" jawabnya. "Bujuklah mereka untuk berbelanja, belanja dan belanja dan kemudian meminjam, meminjam, dan meminjam. Yakinkanlah para istri agar bekerja banyak jam dalam sehari dan suami-suami bekerja enam sampai tujuh hari seminggu, sepuluh sampai dua belas jam sehari supaya mereka dapat membiayai gaya hidup mereka. Jauhkanlah mereka daripada memiliki waktu bersama sama dengan anak-anak mereka. Setelah keluarga mereka terpecah belah, maka rumah mereka pun akan tidak lepas dari tekanan pekerjaan mereka.

"Penuhi pemikiran mereka sehingga mereka tidak dapat mendengarkan suara hati nurani. Bujuklah mereka agar mendengarkan radio atau kaset ketika mereka menyetir, menonton TV, VCR, CD dan biarkan komputer terus menyala di rumah mereka. Dan pastikan semua toko dan resotoran di dunia memainkan musik yang tidak sesuai dengan alkitab secara terus menerus. Hal-hal ini akan memadati otak mereka dan memutuskan hubungan mereka dengan Tuhan.
Penuhi meja mereka dengan majalah dan surat kabar. Isi otak mereka dengan berita 24 jam sehari. Penuhi waktu-waktu menyetir mereka dengan iklan-iklan di tepi jalan. Penuhi kotak surat mereka dengan surat yang tak berguna, surat-surat undian, katalog order, dan setiap surat berita dan tawaran promosi-promosi, produk gratis, servis-servis dan harapan palsu.

"Meski mereka dalam rekreasi, biarkan mereka menjadi berlebihan. Biarkanlah mereka pulang dari rekreasi dengan kecapean, tidak dapat diam, dan tidak siap menyambut minggu yang baru. Jangan biarkan mereka keluar ke alam bebas dan mengagumi keagungan Tuhan. Kirim mereka ke taman-taman bermain, kegiatan olahraga, konser dan menonton film. Dan ketika mereka bertemu dalam acara-acara rohani, libatkan mereka dalam gosip dan pembicaraan kecil sehingga ketika mereka meninggalkan acara tersebut mereka pergi dengan kesadaran yang terganggu dan emosi yang tidak stabil."

"Biarkanlah mereka terlibat dalam memenangkan jiwa-jiwa. Tetapi penuhi kehidupan mereka dengan kerja-kerja bakti dan banyak kegiatan sehingga mereka tidak punya waktu untuk mencari kekuatan dari Tuhan. Mereka akan menggunakan kekuatannya sendiri, meresikokan kesehatan dan keutuhan keluarganya untuk pelbagai kegiatan mereka.

Pertemuan ini berakhir dengan sukses, dan para malaikat iblis dengan semangat melakukan tugasnya yang berhasil menyebabkan banyak orang Kristen dimana-mana menjadi sibuk, sibuk, sibuk dan berlari kesana dan kemari.

Apakah si iblis sukses dalam rencananya? Engkau adalah hakimnya.

Sabtu, 01 November 2014

Yesus Tidak Takut disalah-pahami ( by Rev Eric Chang )

Kadang kala seorang Kristen merasa dipermalukan oleh perkataan-perkataan Yesus. Mari kita ambil contoh ketika pada murid merasa sangat resah dan tersinggung oleh perkataan Yesus saat Dia berkata, "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia akan hidup oleh Aku."
Makan daging? Minum darah? Sebaiknya memakai kata-kata yang lebih beradab. Maksud saya, pakailah ungkapan yang sudah diperhalus. Bahasa semacam ini, bahasa kaum kanibal seperti ini tidak cocok dengan masyarakat dan kebudayaan kita yang sangat tinggi.
Para murid pada saat itu memang sangat tersinggung. Sangatlah tidak pantas jika Kristus, Sang Guru Besar Hukum Taurat, Sang Guru Besar tentang kehidupan, berbicara tentang hal makan daging dan minum darah.
Namun Yesus tidak merasa terganggu dengan fakta bahwa bahasa-Nya akan menimbulkan rasa tersinggung semacam itu.
Dan kemudian, ketika murid-murid-Nya meninggalkan Dia, Dia tidak berkata, "Hei! Kembalilah! Biar Kujelaskan dulu apa maksudnya. Jangan mengartikan secara harfiah begitu. Biar Ku-jelaskan apa yang Ku-maksudkan. Kalian tidak perlu buru-buru meninggalkan-Ku sekarang ini."
Saat mereka beranjak pergi, Dia tidak mengambil tindakan untuk menghentikan mereka, Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia biarkan saja mereka pergi.
Dan selanjutnya, kepada mereka yang masih berdiri di sana, yang sedang dalam keadaan bimbang, tertekan dan bingung, mereka belum beranjak pergi akan tetapi tampaknya mereka juga ingin pergi.
Yesus malah berkata kepada mereka, "Apakah kalian juga akan meninggalkan-Ku?" Dia tidak berkata, "Aku tidak mau kalian ikut pergi juga." Dia berkata, "Apakah kalian juga akan meninggalkan-Ku?" Dengan kata lain, "Kalau kalian ingin pergi, jangan ragu-ragu. Jangan ragu. Silakan pergi."
Wow! Pikir mereka, "Guru yang satu ini mengherankan sekali!" Dia tidak membuat penjelasan apa-apa; Dia tidak berusaha menahan mereka.
Dari cara-Nya mengerjakan sesuatu hal, terlihat betapa Dia sangat berbeda.
Jika kita disalah-pahami, kita akan berkata, "Hei, dengarkan dulu! Sabar dulu. Bukan itu maksudku. Jangan tersinggung dulu."
Yesus sama sekali tidak bereaksi seperti itu. Jika mereka ingin pergi, silakan saja. Biarkan saja. Sungguh mengherankan! Sikap hati macam apakah ini? Dia bahkan tidak berusaha meluruskan persoalan. Dia tidak berusaha menahan mereka.
Dia tidak berusaha untuk menahan mereka. Jika mereka ingin pergi, silakan pergi. Memang harus begitu. Sungguh bertentangan dengan cara berpikir manusia.

Rabu, 29 Oktober 2014

Takut Akan Maut

(Renungan singkat dari Fenelon dalam meneguhkan iman seorang percaya yang sedang berhadapan dengan maut)
 
Saya sama sekali tidak kaget bahwa Anda sering memikirkan tentang kematian. Saya kira adalah lazim untuk memikirkan tentang maut semakin kita menjadi tua dan lemah! Setidaknya, itulah pengalaman saya.
Kita tiba ke satu tahap di mana kita dipaksa untuk memikirkan tentang pengakhiran yang tak terelakkan, yang semakin mendekat itu. Semakin kita tua dan tidak aktif, semakin kita memikirkan hal ini.
Mungkin kita berharap pikiran sedemikian tidak menghantui kita. Tetapi Tuhan mengizinkan ini terjadi supaya kita tidak tertipu dan berpikir bahwa kita tidak takut berhadapan dengan maut. Sangatlah bagus untuk memikirkan tentang maut dengan serius supaya kita sadar akan kelemahan kita sebagai manusia dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Tidak ada yang lebih membuat kita rendah hati dibandingkan dengan pemikiran tentang maut. Di tengah-tengah renungan tentang hal ini, kita sering bertanya-tanya apa yang sudah terjadi dengan iman dan jaminan yang kita pikir kita miliki.
Tetapi pengalaman ini sangat baik bagi kita. Inilah ujian kerendahan hati kita. Waktu iman kita dihancurkan dan diuji, kita sekali lagi melihat kelemahan dan ketidak-layakan kita, dan sekali lagi kita memahami perlunya kita akan belas kasihan dari Tuhan.
Di saat seperti itu, kita melihat kelemahan kita dan bukan kelebihan kita. Dan inilah yang seharusnya, karena sangatlah merbahaya untuk memandang pada kelebihan kita, karena kita mungkin akan terjebak dalam bahaya memikirkan bahwa kita tidak lagi memerlukan rahmat Tuhan.
Saat kita kehilangan iman dan jaminan, hanya ada satu hal yang perlu dilakukan. Kita harus melewati lembah itu dengan berjalan bersama-sama dengan sang Gembala, sama seperti sebelum kita masuk ke lembah itu. Sambil kita melewati lembah ini, biarlah kita menangani dosa-dosa yang disingkapkan oleh Tuhan, dan terus berjalan di dalam terang yang Ia berikan.
Di sisi lain, kita harus berwaspada agar tidak menjadi terlalu sensitif hanya karena kita sedang berhadapan dengan maut. Tuhan tidak mau Anda terlalu memusingkan diri dengan hal-hal yang tidak penting. Kita harus tetap tenang, tidak mengasihani diri sendiri karena maut sudah mendekat. Tetapi, janganlah terlalu berpegang kepada kehidupan, persembahkan hidup Anda kepada Tuhan dan terus hidup dalam penyerahan kepada-Nya.
Seorang santo, Ambrose, menjelang kematiannya ditanya, "Tidakkah Anda takut menghadapi Tuhan di penghakiman nanti?" Ia menjawab dengan kata-kata yang tak terlupakan, "Tidak, kita mempunyai Tuan yang baik." Kita harus mengingat hal ini.
Terdapat banyak ketidak-pastian tentang maut, bahkan bagi orang percaya. Kita tidak terlalu pasti bagaimana Tuhan akan menghakimi kita, dan kita juga tidak dapat 100% yakin akan karakter kita. Tetapi saya tidak menyatakan ini untuk mengguncang iman Anda. Tetapi saya coba untuk menunjukkan kepada Anda betapa kita perlu untuk sepenuhnya bergantung pada belas kasihan-Nya.
Kita harus, seperti yang dikatakan oleh Santo Augustinus, rendahkanlah diri kita ke tingkat di mana kita tidak mempunyai suatu apa pun untuk dipersembahkan melainkan, "kemelaratan kita dan belas kasihan-Nya." Kita begitu melarat di dalam keberdosaan kita di mana tidak ada suatu apa pun yang dapat menyelamatkan kita kecuali belas kasihan-Nya. Tetapi bersyukurlah kepada Tuhan, karena yang kita butuhkan hanyalah belas asih-Nya!
Juga, di dalam waktu-waktu depresi ini, bacalah apa saja yang dapat menguatkan keyakinan dan meneguhkan hati Anda. "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73.1) Marilah kita mendoakan hati yang bersih yang berkenan di mata-Nya, dan yang membuat-Nya mengasihani dan memahami kekurangan kita.
(Fenelon, atau Francois de Salignac de La Mothe Fenelon, adalah Uskup Agung Cambrai di Perancis pada abad ke-17. Renungan singkat di atas diambil dari koleksi surat-suratnya).

Minggu, 26 Oktober 2014

Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati ( Oleh Fenelon )

(Renungan singkat dari Fenelon dalam menjawab pertanyaan seorang saudara yang berkonseling kepadanya)
Dalam hal berbuat sesuatu bagi Tuhan, Anda akan menemukan bahwa cita-cita, semangat berapi-api, perencanaan yang teliti dan kemampuan untuk mengungkapkan diri dengan baik tidaklah begitu penting. Hal yang terpenting adalah penyerahan yang mutlak kepada Tuhan. Anda dapat melakukan apa saja yang Ia mau Anda lakukan jika Anda berjalan di dalam terang yang muncul dari penyerahan diri yang sepenuhnya kepada Dia.
Hidup dengan cara yang ini melibatkan kematian yang terus menerus, hal yang sangat sedikit diketahui orang. Tetapi hanya di dalam posisi inilah Anda dapat sesungguhnya efektif bagi Tuhan. Sepatah kata yang diucapkan kepada orang lain dari posisi ini akan dapat mengubah keadaan. Saat Anda berbicara dari posisi penyerahan total kepada Tuhan, yang berbicara sebenarnya adalah Roh Tuhan, dan kata-kata yang Anda ucapkan tidak akan kehilangan sedikit pun dari kekuatan dan otoritas yang berasal dari-Nya. Mungkin yang diucapkan hanya satu kata - tapi kata itu menerangi, membujuk, memberkati dan menggerakkan orang itu untuk bertindak. Dalam keadaan ini walaupun kita belum berkata apa-apa dari diri kita sendiri, tetapi kita sudah berhasil. Di sisi lain, jika manusia lama ini diizinkan beraksi, kita akan selama-lamanya berbicara. Kita mendiskusikan seribu satu kemungkinan. Kita akan selalu merasa bahwa kita belum cukup banyak memberi nasihat atau belum cukup berbuat sesuatu. Kita merasa marah, gelisah, lelah, tak terfokus, dan pada akhirnya tidak mencapai apa-apa.
Saya mengatakan ini karena saya memperhatikan satu kecenderungan di dalam diri Anda untuk berbicara tentang masalah dan bukannya menyerahkan diri Anda kepada Tuhan dan menyerahkan segala sesuatu kepada Dia. Secara jasmaniah dan rohaniah adalah lebih bijaksana jika kita dengan tenang menempatkan segala sesuatu ke dalam tangan Tuhan.
Anda tidak dapat mengubah manusia dari menjadi manusia. Manusia akan tetap lemah, sombong, tidak dapat diandalkan, tidak adil, munafik dan arogan. Dunia tetap akan duniawi. Dan Anda tidak dapat mengubahnya. Manusia akan selalu menuruti kecenderungan hati dan kebiasaannya. Dan karena Anda tidak dapat mengubah kepribadian mereka, tindakan yang paling bijaksana adalah untuk membiarkan saja mereka dan berusaha untuk menerima apa adanya. Janganlan mengizinkan diri Anda menjadi resah dan bingung saat Anda melihat orang bertindak tidak adil dan tidak wajar. Beristirahatlah di dalam pelukan Tuhan. Ia melihat semuanya lebih jelas dari Anda, namun Ia mengizinkannya. Jadi, lakukanlah apa yang Anda rasa Anda harus lakukan, dengan tenang dan diam dan janganlah khawatir tentang hal-hal yang lain.
(Fenelon, atau nama penuhnya Francois de Salignac de La Mothe Fenelon, adalah Uskup Agung Cambrai di Perancis pada abad ke-17. Renungan singkat di atas diambil dari koleksi surat-suratnya)

Minggu, 19 Oktober 2014

Menggerakkan Orang Lewat Doa ( by Hudson Taylor )

 
Filsafat hidup Hudson Taylor adalah "Kita harus menggerakkan orang lewat Allah - yaitu dengan doa." Hudson Taylor adalah pendiri China Inland Mission yang sekarang disebut Overseas Mission Fellowship (OMF). Sewaktu ia masih muda ia mendengar suara dari Surga, "Pergilah ke Cina untuk-Ku." Sejak awal Taylor sadar bahwa panggilan yang sulit itu akan tergenapi hanya jika Allah yang bekerja lewat doa. Sepanjang hidupnya ia telah dengan baik dan berhasil membuktikan filsafatnya yang berbunyi, "Hanya lewat doa segala hal dapat dilakukan."
Pada tahun 1851, tidak lama setelah menerima panggilan Tuhan, Taylor tahu ia harus mulai menyiapkan dirinya jika ia mau menjadi seorang misionaris ke Cina. Keluarganya tergolong kelas menengah dan ia tinggal bersama orang tua dan kedua adiknya di rumah yang cantik di kawasan perumahan yang bagus. Sebagai latihan sebelum ia mulai bekerja di ladang Tuhan, ia pindah ke daerah kumuh dan tinggal di antara orang-orang miskin. Ia mendapatkan pekerjaan di suatu klinik praktek yaitu sebagai seorang asisten dokter. Tujuan Taylor memisahkan diri dari kenyamanan hidup yang dijalani sebelumnya adalah agar ia dapat membiasakan diri dengan kesendirian dan bahaya yang muncul dari hidup di suatu tempat asing di mana hanya Tuhan yang akan menemaninya. Ia memilih pekerjaan sebagai asisten dokter karena ia tahu pengetahuan medis akan sangat membantunya di Cina nanti. Usianya baru 19 tahun pada waktu itu.
Melihat pada integritas rohani Taylor sejak awal perjalanannya dengan Tuhan, tidaklah mengherankan bahwa Tuhan dapat memakainya dengan begitu luar biasa. Pada malam hari setelah tugasnya selesai, Taylor seringkali meluangkan waktu untuk bersaksi dan berdoa bagi tetangganya. Suatu malam, ia diminta untuk mendoakan seorang wanita yang sedang sakit. Suasana rumah wanita itu sangatlah murung, karena bukan saja ibu itu sakit tetapi anak-anaknya juga sedang dalam keadaan kelaparan. Waktu Taylor berdoa, sulit sekali baginya untuk mengucapkan kata-kata penghiburan karena terjadi pergumulan yang berat di dalam hatinya. Di dalam kantongnya ia memiliki sekeping koin perak yang dapat menjawab doa dan penderitaan keluarga miskin itu. "Munafik!" suara hatinya mengutuk dia. "Berbicara tentang Bapa Surgawi yang baik dan pengasih - tetapi saya sendiri tidak siap untuk mempercayai-Nya - untuk memberikan segala sesuatu yang saya miliki dan hidup tanpa uang sepeser pun!" Selesai berdoa, Taylor mengikuti suara hatinya dan memberikan uang koin satu-satunya kepada keluarga tersebut. Sepulang ke kamarnya ia menikmati hidangannya yang terakhir - semangkok bubur yang sudah dingin. Dengan memberikan uangnya kepada keluarga miskin itu, ia menjadi sama miskinnya dengan mereka. Walaupun ia tidak tahu apa yang harus dimakannya besok, ia teringat akan satu ayat di Kitab Suci yang berkata, "Dia yang memberi kepada orang miskin, memberi kepada Tuhan."
Keesokan harinya tanpa diduga ia menerima kiriman paket. Di dalamnya terkandung sekeping uang emas - nilainya 4 kali lebih besar dari uang perak yang diberikannya di malam sebelumnya. Taylor langsung berseru, "Itu bunga yang tinggi sekali! Ha! Ha! Saya berinvestasi di bank Tuhan selama dua belas jam dan ia mengembalikan ini! Itulah namanya bank!"

Minggu, 05 Oktober 2014

Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

 
Tetapi jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa - Yakobus 2.9
Di suatu hari yang dingin di bulan Mei, saya sedang makan siang bersama dua teman di sebuah restoran kecil. Posisi kursi saya menghadap sebuah jendela besar. Sambil menikmati obrolan ringan saya melihat di seberang jalan ada seorang yang membawa sebuah papan dengan kata-kata "Aku akan bekerja untuk makanan". Pria gelandangan itu juga memanggul sebuah tas yang besar kemungkinan mengandung semua harta yang dimilikinya di dunia.
Kedua teman saya juga berhenti menyantap hidangan yang tadinya terasa enak dan bergabung dengan saya untuk mengamati sosok yang membuat kami merasa sedih dan sulit untuk percaya. Walaupun setelah itu kami melanjutkan makan siang kami tetapi gambaran tentang pria itu terus berputar di dalam pikiran saya. Selesai makan kami meninggalkan tempat itu dan melanjutkan dengan kegiatan masing-masing.
Ada beberapa hal yang perlu saya selesaikan di kota. Sepanjang siang itu saat saya berkeliling kota, dengan setengah hati saya melihat ke sepanjang jalanan mencari-cari pria asing itu. Tetapi saya juga khawatir jika saya bertemu dengan dia lagi, saya harus berbuat sesuatu.
Setelah selesai berbelanja beberapa barang di toko saya kembali ke mobil untuk pulang ke kantor. Tetapi jauh di lubuk hati saya, Roh Tuhan terus berbicara, "Jangan pulang dulu, setidaknya buatlah satu lagi putaran di lapangan kota." Jadi dengan hati yang sedikit berat saya mengarahkan mobil ke arah pusat kota sekali lagi.
Kali ini saya melihatnya. Ia sedang berdiri di tangga gereja, sedang membongkar isi tasnya. Saya berhenti dan memandang ke arahnya. Perasaan saya berkecamuk, ada dorongan untuk berbicara dengannya, namun di sisi lain, saya juga mau meneruskan perjalanan. Tempat parkir yang kosong di sudut jalan seolah-olah adalah semacam tanda dari Tuhan: undangan untuk memarkir kenderaan saya. Lalu saya memarkir dan mendekati pengunjung baru ke kota kecil ini.

Selasa, 30 September 2014

Dampak Pengampunan

 
Di dalam karya agung Victor Hugo, Les Miserables, terdapat kisah tentang dua tokoh, Uskup M.Myriel dan Jean Valjean.
Jean Valjean ditangkap polisi, dianiaya dan akhirnya dilempar ke dalam penjara hanya karena ia mencuri roti untuk memberi makan 7 keponakannya yang kelaparan. Akibat dari perlakuan yang tak berperi kemanusiaan selama bertahun-tahun ia berubah dari seorang yang lugu dan baik hati menjadi seorang yang berhati keras, penuh kebencian dan kepahitan. Hatinya sudah lama tidak lagi dapat merasa. Setelah 19 tahun di penjara, ia akhirnya dibebaskan. Surat keterangan dari penjara menggambarkan Valjean sebagai seorang penjahat yang sangat kejam dan berbahaya. Wajahnya saja sudah cukup membuat orang seram.
Selama empat hari ia berjalan dari satu kota ke kota yang lain tetapi tidak ada tempat penginapan yang mau menerimanya dan tidak ada tempat makan yang mau menjualnya makanan, sekalipun ia memiliki uang, hasil dari pekerjaannya di pertambangan penjara. Di suatu kota kecil, seorang wanita yang tidak mau menjual makanan kepadanya berkata bahwa hanya ada satu orang yang akan memberinya tumpangan, Uskup M.Myriel yang tidak pernah mengunci pintu rumahnya, apakah siang atau malam.
Sesuai dengan yang dikatakan, saat ia mendorong pintu rumah Uskup Myriel, pintu langsung terbuka dan ia melihat seorang pria tua bersama adiknya duduk di meja makan. Valjean langsung diundang untuk makan bersama dan disiapkan tempat tidur untuknya bermalam. Uskup di Perancis pada tahun-tahun 1800an mempunyai penghasilan yang cukup besar, sekitar £15,000, tetapi Uskup Myreil menyumbang £14,000 kepada orang-orang yang miskin dan hanya hidup dengan uang £1,000 per tahun. Motto hidupnya adalah, kita hidup bukan untuk melindungi nyawa kita tetapi untuk melindungi jiwa orang lain. Makanan yang disajikan tentunya sangat sederhana jadi Valjean tidak tahu bahwa ia sedang makan bersama seorang Uskup. Tetapi satu-satunya barang berharga di rumah Uskup tua itu adalah peralatan makan dan sepasang tempat lilin yang dibuat dari perak, yang merupakan harta warisan Uskup Myriel.

Selasa, 23 September 2014

Pengkotbah yang Populer? ( Pendeta Bob Chapman MA )

Pengkhotbah yang populer tidak pernah eksis di gereja mula-mula. Tidak ada catatan tentang pengkotbah-pengkhotbah di Perjanjian Baru dipuja, dikagumi, disembah dan disanjung oleh kaum religius atau pemerintah yang berkuasa. Malah yang terjadi adalah yang sebaliknya. Pemberitaan Injil menjengkelkan orang banyak khususnya kaum religius yang memanas-manasi pemerintah setempat untuk menganiaya dan membunuh mereka yang memberitakan Injil.
Jadi, kita bisa saja bertanya, apa yang keliru pada hari ini? Mengapa di kebanyakan negara di Barat (maupun di Timur), pengkhotbah dihormati, dipuja, dikagumi, diteladani, disembah, disanjung dan diterima baik oleh pihak otoritas?
Jawabannya sangat sederhana: Mereka tidak sedang memberitakan pesan yang paling ofensif yang pernah didengar dunia - yakni Injil!
Injil itu ofensif karena pesan itu sengaja disampaikan untuk memotong sampai ke lubuk hati; bukan untuk menyenangkan hati. Tujuan pemberitaan Injil adalah untuk mengungkapkan dosa, bukan untuk menolerir dosa. Tujuannya adalah untuk memerintahkan pertobatan, bukan hanya penyesalan. (Kis. 17.30).
Tujuan pemberitaan Injil adalah untuk mengutuk gaya hidup yang popular, bukan membenarkannya. Maksud pemberitaan Injil adalah untuk mengumumkan pemerintahan Anak Allah satu-satunya!
Akhir dari Injil yang sejati adalah maut! Mati kepada semua yang popular! Mati kepada semua yang nyaman! Mati kepada semua yang gampang dan mati kepada semua yang aman! Jika kematian sedemikian tidak muncul dari pemberitaan Injil, maka satu-satunya kesimpulan adalah pembawa berita itu harus diteliti bukan pesan itu sendiri.
Saya yakin, sudah sesungguhnya waktu bagi kita untuk melihat dengan seksama para pembawa pesan ini. Apakah kita sedang memberitakan Injil yang diberitakan oleh para rasul atau yang diberitakan itu justru hanyalah sesuatu yang kedengarannya seperti Injil!
Apakah pesan yang diberitakan itu menghasilkan pertobatan? Apakah pesan yang kita beritakan itu mengubah kehidupan atau hanya mengiringi gaya hidup kita yang sudah sedia ada sekarang ini? Apakah pesan yang kita beritakan itu menantang atau hanya menggelitik telinga kita? Apakah pesan yang kita beritakan itu menyinggung atau dirancang untuk menyenangkan?
Waspadalah terhadap pengkhotbah yang disanjung dan dipuja terutamanya oleh orang-orang yang hidupnya tidak sesuai dengan Injil!

Selasa, 16 September 2014

Budaya Barat, Timur atau "Budaya" Tuhan?

 
Baru-baru ini di New York Times, diberitakan tentang seorang ibu yang berusia 73 tahun yang ingin pindah untuk tinggal bersama anaknya karena tertarik dengan properti yang baru dibelinya. Si anak bersama pacarnya sangat keberatan karena ingin menikmati kehidupan mereka berdua sendirian. Tetapi setelah rapat keluarga si anak akhirnya menyetujui ibunya untuk pindah ke rumahnya tetapi dengan satu syarat. Sang ibu hanya diizinkan untuk tinggal bersama mereka ketika usianya mencapai 80 tahun, berarti ibunya harus menunggu 7 tahun lagi sebelum ia diperbolehkan untuk pindah ke kediamannya. Sementara itu, jika sang ibu yang sekarang tinggal sekitar 23 menit dari rumahnya, ingin mengunjunginya, sang ibu harus terlebih dahulu menelpon untuk meminta izin. Wah, saya tidak dapat bayangkan apa yang akan terjadi jikalau saya memberikan syarat-syarat ini kepada orang tua saya! Umur sudah 73 tahun tapi masih harus menunggu hingga 80 tahun! Dan harus menelpon dulu sebelum mampir. Saya kira sangat sulit bagi masyarakat timur menerima hal demikan tetapi sang ibu ini, kelihatannya menyambut baik syarat anaknya dan sudah agak senang karena anaknya mau menerimanya untuk tinggal bersama, sekalipun ia masih harus menunggu 7 tahun lagi.
Peristiwa di atas menunjukkan satu kontras yang sangat mencolok di antara budaya orang timur (Asia?) dengan budaya orang Barat. Jika dibuat satu survei tentang apakah perlakuan demikian dapat diterima, saya yakin hasilnya sangat berbeda tergantung di mana survei tersebut dijalankan. Rata-rata orang Asia akan menemukan hal demikian tidak dapat diterima dan persentase orang yang dapat menerima hal tersebut pasti lebih tinggi di kalangan masyarakat yang berbudaya "barat".
Sebagai seorang percaya, ada kalanya kita sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya dalam menilai suatu hal. Kalau tidak berhati-hati kita bisa saja "menghakimi" sesama orang percaya bukan berdasarkan standar dari Tuhan tetapi menurut tolok ukur budaya. Dalam menaati Alkitab sekalipun, kita harus dapat memilah apa yang merupakan prinsip (nomos) dari Tuhan dan apa yang merupakan budaya orang Yahudi. Ketidakmampuan untuk memilah di antara keduanya bisa saja membuat kita menaati apa yang sebetulnya hanya merupakan hal yang bersifat eksternal. Karena ini, apakah kita lebih mengagumi budaya barat, timur atau timur tengah, sebagai orang percaya, kita haruslah memastikan bahwa semua dasar pernilaian dan juga cara kita menjalani kehidupan kita didasarkan pada kitab pedoman hidup yang diberikan Tuhan bukan pada pengaruh budaya.

Selasa, 09 September 2014

Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan?

 
Steve Vaught, seorang pria berumur 40 tahun dengan berat badan 190 kg mengambil langkah drastik berjalan kaki sejauh 4500 km dari San Diego ke New York dengan harapan dapat menurunkan berat badannya. Perjalanan yang ditempuhnya mengambil waktu lebih dari satu tahun. Hal ini dilakukannya karena merasa tidak lagi dapat menikmati hidup karena badannya yang sudah terlalu gemuk. Untuk menyelesaikan perjalanan yang panjang dan melelahkan ini Steve harus membayar harga yang mahal.
Katanya, "Apa yang saya lakukan bukan tanpa pengorbanan. Saya dan keluarga saya tahu dan menerima itu. Saya hanya akan melihat istri dan anak-anak satu atau dua kali dalam waktu satu tahun ini. Kondisi keuangan saya juga tidak memungkinkan saya melakukan perjalanan ini, saya sudah menerima kenyataan bahwa saya akan kehilangan mobil dan properti saya. Hal-hal itu, bagaimanapun, sangat tidak berarti saat dibandingkan dengan jika saya tidak menempuh perjalanan ini. Saya bisa saja membeli mobil atau properti yang lain, tetapi saya tidak akan dapat membeli hidup yang lain. Satu-satunya hal yang paling berharga adalah hal yang tidak dapat dibeli dengan uang...yakni hidup."
Harga yang perlu dibayarnya ternyata lebih tinggi dari yang diperkirakannya. Istrinya, April, yang pada awalnya mendukung perjalanannya, akhirnya berubah pikiran dan menceraikan dia.
 
 
Walaupun harga yang harus dibayarnya begitu tinggi tetapi Steve tidak menyesal karena imbalan yang diperolehinya tidak membuat usahanya sia-sia. Katanya, "Saya telah menghabiskan 15 tahun menyesali masa lalu saya dan merasa takut memikirkan masa depan saya. Sekarang saya hidup buat waktu ini." Lima belas tahun yang lalu Steve merupakan seorang pria langsing yang tidak mempunyai masalah dengan berat badan. Tetapi ia mulai menjadikan makanan sebagai suatu bentuk pelarian setelah ia tanpa sengaja menabrak mati dua wanita tua saat mengemudi. Rasa bersalah yang menghantui nuraninya membuatnya berusaha menutupi rasa bersalah itu dengan mencari penghiburan dalam makanan.
Dan untuk merebut kembali hidupnya ia tahu ia harus keluar dari lingkaran setan itu. Jadi perjalanan ini bukan sekadar tentang penurunan berat badan tetapi lebih merupakan satu perjalanan untuk memurnikan jiwa dan raganya.
Langkah yang diambil oleh Steve memang sangat patut dipuji walaupun tetap saja ada yang mengkritik dia sebagai egois dan gagal bertanggungjawab terhadap keluarganya. Tetapi baginya perjalanan panjang ini harus dilakukannya untuk merebut kembali hidupnya. Katanya, "Saya mengorbankan waktu 1 tahun dari kehidupan saya sekarang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, lebih kurus, sehat dan sejahtera selama 30-40 tahun ke depan." Satu pertukaran yang memang pantas dilakukan.
Steve rela membayar harga yang cukup tinggi untuk memperoleh 30-40 tahun kehidupan yang lebih baik di dunia ini. Hal ini membuat saya berpikir, kira-kiranya apakah yang rela kita korbankan untuk mendapatkan hidup yang bahkan lebih dari 3000 - 4000 tahun?
Menurut pengamatan Thomas Kempis, penulis buku klasik Imitation of Christ, "Untuk imbalan kecil, manusia akan bergegas melakukan perjalanan yang panjang, tapi untuk hidup kekal, banyak yang enggan mengambil bahkan satu langkah pun."
Sejauh manakah sudah kita melangkah menuju hidup yang kekal?

Selasa, 02 September 2014

Sekilas Hikmat dari Billy Graham

Ungkapan hati orang yang menduga hidupnya akan segera berakhir sangatlah penting untuk diperhatikan. Karena itu merupakan seluruh isi hatinya. Kepalsuan dan kepura-puraan tidak lagi menjadi bagian dari kehidupannya karena ia tahu dengan segera ia harus berhadapan dengan Penciptanya.
Billy Graham, penginjil Barat yang paling terkenal di abad 20 baru-baru ini dalam satu wawancara dengan Newsweek berkata bahwa ia tidak lagi punya waktu yang lama di dunia ini. Dalam usianya yang menjangkau 87 tahun, ia sedang melewati tahun-tahun terakhir hidupnya. Pada saat-saat begini apa yang penting dan apa yang tidak penting menjadi sangat kentara baginya.
Katanya, "Sekarang lebih dari sebelumnya, saya meluangkan waktu membaca Alkitab dan berdoa bersama istri saya. Saya melihat setiap hari sebagai anugerah dari Tuhan, dan kita tidak boleh menganggap pasti anugerah itu. Semakin tua, semakin saya melihat pentingnya kekekalan bagi saya secara pribadi." Pada malam hari, Graham bersama isterinya banyak berbagi tentang apa yang menanti mereka di alam yang baru setelah mereka meninggalkan dunia ini. Katanya, "Saya banyak memikirkan tentang surga, saya memikirkan tentang kegagalan saya di waktu lampau, tetapi saya tahu semuanya telah ditutupi oleh darah Kristus, dan itu memberikan saya satu keyakinan yang besar.
Anak perempuannya, Anne berkata, "Semakin Anda menjadi tua, hal-hal sekunder menjadi tidak penting dan luput dari ingatan. Hal yang utama sekali lagi menjadi hal yang terutama - bagi ayah, hal yang terutama adalah Yesus, mengasihi Tuhan secara total, dan mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri." Hal yang dikutip Anne tentang ayahnya juga merupakan Shema atau dua perintah terutama yang menyimpulkan seluruh Kitab Suci, "Mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan mengasihi sesama-mu manusia seperti diri-mu sendiri." (Kitab Injil Matius pasal 22, ayat-ayat 37-39)
Saat ditanya jika ia diberi kesempatan untuk memulai hidupnya sekali lagi, apakah yang akan ia lakukan, Graham menjawab, "Saya akan meluangkan lebih banyak waktu menyelami Kitab Suci dan teologi. Penyesalan saya yang terutama adalah saya tidak memberikan perhatian yang lebih kepada studi dan pembacaan. Saya menyesalinya karena saya merasa saya bisa lebih "penuh" jika saya lebih mengenal Kitab Suci. Saya mempunyai teman yang dapat menghafal sebagian besar dari ayat-ayat di Kitab Suci, dan itu sangat berarti bagi saya sekarang." (Baginya hal itu penting karena Graham merasakan sudah mulai kehilangan daya ingatnya.)

Jumat, 15 Agustus 2014

Apakah gereja benar-benar perlu bagi orang Kristen?

Saya besar di dalam lingkungan gereja dengan ajaran fundamentalisme yang sangat keras. Pada waktu saya ke luar untuk merasakan luasnya dunia, saya menolak lingkungan legalistik dari masa kanak-kanak saya. Tiba-tiba kata-kata yang dipakai gereja terdengar seperti tipuan belaka. Mereka berbicara tentang anugerah tetapi sesungguhnya mereka hidup dengan hukum, mereka berbicara tentang kasih tetapi sesungguhnya mereka memperlihatkan tanda-tanda kebencian. Sayangnya, ketika saya keluar dari fundamentalisme bagian Selatan Amerika Serikat tersebut, saya tidak hanya menyingkirkan kemunafikannya tetapi juga tubuh gereja (body of believers).
Pertanyaan yang muncul adalah apakah gereja benar-benar perlu bagi orang Kristen yang sudah percaya? Saya rasa saya tidak sendirian mempertanyakan hal ini. Jauh lebih sedikit orang yang pergi ke gereja di hari Minggu daripada orang yang mengklaim dirinya menjadi pengikut Kristus.
Beberapa orang mempunyai cerita yang sama dengan saya; mereka kecewa atau malah mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan dari gereja mereka. Beberapa orang dengan sederhananya berkata bahwa mereka, "tidak mendapatkan apa-apa dari gereja." Mengikut Yesus adalah satu hal; mengikut orang Kristen lainnya di dalam kebaktian di Minggu pagi adalah hal yang lain.
Setelah saya merenungkan perjalanan ziarah saya, saya bisa menemukan beberapa penghalang yang menjauhkan saya dari gereja. Pertama adalah kemunafikan. Seorang filsuf atheis, Friedrich Nietzche sekali waktu pernah ditanya, apakah yang membuat dirinya berpikiran sangat negatif terhadap orang Kristen. Dia menjawab, "Saya akan percaya pada jalan keselamatan mereka, apabila mereka sedikit lebih terlihat seperti orang yang sudah diselamatkan."
Pada masa kanak-kanak saya, karena ditakuti dengan fundamentalisme yang kuat, saya mendekati gereja dengan sangat berhati-hati. Setiap Minggu pagi, orang-orang Kristen berpakaian rapi dan tersenyum satu sama lainnya, tetapi saya tahu dari pengalaman pribadi saya bahwa wajah-wajah itu menyelubungi hati yang licik. Saya memberikan reaksi yang sangat keras terhadap kemunafikan yang semacam itu sampai satu waktu, satu pertanyaan muncul, "Apakah yang akan terjadi dengan gereja jika setiap anggota jemaatnya seperti saya?"
Dengan rendah hati, saya mulai berkonsentrasi dengan spiritualitas saya sendiri, bukan dengan orang lain.
Pada akhirnya saya berpikir bahwa Tuhan sendiri yang akan menghakimi kemunafikan yang ada di dalam gereja: saya tinggalkan penilaian tersebut di dalam tangan Tuhan yang cakap. Saya mulai merasa santai dan bertumbuh dengan mulus, lebih dapat mengampuni orang lain. Bagaimanapun juga, siapakah yang pernah mempunyai istri yang sempurna, atau orangtua yang sempurna, atau anak-anak yang sempurna? Kita tidak dapat memutuskan ikatan keluarga hanya karena ketidaksempurnaan. Lalu, mengapa harus berputus asa terhadap gereja?
Saya menikmati kelompok kecil di mana orang-orang berbicara mengenai kehidupannya, berdiskusi tentang iman, dan berdoa bersama-sama. Dalam kebaktian gereja formal, berbagai rutinitas, pengulangan-pengulangan, warta jemaat, pengumunan, dan acara duduk dan berdiri itu memang bisa sangat mengganggu. Saya tertolong ketika saya membaca tulisan yang ditulis oleh C. S Lewis dan orang Kristen lainnya yang berharap untuk memuji Tuhan tetapi merasakan gereja hanyalah sebagai penghambat daripada penolong. Contohnya Anne Dillard, pemenang Pulitzer Prize pernah menggambarkan gereja seperti ini,

Jumat, 08 Agustus 2014

Allah menanggapi Anda dengan serius

Orang-orang menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan dengan berbagai alasan. Ada yang dengan harapan untuk memperoleh kesembuhan jasmani, ada pula yang mengejar kesembuhan rohani; sebagian lagi karena mencari damai sejahtera dan pengampunan. Apapun niat kita, Allah bertindak mencukupi kebutuhan kita. Memang, Tuhan menyatakan diriNya kepada manusia sebagai jawaban surgawi atas kebutuhan kita. Dia adalah 'Bapa bagi mereka yang tidak berbapa dan Hakim bagi para janda.' Dia bahkan membuat 'rumah bagi mereka yang kesepian', dan membimbing 'para tawanan keluar menuju kesejahteraan' (Mazmur 68:5-6)
Allah memakai kebutuhan kita untuk membawa kita kepada Dia. Akan tetapi, kesadaran kita akan kebutuhan kita itu bisa membuat kita mempersempit pengungkapan Allah dalam hidup kita, membatasi aktifitasNya dalam kehidupan kita - hanya sebatas area pergumulan hidup jasmani kita. Oleh karenanya, banyak orang Kristen yang tak pernah bangun dari tidur rohani mereka, tak bisa bangun menanggapi panggilan Allah - yakni mencapai keserupaan dengan Kristus. Kita telah diampuni, disembuhkan dan diberkati, akan tetapi kita mengalami kemacetan dalam pertumbuhan rohani kita.
Walau begitu, Roh Allah tetapi berkomitan pada transformasi pribadi kita. Saat kita sudah secara rohani terbangun dan menyadari visi keserupaan dengan Kristus, maka wujud perhatian Allah akan tertuju pada kita melalui cara-cara yang sangat unik dan kuat. Ada dua hal yang akan terjadi: pertama, kita akan dibantu pewahyuan saat mempelajari Kitab Suci; Allah akan berbicara kepada kita lewat cara-cara yang lebih mendalam saat kita memahami arti keberadaan kita.
Realitas kedua yang akan terungkap adalah: hidup kita akan mulai menghadapi tantangan-tantangan yang semakin lama semakin besar. Anda lihat, kita selama ini mengira bahwa sekadar memiliki hasrat yang tulus untuk menjadi serupa dengan Yesus adalah suatu pencapaian yang penting, hal ini memang ada benarnya. Akan tetapi, hal tersebut baru merupakan titik awal saja. Jika kita serius mau menjalani transformasi atau perubahan itu, maka Allah juga akan menanggapinya dengan serius. Dia akan menaruh kita dalam situasi-situasi yang dirancang untuk mematikan watak lama kita, dan seringkali memaksa kita untuk meniru Kristus agar kita bisa bertahan melewati peperangan tersebut.
Coba Anda pikirkan tentang para pahlawan yang Anda temukan dalam Alkitab: masing-masing menghadapi konflik yang besar sebelum mereka bisa mencapai tingkatan rohani tertentu, dan mereka ini sering mengalami konflik yang lebih besar sebelum mencapai tataran puncak. Coba Anda renungkan hal-hal yang harus diatasi oleh Daud sebelum dia menjadi raja. Allah tidak main-main di dalam menguji watak kita. TujuanNya adalah mewujudkan hidup Yesus di dalam diri kita.
Pikirkanlah hal-hal yang harus dihadapi oleh Yesus di sungai Yordan. Pertama, dia dipenuhi oleh Roh Kudus. Kita akan berpikir bahwa setelah dipenuhi oleh Roh Kudus, maka Kristus akan segera menjalankan pelayanannya. Akan tetapi, dia justru dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun. Mengapa? Alkitab berkata, "Untuk dicobai oleh iblis." Selama 40 hari Yesus berpuasa dan berdoa. Di akhir masa puasa ini, kita mungkin mengira akan terjadi suatu terobosan rohani yang luar biasa, namun yang terjadi justru sebaliknya. Sosok supranatural yang pertama menemui Yesus setelah masa puasanya berakhir bukanlah Allah, tetapi iblis.

Selasa, 08 Juli 2014

Mengapa Kita Berdoa Sebelum Makan?

 
Perjamuan terakhir yang dibagikan oleh Yesus bersama murid-murid-Nya adalah perjamuan Paskah. Walaupun sebagian pakar Perjanjian Baru mempertanyakan hal ini, bukti-bukti yang terdapat di dalam Matius, Markus dan Lukas sangatlah meyakinkan.
Sebagai contoh, perhatikan bahwa ketiga Injil sinoptik memakai sebuah istilah Ibrani yang lazim ditemukan dalam literatur rabi-rabi Yahudi kuno: "eat the Passover" (Mat 26:17; Mar. 14:12; Luk. 22:11), yang merupakan istilah yang mengacu pada Jamuan Paskah (Seder), di mana jamuan tersebut mencakup acara makan domba Paskah, "Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita" (Luk 22:14).
Pada perjamuan tersebut, Yesus menyampaikan ucapan yang nantinya dibakukan di dalam lingkungan umat Kristen:
"Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat ke atasnya, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata, "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." (Mat 26:26)
Ada tiga pertanyaan penting yang bisa diajukan dari kutipan ayat ini:
1. Apa dasar alkitabiah bagi tindakan Yesus yang mengucapkan doa berkat sebelum makan?
2. Mengapa kata it (nya) dicetak miring dalam terjemahan versi King James?
3. Apa pengaruh peristiwa ini terhadap kebiasaan umat Kristen yang berdoa sebelum makan?
Pertama, jika kita telusuri Alkitab yang dipakai di zaman Yesus (yakni Perjanjian Lama berbahasa Ibrani), kita tidak akan menemukan satupun perintah untuk berdoa sebelum makan. Rujukan yang paling mendekati adalah yang terdapat di dalam Ulangan 8:10: "Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu".

Jumat, 14 Februari 2014

Menjadi Kekasih Kristus


2 Korintus 11:2-4

Menyambut Hari Kasih Sayang atau yang biasa disebut Hari Valentine.

Tahukah bahwa Saudara adalah kekasihNya Kristus! Inilah yang disampaikan rasul Paulus kepada jemaat Korintus dan kepada kita yang juga jemaat Kristus! Bukan hanya kekasih, tetapi ‘tunangan’ dari Kristus, Tuhan kita! Hubungan kasih yang jauh lebih serius dari sekedar kekasih bukan? Alkitab menunjukkan bahwa budaya Yahudi sungguh menghargai pertunangan sehingga yang bertunangan disebut sebagai “suami-isteri” sekalipun belum boleh berhubungan suami isteri (Lihat pertunangan Yusuf dan Maria yang menyebutkan mereka sebagai suami isteri - Matius 1:18-19). Bahkan untuk memutuskan pertunangan, seorang tunangan harus menceraikannya. Jadi hubungan ini sangat serius. Ya, kita sudah dipertunangkan kepada Kristus! Kapan? Paulus menjelaskan bahwa dirinya telah mempertunangkan jemaat Korintus dengan Kristus. Artinya, mengenalkan dan ‘membuat’ jemaat Korintus memiliki hubungan kasih dengan Kristus. Dengan demikian, jelas bagi kita bahwa saat kita percaya dan menerima Kristus Yesus, Tuhan kita sebagai Juruselamat pribadi kita, maka saat itulah kita dipertunangkan dengan Kristus. Satu hal lagi yang ingin Saya bagikan, yaitu pertunangan kita dengan Kristus bukan tanpa mas kawin. Seperti adat Yahudi, maka Kristus-pun telah membayar mas kawin untuk bertunangan dengan jemaatNya. Tertulis dalam Efesus 5:25-27 bahwa Kristus telah membayar mas kawinnya dengan menyerahkan diriNya tersalib sehingga kita beroleh keselamatan. Sudahkah Saudara menjadi tunangan Kristus? Jika belum, percaya dan terimaTuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat Saudara! Bagi kita yang telah menerima Dia menjadi Tuhan dan Juruselamat, ketahuilah, Saudara adalah tunanganNya! Percayalah!


INDAHNYA MENJADI KEKASIH KRISTUS

Menjadi kekasih Kristus Yesus, luar biasa bukan? Ya, sangat luar biasa jika kita memiliki hubungan yang demikian dekat dengan Dia, bahkan sangat dekat, sebagai kekasihNya, tunanganNya! Bagaimana tidak? Siapakah Kristus? Rasul Paulus menyatakan bahwa Dia adalah Allah. Kristus setara dengan BapaNya. Lihat saja dalam 2 Korintus 13:13, Paulus menyatakan kesetaraan Tuhan Yesus Kristus dengan Allah Bapa! Jadi, kita adalah tunangan dari Allah sendiri, Allah yang maha segalanya. Luar biasa bukan? Kristus adalah Tuhan yang mengasihi kita. Dia menjadi miskin supaya kita diperkaya. Dia yang benar, menjadi berdosa supaya kita dibenarkanNya dari dosa. Bukankah ini menyatakan kasihNya yang luar biasa bagi kita? Bukan itu saja, Kristus adalah Tuhan sumber penghiburan dan kekuatan (2 Korintus 1:3, 5). Bayangkan kekasih kita adalah Allah yang maha segalanya, mengasihi kita dan sumber penghiburan! Lalu, mengapa kita takut, penuh kekuatiran dan merasa sendiri dalam mengarungi hidup ini? Kita tidak pernah sendiri, sebab Kekasih kita, tunangan kita selalu ada karena Dia Allah! Dia begitu mengasihi kita.


HIDUP SEBAGAI KEKASIH KRISTUS

Saya bersyukur bila Saudara menyadari bahwa Saudara adalah kekasih, tunangan Kristus. Namun apakah kita hidup sebagai tunanganNya? Rasul Paulus ‘cemburu’ dan kuatir kalau-kalau jemaat tidak hidup sebagai kekasih atau tunangan Kristus! Bagaimana hidup sebagai seorang kekasih? Pertama, seorang kekasih akan selalu rindu dekat dengan pujaan hatinya, bukan yang lain. Adakah Saudara rindu dekat dengan Kristus,Tuhan kita? Tuhan Yesus adalah kekasih yang terus rindu dekat dengan kekasihNya. Rindukah Saudara bertemu dengan Kristus dalam ibadah, dalam doa, dalam membaca dan merenungkan Alkitab, surat cintaNya? Saya berdoa agar kita selalu rindu akan Kristus, tunangan kita seperti Dia rindu dekat dengan kita! Kedua, kekasih atau lebih tepat tunangan akan menjaga kesetiaannya kepada pasangannya yang begitu mengasihi dirinya. Paulus kuatir kalau-kalau jemaat disesatkan dari kesetiaannya yang sejati dari Sang Kekasih, Kristus Yesus (ayat 3). Apakah kita tetap setia pada Kristus, Kekasih kita? Paulus kuatir karena memang ada godaan dari si jahat untuk menggodai kekasih-kekasih Kristus supaya berpaling dariNya. Godaan pertama yang disebutnya adalah ajaran sesat, entah tentang Kristus yang lain, roh yang lain maupun injil yang lain (ayat 4). Awas, pengajaran sesat di mana-mana dan menggodai kita untuk berpaling dari Kristus, kekasih kita. Tetapi bukan hanya ini, Paulus menunjuk kepada seluruh godaan Iblis yang pernah terjadi pada Hawa di taman Eden (ayat 3 band. Kejadian 3:1-6). Bukankah ada banyak godaan lain yang Iblis gunakan supaya kita tidak setia kepada kekasih kita? Berkat dan segala yang baik seringkali menggodai kita untuk berpaling dari Kristus? Atau dosa dengan segala kenikmatan duniawinya yang mencoba merampas kasih kita? Ya, diam-diam kita begitu mencintai dosa dan dengan demikian kita menduakan Kristus. Seperti di Perjanjian Lama, setiap doa dan penyembahan berhala adalah dosa perzinahan (baca: p[erselingkuhan) rohani. Masih ada lagi, yakni pergumulan hidup. Betapa sering kekasih-kekasih Kristus justru tidak setia dan bahkan meninggalkan Kristus karena pergumulan atau karena belum mendapat pertolongan. Mari kita menjadi kekasih Kristus yang benar-benar kekasihNya, selalu rindu dekat Dia dan selalu setia kepada kekasih kita. Dan lihatlah betapa indahnya hidup dan berjalan bersama kekasih kita, Kristus Yesus, Tuhan kita. Amin.

Pdt. Lukas Widiyanto, S.Th